Posts Tagged ‘febrie hastiyanto’

Malam Pertama

Mei 8, 2011

ANAK muda itu membetulkan posisi duduknya. Ia menatap saya dengan kesopanan yang terjaga. Vitalitas memancar dari matanya. Namun saya tahu betul ia sedang berdamai dengan gejolak di hatinya. Pastilah kini ia sedang grogi. Saya tahu. Karena dulu bukankah saya pernah muda juga dan mengalami situasi seperti ini? Baca entri selengkapnya »

Iklan

Untung Ada -Nya

April 20, 2011

Dalam bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang saya tumpangi dalam perjalanan mudik ke Lampung, saya berkenalan dengan seseorang yang duduk di sebelah saya. Kami berkenalan, kemudian bercerita banyak hal, mengisi waktu perjalanan yang mulai menjemukan. Mungkin karena merasa telah akrab, kenalan baru saya itu bertanya: rumahnya di mana mas? Saya tertegun sejenak, meskipun mengerti maksudnya. Baca entri selengkapnya »

Merumuskan Keistimewaan DIY

Januari 16, 2011

Saya percaya, akhir dari ontran-ontran polemik keistimewaan Yogyakarta hari-hari belakangan ini akan happy ending. Betapa tidak, Sidang Rakyat Yogyakarta yang digelar di Malioboro, termasuk Sidang Paripurna Istimewa DPRD Yogyakarta hingga belasan demonstrasi yang intinya mendukung penetapan Sultan dan Pakualam masing-masing sebagai gubernur dan wakil gubernur telah menjadi garansi demikian kuatnya aspirasi masyarakat Yogyakarta. Sangat riskan dan membutuhkan biaya sosial dan politik yang tinggi untuk menolak amanat publik ini. Sehingga, akhir dari polemik ini dapat ditebak: DPR dan Pemerintah (Pusat) akan mendukung penetapan Sultan dan Pakualam, untuk argumentasi-argumentasi populis. Baca entri selengkapnya »

Kongres Forum Gunung Slamet

November 2, 2010

Satu pagi yang basah di bulan Ramadhan. Tak kurang 100 aktivis mewakili LSM, Perguruan Tinggi, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Paguyuban Kepala Desa, SAR, PMI, Pramuka, Orari, hingga delegasi Pemerintah Kabupaten Brebes, Banyumas, Pemalang, Purbalingga dan Tegal dari rupa-rupa instansi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kesbangpolinmas, Bappeda, DPU, Dinas ESDM, hingga Dinas Tanbunhut menggelar Kongres Forum (Gunung) Slamet untuk pertama kalinya. Gunung Slamet (3.432 mdpl) yang memayungi lima kabupaten ini memiliki ancaman erupsi yang laten dan permanen sebab status Slamet sebagai gunung api aktif. Sedikitnya 46 desa berada pada kawasan terdampak ancaman bencana erupsi Gunung Slamet. Baca entri selengkapnya »

(Bukan) Bangsa Gagap Bencana

September 7, 2010

Realitas bahwa bangsa Indonesia hidup di kawasan yang rawan bencana sudah menjadi kesadaran banyak pihak. Tanah air kita misalnya, berada pada kawasan dengan pergerakan lempeng tektonik aktif sebab pertemuan lempeng Eurasia, Australia dan lempeng dasar Samudera Pasifik yang mengakibatkan wilayah Pantai Barat Sumatera hingga Pantai Selatan Jawa sebagai jalur gempa bumi, rangkaian gunung api aktif serta zona rawan bencana tanah longsor. Baca entri selengkapnya »

Tegal Gotong Royong dan Program Pertiwi

Agustus 5, 2010

Idiom Pertiwi alias Pertanian, Industri dan Pariwisata tentu merupakan retorika yang dikenal luas oleh publik di Kabupaten Tegal. Pertiwi merupakan prioritas pembangunan yang diintroduksikan pada masa kepemimpinan Bupati Tegal Drs. Soediharto (1999-2004). Pertiwi dilembagakan secara konstitusional dalam Perda No. 1 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Daerah (Renstrada) yang berlaku selama lima tahun. Baca entri selengkapnya »

