Archive for the 'Pikiran Rakyat' Category

Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola

Januari 3, 2011

Saya terhitung orang yang tak menyukai sepak bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang melingkupinya, air mata yang tertetes, dan euforia superter yang dapat kita baca dari unggahan status di facebook. Baca entri selengkapnya »

AT Mahmud dan Imajinasi Kanak-Kanak

Juli 19, 2010

Tak salah bila banyak orang mengatakan dunia anak adalah dunia imajinasi. Imajinasi pula yang mengisi jiwa anak, membuatnya siap menghadapi hidup remaja, dewasa, dan tua. Menjadi anak tanpa imajinasi sering dipopulerkan orang dalam adagium sebagai masa kecil kurang bahagia. Meski demikian, tak banyak orang dewasa yang peduli mengisi jiwa anak-anak Indonesia, dengan karya-karya baik berbentuk lagu, film, cerita atau dongeng yang menemani kedewasaan anak-anak kita. Meski imajinasi milik anak-anak, orang dewasalah yang harus menyediakan diri meramunya dalam karya, walaupun tak sedikit anak-anak yang telah berkarya sejak belia. A.T. Mahmud termasuk salah satu orang dewasa yang senantiasa mengembangkan imajinasi anak-anak di tanah air, di samping nama-nama seperti Pak dan Bu Kasur, Ibu Sud, Pak Dal, Soekanto SA, Drs. Suyadi (Pak Raden), Ria Enes, hingga Kak Kusumo. Baca entri selengkapnya »

Golput dan Hippies Politik

Juni 24, 2010

Ada sebuah paralelisme yang tampak nyata dari gejala golput (golongan putih) dalam sistem politik kita dengan fenomena hippies yang lahir pada dekade 60-an di Amerika Serikat. Keduanya berbicara tentang pembangkangan terhadap tatanan dan sistem nilai yang ada. Sebuah konsep perilaku protes yang digarap dengan cantik dan elegan untuk mengartikulasikan kehendak yang tersumbat.
Pada perkembangannya, kedua fenomena—golput dan hippies—akhirnya mengalami distorsi gagasan ideal dengan praktik penghayatan dan pengamalan masyarakat pendukungnya sendiri. Nilai-nilai awal yang didekonstruksi menjadi tereduksi yang menggelincirkan kedua gagasan pembaharuan ini menjadi (sekedar) trend perilaku yang mencuri citra dari kenampakan fisik golput dan hippies yang kemudian menjadi image yang layak direproduksi. Baca entri selengkapnya »