Archive for the 'Sastra' Category

Tamasya Paling Firdaus

Juni 25, 2012

:mengingat Nenenda (1939-1993) di Blambangan Umpu.

KEBAHAGIAAN laki-laki belia itu dimulai sejak fajar masih gelap. Malam yang dingin telah usai, dituntaskannya dari balik selimut berbulu, hangat, bermotif belang-belang putih-hitam. Tanpa sempat merapikan selimut, laki-laki belia itu telah takzim berdiang di depan tungku. Menemani Nenenda yang sepagi ini telah larut dalam pisang yang digoreng dalam wajan besar. Api sesekali meredup sebab arang berselimut abu. Namun Nenenda selalu siap dengan semprong bambu yang ditiup, membuat abu berterbangan. Baca entri selengkapnya »

Tentang Laki-Laki Muda Bejaket Coklat Tua

April 16, 2012

Kepada: Budi P. Hatees

LAKI-LAKI muda berjaket coklat-tua memerlukan beberapa kejap memejamkan mata, sesaat sebelum bus Puspa Sari yang ditumpanginya memasuki Terminal Rajabasa. Angannya membual pada kenangan beberapa tahun lewat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran yang gugup: pada mimpi dan cita-cita yang disemainya di kota ini. Setelah turun dari bus, laki-laki muda berjaket coklat-tua bergegas melompat ke dalam bus lain lagi, Damri trayek Terminal Rajabasa-Tanjung Karang. Tadi ia sempat mengedarkan pandang ke sekeliling terminal. Ia menggeleng kepala sendiri, menenangkan batinnya. Katanya kepada batin: menggerutu soal kesemrawutan tak baik bagi kesehatan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua memilih menyandarkan kepalanya di kursi bus. Bus sejuk berpendingin udara. Baca entri selengkapnya »

Percakapan dalam Kereta

April 11, 2012

Untuk Sungging Raga

Laki-laki muda itu hati-hati menyeret koper berodanya, takut menyenggol lutut penumpang lain. Setelah mendapati nomor kursinya, pelan-pelan ia mengangkat koper dan meletakkan di kabin di atas tempat duduk. Ia masih sempat merapikan jaketnya sebelum menghempaskan pantat ke kursi. Bantal kecil berwarna biru terlebih dahulu ia ambil, lalu diletakkan di pangkuannya. Air mineral dalam botol tak lupa diselipkan di jaring kursi penumpang di depannya. Bersama botol air mineral ia menyelipkan juga satu buku bersampul merah, buku yang bertutur tentang Sjahrir. Laki-laki muda itu menghela napasnya berkali-kali. Hampir saja ia tak awas. Di sampingnya telah duduk seseorang. Laki-laki muda itu menoleh dan menyunggingkan senyum sedikit. Seorang perempuan, kira-kira usianya lebih tua dari laki-laki muda itu, antara empat-lima tahun. Baca entri selengkapnya »

Malam Pertama

Mei 8, 2011

ANAK muda itu membetulkan posisi duduknya. Ia menatap saya dengan kesopanan yang terjaga. Vitalitas memancar dari matanya. Namun saya tahu betul ia sedang berdamai dengan gejolak di hatinya. Pastilah kini ia sedang grogi. Saya tahu. Karena dulu bukankah saya pernah muda juga dan mengalami situasi seperti ini? Baca entri selengkapnya »

Generasi yang Tidak Rela Biasa-Biasa Saja

Juni 23, 2010

generasi yang tidak rela biasa-biasa saja

saat kalian ulurkan tangan kepada kami,
terlambat. karena negeri ini telah pecah dalam degup genderang.
ketika kalian menaburi kami dengan slogan,
terlambat. karena kami telah bergerak di jalanan.
dan waktu kalian menanti peluh kami,
terlambat. karena dada kami merah meradang. Baca entri selengkapnya »

Pejoang yang Dikhianati Senapannya

Juni 23, 2010

Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya
: Seno bin Nokerso

/I/

2002

Aku selalu gugup. Saat Ferry dipermainkan riak Selat Sunda. Menunggu sandar di Pelabuhan Bakauheni. Matahari mulai tinggi. Laut biru keperakan. Aku merapikan jaket, sekedar menuntaskan canggung mengurangi gelisah. Tujuh jam lagi aku tiba. Aku selalu rindu pulang. Baca entri selengkapnya »

Cerita tentang Cinta

Juni 23, 2010

BANYAK orang bilang hidup ini nisbi. Meledak-ledak. Tidak terkendali. Rupanya saya agak setuju dengan orang-orang. Bahwa hidup sering tidak diduga-duga, seperti halnya mati. Termasuk pilihan-pilihan. Untuk memaknai hidup. Seperti saya. Yang tidak pernah menyesal saat saya menguatkan ketetapan hati. Untuk tidak menikah. Baca entri selengkapnya »

Jalan Galih 216

Juni 23, 2010

Jalan Galih 216

Pada cinta sepanjang 800 meter aku dilahirkan. Bersama tetangga kiri kanan kami yang bersahaja: guru Sekolah Dasar, petani kebun lada, pedagang buku gambar di pasar kalangan, cingkau hasil bumi, agen SDSB , penjual gorengan dan hansip yang bertugas setiap 17 agustusan dan pemilu. Baca entri selengkapnya »