Archive for the 'Laras Bahasa' Category

Sofistikasi Bahasa

November 16, 2015

Tak hanya sebagai media dalam menyampaikan gagasan dalam berkomunikasi, bahasa sekaligus menjadi penanda kapasitas intelektual seseorang sehingga menempatkannya dalam kedudukan sosial tertentu. Tak sedikit dari kita memiliki beban tersendiri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa. Seorang Ayah akan memilih diksi yang sekaligus dapat menunjukkan kewibawaan di hadapan anaknya. Seorang wakil pihak calon mempelai laki-laki tak jarang menghapal kalimat-kalimat yang akan disampaikannya dalam prosesi melamar calon mempelai perempuan untuk menunjukkan keseriusan niat dan kekhidmatan prosesi itu sendiri. Situasi ini mendorong lahirnya sofistikasi bahasa. Sofistikasi bahasa diambil dari akar kata sophisticated yang sering diterjemahkan sebagai canggih. Seturut dengan terjemah itu, sofistikasi bahasa secara sederhana adalah usaha mencanggihkan bahasa. Membuat bahasa memiliki makna baru, memiliki nilai rasa tertentu, yang menjadikannya tidak biasa-biasa lagi. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Kamseupay

April 11, 2012

Awal tahun 2012 ditandai dengan kembali populernya akronim Kamseupay di media sosial kita. Kabarnya akronim ini pernah populer pada tahun 1980-an, bersamaan dengan lahirnya bahasa gaul kala itu macam doski, kawula muda atau yoi—sebelumnya lema yoi diucapkan yoa, misalnya dapat kita simak dalam percakapan di seri-seri film Catatan Si Boy (Cabo). Akronim dan kata bahasa gaul remaja ibukota kala itu produktif diintroduksi antara lain melalui corong Radio Prambors Jakarta. Kamseupay secara umum dipanjangkan menjadi Kampungan Sekali Uh Payah, sejumlah variasi tafsir Kamseupay lahir seperti Kampungan Sekali Udik Payah, atau menganggap Kamseupay sebagai kata, bukan akronim. Kalangan yang menganggap Kamseupay sebagai kata umumnya mengartikan Kamseupay sebagai kampungan. Baca entri selengkapnya »

Tanggal Ulang Tahun

Januari 3, 2012

Perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia memang istimewa. Hanya pada saat bangsa ini memperingati ulang tahunnya kita menjadi familier (kembali) dengan akronim HUT alias Hari Ulang Tahun dan idiom Dirgahayu. Bila pada peringatan ulang tahun kemerdekaan digunakan istilah HUT, pada peringatan ulang tahun berdirinya daerah (kabupaten/kota atau provinsi) umumnya digunakan istilah Hari Jadi, berbeda ketika kita memperingati hari kelahiran seseorang yang lazim disebut Ulang Tahun saja. Sedemikian sering kita menggunakan akronim HUT sehingga membuat kita tak sadar bila akronim ini berpotensi menyebabkan kekeliruan logika berbahasa. Baca entri selengkapnya »

Kamus

Desember 13, 2011

Sesungguhnya penulis sekalipun tak luput dari kekeliruan. Dalam artikel saya sebelumnya, Pembobolan dan Penggelapan (27-7) saya tidak awas dalam membaca kamus. Saya membangun gagasan mengenai penggunaan kata bobol dalam pembobol dan pembobolan pada kasus-kasus kejahatan perbankan merujuk pada kamus, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online atau biasa disebut KKBI Daring yang diterbitkan Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. Saya kurang hati-hati mengutip lema bobol dengan kurang memperhatikan lema turunan dari bobol, yakni membobol dan pembobol. Baca entri selengkapnya »

