Strategi Kebudayaan dan Multikulturalitas

November 16, 2015

Telah menjadi realitas sejarah bahwa bangsa kita, Indonesia berdiri di atas lansekap keberagaman. Etnis, agama, kelompok kepentingan yang ada berbeda sekaligus banyak jumlahnya. Sejak lama pula kita merumuskan dan menerapkan strategi kebudayaan memaknai keberagaman yang ada. Secara sosiologis, tak dapat dihindarkan sentimen-sentimen in group dan out group; orang “sini” dan orang “sana.” Pada mulanya, politik kebudayaan cenderung ingin mengelompokkan orang sana” menjadi orang “kita.” Sejarah pembentukan nasion banyak bangsa seringkali diwarnai oleh politik aneksasi. Strategi kebudayaan ini dapat disebut sebagai etnosentrisme (Nurdaya, 2012). Padahal hampir pasti setiap kebudayaan selalu ingin independen, selalu ingin mengaktualisasikan dirinya sendiri, serta selalu menolak menjadi orang lain. Konflik kemudian menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Perasaaan-perasaan identitas yang berlebihan cenderung memicu peniadaan identitas lain. Genosida-genosida atas nama etnis, agama, atau ideologi mewarnai perjalanan peradaban manusia. Sudah tentu kita tak ingin mengulangi dampak terburuk perasaan identitas yang berlebihan ini. Strategi kebudayaan alternatif, sebagai antitesis etnosentrisme kemudian disusun dan coba diamalkan. Bentuknya paling tidak ada dua: integrasi budaya (melting pot, cawan peleburan) dan pluralisme atau multikulturalisme (Nurdaya, 2012). Baca entri selengkapnya »


Politik, Etika dan Demonstran

November 2, 2015

Demonstrasi seringkali digunakan sebagai taktik dalam perjuangan. Kehadirannya tak jarang ditunggu dan sebagian yang lain memberi catatan: demonstrasi dilakukan secara tidak anarkhis. Kita tak hendak meributkan definisi anarkhi sebagai ideologi nirnegara. Anggap saja kita setuju istilah anarkhi digunakan untuk menggambarkan kondisi chaos, rusuh alias rusak-rusakan. Pertanyaannya kemudian sungguh menggelitik saya: mengapa demonstran masih menggunakan pola-pola aksi yang berpotensi bahkan terkesan sengaja dilakukan secara anarkhis? Baca entri selengkapnya »


Target Kinerja Pelayanan Publik

April 24, 2015

Salah satu patologi pembangunan di tanah air adalah perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang tidak terukur. Negara memiliki sejumlah amanat yang diatur oleh konsitusi. Pada saat yang bersamaan negara telah sibuk dan menguras energi melakukan banyak hal. Namun ketika dievaluasi, seringkali korelasi pelaksanaan pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak berbanding lurus dengan pemenuhan amanat konstitusi. Negara dianggap oleh sebagian publik asyik dengan dirinya sendiri, sementara amanat konstitusi yang direpresentasikan dalam target kinerja pemerintah (daerah) selesai menjadi angka-angka statistik belaka. Baca entri selengkapnya »


Situs Semedo sebagai Museum dan Pusat Studi Teori Kreasionisme

April 21, 2015

Situs Semedo terletak di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal. Sejak tahun 1990-an masyarakat Semedo telah menemukan fosil-fosil hewan purba. Namun baru pada tahun 2005 masyarakat melaporkan kepada LSM dan pemerintah kabupaten yang kemudian diteruskan ke Balai Arkeologi Yogyakarta. Sejak 2005 pula inventarisasi keberadaan fosil mulai serius dilakukan. Saat ini paling tidak terdapat 2.947 fosil yang keberadaannya ditengara berasal dari peradaban 1,5 juta tahun lalu. Tahun 2007 mulai ditemukan peralatan hidup manusia purba, yang kini telah terkumpul hingga 300 artefak. Penemuan peralatan hidup manusia purba semakin membuka kemungkinan bahwa di Semedo pernah ada peradaban manusia purba. Penantian dan pencarian itu berujung pada Mei 2011, saat ditemukan fosil yang oleh penelitian Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dinyatakan sebagai fosil Homo Erectus. Fosil ini diberi nama Semedo 1. Baca entri selengkapnya »


Pendekatan Sistem Inovasi Daerah dalam RPJMD

April 21, 2015

Abstraksi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah—selanjutnya disebut RPJMD—secara sederhana dapat disebut sebagai panduan pembangunan bagi daerah dalam kurun waktu lima tahun. Sebagai panduan sesungguhnya RPJMD tidak sekedar memuat rencana pembangunan, namun hakikatnya RPJMD merupakan amanat pembangunan yang harus dilaksanakan oleh seluruh elemen di daerah, utamanya pemerintah daerah. Sebagai rencana sekaligus amanat pembangunan RPJMD membutuhkan alat (tool) untuk mengimplementasikan cita daerah tersebut secara terstruktur dan terkendali. Salah satu alat bantu tersebut adalah Sistem Inovasi Daerah yang diadopsi RPJMD Kabupaten Tegal tahun 2014-2019. Baca entri selengkapnya »