DAU, DAK dan ‘Dana Aspirasi’

Juni 29, 2010

Meski pada awalnya telah ditolak tujuh dari sembilan fraksi di DPR namun Selasa (16/6) Badan Anggaran DPR secara resmi mengusulkan Dana Aspirasi untuk masuk dalam APBN 2011. Dana aspirasi yang digulirkan Fraksi Partai Golkar ini diusulkan dengan nomenklatur Program Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah melalui Kebijakan Pembangunan Kewilayahan yang Berbasis kepada Daerah Pemilihan. Meski telah diusulkan secara resmi, Program Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah ini belum mematok angka Rp. 15 Milyar per Daerah pemilihan atau Rp. 1 Milyar per desa seperti usulan Fraksi Partai Golkar. Mekanisme yang agaknya tetap digunakan adalah mekanisme pembelanjaan alokasi ini oleh pemerintah pusat maupun daerah, dalam hal ini alokasi tersebut menjadi bagian integral APBN maupun APBD yang kemudian dilaksanakan dalam program dan Kegiatan oleh Satuan Kerja (Satker) Pemerintah. Baca entri selengkapnya »

Membangun Identitas Slawi

Juni 25, 2010

Keberadaan Kota Slawi (dan Kabupaten Tegal) masih berada dalam bayang-bayang Kota Tegal. Bagi publik di luar Slawi sering terbolak-balik mempersepsikan keberadaan Kota dan Kabupaten Tegal. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Kota Slawi merupakan daerah satelit Kota Tegal. Kondisi yang telah berlangsung lama ini tentu saja tidak strategis bagi Kota Slawi untuk mewujudkannya menjadi kota mandiri. Perlu ada upaya terencana dan terstruktur untuk membangun identitas kota sebagai entry point kemandirian kota. Baca entri selengkapnya »

Arah Pembangunan Tegal

Juni 25, 2010

Problem dan kebutuhan suatu daerah demikian kompleks. Karena itu, untuk mengurai kompleksitas disusun prioritas-prioritas. Demikian halnya dalam kebijakan pembangunan, seringkali prioritas-prioritas ini selain diundangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) atau termuat dalam Rencana Strategis Daerah (Renstrada) juga dilembagakan dalam berbagai sesanti (slogan). Di Kabupaten Tegal selama ini kita mengenal berbagai slogan pembangunan. Sebut saja Tri Sanja (Tri Landasan Kerja), Gerbang Desa Manunggal (Gerakan Membangun Desa Manunggal), Slawi Ayu, Pertiwi (Pertanian, Industri, dan Pariwisata) serta Mbetahi lan Ngangeni. Namun celakanya, hampir setiap pemimpin daerah merasa perlu untuk membuat prioritas pembangunan baru yang segera setelah periode kepemimpinannya berakhir, berakhir pula komitmen dan kampanye pemerintah daerah terhadap prioritas pembangunan yang telah ada. Ditandai dengan introduksi prioritas program dan slogan pembangunan baru. Baca entri selengkapnya »

Gerakan Mahasiswa Tegal

Juni 25, 2010

Gerakan mahasiswa biasanya berbasis pada kampus-kampus negeri—maksudnya universitas yang ujian masuknya dilakukan secara nasional lewat SPMB—seperti di kota Solo, Yogya, Semarang atau Purwokerto. Namun, beberapa kota yang tidak memiliki kampus negeri semisal Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan gerakan mahasiswanya pun terlihat dinamis. Ditandai dengan kritisisme dan greget gerakan mahasiswanya dalam mengawal wacana lokal maupun nasional. Setidaknya dapat dilihat dari berita-berita di media massa yang kita baca. Namun, hal yang sama tidak terjadi di Tegal. Seperti halnya Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan, Tegal tidak memiliki kampus negeri namun memiliki kampus-kampus swasta yang besar. Universitas Panca Sakti Tegal atau STAI IBN Slawi misalnya, dapat disejajarkan dengan Universitas Muria Kudus, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Tidar Magelang, atau Universitas Pekalongan. Bila kondisi, latar belakang dan karakteristik kota relatif sama, mengapa gerakan mahasiswa secara relatif tidak lahir di Tegal? Baca entri selengkapnya »