Archive for the 'Suara pertiwi' Category

Mewujudkan Rencana Tata Ruang yang Manusiawi

Juni 7, 2017

Perencanaan merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus pembangunan, di samping tentu saja tahapan pelaksanaan dan evaluasi. Di tanah air, perencanaan pembangunan (antara lain Rencana Pembangunan Jangka Panjang berdimensi jangka panjang hingga Rencana Kerja Pemerintah Daerah berdimensi satu tahun) disusun bersinergi dengan rencana tata ruang (sejak Rencana Tata Ruang Wilayah hingga Rencana Rinci Tata Ruang). Perencanaan pembangunan disusun mendasari rencana tata ruang karena kesadaran bahwa kebutuhan pembangunan (mungkin) tak terbatas, sementara daya dukung ruang memiliki titik limitatif. Untuk itu pembangunan harus disusun berdasarkan semangat berkelanjutan, agar kelangsungan kehidupan dapat berlangsung lebih lama lagi. Baca entri selengkapnya »

Pekerja Kebudayaan Slawi, Pulanglah

Juni 24, 2010

Kota Slawi (sebagai representasi Kabupaten Tegal) memang bukanlah pusat kebudayaan terkemuka di wilayah pantura barat Jawa Tengah. Publik misalnya, lebih familiar dengan Kota Tegal maupun Brebes untuk menyebut sentra kebudayaan pesisiran Jawa Tengah di wilayah itu. Slawi belum menjadi sebuah kota yang mandiri dalam berkebudayaan terutama karena keberadaan Slawi sebagai kota satelit (hinterland) Kota Tegal. Slawi selalu berada dalam bayang-bayang Kota Tegal, termasuk dalam berkesenian dan berkebudayaan. Baca entri selengkapnya »

Soal Landmark Kota Slawi

Juni 24, 2010

Sejak ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Tegal pada tahun 1986 dan diresmikan Mendagri Rudini tahun 1989 Kota (Kecamatan) Slawi segera melakukan berbagai usaha untuk mempercantik kota, sekaligus menegaskan keberadaan Kota Slawi yang berbeda dengan Kota Tegal. Penegasan ini menjadi penting terutama karena keberadaan Kota Slawi berada dalam bayang-bayang Kota Tegal. Bagi persepsi sebagian besar publik di luar eks Karesidenan Pekalongan tentu masih sering terbolak-balik menandai keberadaan Kota Tegal dan Kabupaten Tegal dengan Kota Slawi sebagai ibukotanya. Apalagi keberadaan Kota Slawi hanya 15 kilometer atau dua puluh menit perjalanan bus dari Kota Tegal. Posisi yang demikian dekat ini menjadikan Kota Slawi sebagai kota satelit (hinterland) dari Kota Tegal. Dengan sendirinya usaha untuk menjadikan Kota Slawi sebagai kota yang mandiri menjadi tantangan tersendiri. Baca entri selengkapnya »

Kota Pesisir Tanpa Pelabuhan

Juni 24, 2010

Tidak berlebihan rasanya bila nelayan (dan pekerja sektor kelautan dan perikanan lain) di Kabupaten Tegal memimpikan sebuah pelabuhan yang berada di wilayah yurisdiksi daerahnya. Garis pantai Kabupaten Tegal membentang sepanjang 27 KM. Warga yang hidupnya bergantung pada sektor ini tidak kurang dari 15 ribu jiwa (HNSI, 2008). Kebutuhan akan pelabuhan bagi nelayan bukan sekedar persoalan harga diri dan kebanggaan memiliki pelabuhan di daerah sendiri, tetapi menyangkut tata kelola kelautan yang lebih baik. Baca entri selengkapnya »