Belajar dari Model Gerakan Kelas Menengah

Januari 14, 2015

Meskipun sering dijadikan kajian di bidang ilmu sosial, sesungguhnya definisi kelas menengah masih sering diperdebatkan, meliputi pertanyaan pokok: siapa saja yang tergolong kelas menengah di tanah air dan terutama bagaimana karakteristik peran dan partisipasi politik kelas menengah. Pada masa orde baru, kelas menengah kerap diasosiasikan sebagai kelas ekonomi, yang kemudian kita kenal sebagai “kelas ekonomi menengah ke atas.” Berbarengan dengan itu, lahir pula deskripsi kelas menengah menurut kategori lapis usia (kohort), yakni sebagai kelompok kaum muda berusia di bawah 50 tahun. Definisi yang ada dianggap kurang komprehensif sehingga kelas menengah kemudian dikelompokkan sebagai kelompok profesional yang nonpartisan namun tak apolitis. Sebagai kelompok profesional ia jelas bukan bagian dari negara (state) berikut aparatusnya, sekaligus ia juga bukan secara khusus sebagai kelompok aktivis (social society). Sebagai profesional kelas menengah adalah kelompok yang relatif mapan secara ekonomi, berusia muda (di bawah 50 tahun) dan yang paling penting menjadi aktor pendorong perubahan (agent of change). Karakteristik terakhir terutama dipengaruhi oleh sebab derajat pendidikan tinggi yang telah dienyam kelas menengah. Baca entri selengkapnya »


Isu Internasional dalam Gerakan Mahasiswa

Oktober 15, 2012

Sebagai kelompok penekan (pressure group) dalam ranah gerakan ekstraparlementer, Gerakan Mahasiswa di tanah air nyaris tak pernah absen menyikapi isu-isu aktual dalam kehidupan bangsa. Isu-isu seperti korupsi, Pemilu dan Pemilukada hingga soal-soal serius macam kedaulatan, kepemimpinan nasional maupun kebangsaan pada umumnya selalu mendapat tanggapan serius dalam diskursus Gerakan Mahasiswa. Isu-isu internasional yang paling menarik perhatian dalam Gerakan Mahasiswa apa lagi kalau bukan gurita kapitalisme yang mencemari hampir setiap ranah kehidupan, termasuk isu–isu lingkungan macam global warming. Padahal komunitas internasional telah mengkodifikasi wacana dalam sejumlah isu, diantaranya Millenium Development Goals (MDGs) atau Sasaran Pembangunan Milenium, Education For All (EFA) yang diterjemahkan menjadi Pendidikan Untuk Semua (PUS) maupun Human Development Index (HDI) yang dikenal pula sebagai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hingga hari ini masih sedikit Gerakan Mahasiswa yang serius berbicara soal isu-isu internasional yang ‘resmi’ ini—karena telah menjadi bahasa pemerintah kita dalam wacana pembangunan nasional—meskipun isu-isu parsial di dalamnya juga menjadi kegelisahan Gerakan Mahasiswa. Gerakan Mahasiswa sesungguhnya banyak berbicara soal kemiskinan, pendidikan maupun merosotnya daya beli masyarakat. Namun soalnya, Gerakan Mahasiswa tak membingkainya dalam isu MDGs, EFA, maupun HDI sehingga berpotensi menimbulkan kesan Gerakan Mahasiswa tak peka dengan isu-isu internasional ini. Baca entri selengkapnya »


Tamasya Paling Firdaus

Juni 25, 2012

:mengingat Nenenda (1939-1993) di Blambangan Umpu.

KEBAHAGIAAN laki-laki belia itu dimulai sejak fajar masih gelap. Malam yang dingin telah usai, dituntaskannya dari balik selimut berbulu, hangat, bermotif belang-belang putih-hitam. Tanpa sempat merapikan selimut, laki-laki belia itu telah takzim berdiang di depan tungku. Menemani Nenenda yang sepagi ini telah larut dalam pisang yang digoreng dalam wajan besar. Api sesekali meredup sebab arang berselimut abu. Namun Nenenda selalu siap dengan semprong bambu yang ditiup, membuat abu berterbangan. Baca entri selengkapnya »


Memaknai (Ulang) Konsepsi Nemui Nyimah dan Piil Pesenggiri

April 16, 2012

Dalam sayup-sayup kerinduan di tanah seberang, menyaksikan pertikaian antarkelompok warga di Lampung baru-baru ini (yang kemudian diidentifikasi berasal dari dua etnis berbeda) membuat saya terluka. Kita semua tentu sepakat seharusnya konflik dan pertikaian tak boleh ada di bumi Lampung. Untuk sampai pada situasi ini tampaknya kita harus banyak memaknai ulang perspektif filsafat kehidupan masing-masing kelompok. Pada dasarnya semua filsafat kehidupan berlaku universal, sehingga dapat disebut bahwa filsafat kehidupan seluruhnya setia pada kebaikan. Namun tafsir, penghayatan dan implementasi filsafat hidup yang dikodifikasi dalam sistem nilai kebudayaan seringkali menyebabkan distorsi atas nilai-nilai luhur yang dikandung sistem-sistem nilai yang ada. Baca entri selengkapnya »


Tentang Laki-Laki Muda Bejaket Coklat Tua

April 16, 2012

Kepada: Budi P. Hatees

LAKI-LAKI muda berjaket coklat-tua memerlukan beberapa kejap memejamkan mata, sesaat sebelum bus Puspa Sari yang ditumpanginya memasuki Terminal Rajabasa. Angannya membual pada kenangan beberapa tahun lewat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran yang gugup: pada mimpi dan cita-cita yang disemainya di kota ini. Setelah turun dari bus, laki-laki muda berjaket coklat-tua bergegas melompat ke dalam bus lain lagi, Damri trayek Terminal Rajabasa-Tanjung Karang. Tadi ia sempat mengedarkan pandang ke sekeliling terminal. Ia menggeleng kepala sendiri, menenangkan batinnya. Katanya kepada batin: menggerutu soal kesemrawutan tak baik bagi kesehatan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua memilih menyandarkan kepalanya di kursi bus. Bus sejuk berpendingin udara. Baca entri selengkapnya »