Bahasa Lalu Lintas

November 24, 2011

Lalu lintas dan jalan bersifat komplementer. Secara sederhana lalu lintas dapat dipahami sebagai pergerakan orang dan kendaraan di jalan. Untuk memudahkan pergerakan orang dan barang di jalan, lalu lintas dilengkapi dengan sistem tanda sebagai perangkat komunikasinya. Sistem tanda dalam lalu lintas yang kita kenal di antaranya berbentuk bahasa (huruf, angka, dan kalimat), warna, isyarat, gambar (lambang) dan bunyi. Bahasa dalam sistem lalu lintas sering kita baca ketika berkendara, namun beberapa di antaranya masih kurang tepat, baik efektivitas dan logika kalimat maupun pemilihan kata baku. Baca entri selengkapnya »

Pembobolan

Agustus 1, 2011

Hari-hari terakhir kita akrab dengan istilah pembobol, dan pembobolan. Istilah ini ramai-ramai dikutip media ketika memberitakan kasus-kasus penggelapan dana milik nasabah bank. Pembobol dan pembobolan juga digunakan untuk menyebut kasus-kasus penggelapan Surat Kredit (L/C) fiktif yang merugikan bank dan negara—bila bank tersebut milik negara. Dalam kasus-kasus penarikan dana nasabah melalui ATM oleh orang yang tidak berhak, juga digunakan istilah pembobol dan pembobolan. Istilah pembobolan tampaknya mulai populer digunakan sejak terjadi penggelapan dana di BNI beberapa tahun lalu yang antara lain melibatkan mantan Kabareskrim Komjen Suyitno Landung dan pimpinan P.T. Gramaindo Adrian Waworuntu. Kasus lain yang tentu saja sedang hangat adalah penggelapan dana yang diduga melibatkan Senior Relation Manager Citibank Inong Malinda atau yang lebih dikenal sebagai Melinda Dee.

Baca entri selengkapnya »

Sosiologi Eufimisme

Mei 18, 2011

Atas nama kesantunan, kita telah terbiasa menggunakan bahasa yang memiliki pesan dalam makna harfiah, dan pesan dalam makna ‘yang diinginkan’, yang kita sebut sebagai eufimisme. Seperti penggunaan idiom ‘lumayan’ atau ‘dan lain-lain’. Bila ada seorang yang bertanya apakah seseorang cantik atau tampan, kebanyakan dari kita akan menjawab ‘lumayan’. Makna ‘lumayan’ merupakan makna ‘antara’: antara ‘cantik’ atau ‘tampan’ dengan ‘jelek’. Bangsa kita tidak memiliki keberanian untuk menyebut seorang ‘jelek’, sekaligus tidak memiliki kebesaran hati untuk mengakui seorang tersebut benar ‘cantik’ atau ‘tampan’. Baca entri selengkapnya »

Untung Ada -Nya

April 20, 2011

Dalam bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang saya tumpangi dalam perjalanan mudik ke Lampung, saya berkenalan dengan seseorang yang duduk di sebelah saya. Kami berkenalan, kemudian bercerita banyak hal, mengisi waktu perjalanan yang mulai menjemukan. Mungkin karena merasa telah akrab, kenalan baru saya itu bertanya: rumahnya di mana mas? Saya tertegun sejenak, meskipun mengerti maksudnya. Baca entri selengkapnya »

Kos, Kontrak, Sewa

April 7, 2011

Kita mengenal istilah yang berbeda untuk satu konteks pemanfaatan ruang dan bangun milik orang lain yang berbayar. Semasa kuliah dulu, sebagai mahasiswa rantau saya mondok di rumah seseorang. Jadilah saya disebut anak kos. Pada masa itu, awal tahun 2.000, kos ditulis kost, sebagai kependekan dari in de kost. In de kost menurut wikipedia merupakan frase dari Bahasa Belanda yang artinya ’makan di dalam’, istilah yang kemudian digunakan bagi seorang yang tinggal di rumah orang lain dengan membayar menurut jangka waktu tertentu, umumnya bulanan sebagaimana tulis Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI). KBBI mengindonesiakan in de kost menjadi indekos. Baca entri selengkapnya »

Subjek Anonim dalam Diplomasi

Maret 24, 2011

Berita dengan isu-isu diplomatik seringkali menggunakan nama kota, kawasan atau ibukota negara sebagai kata ganti subyek. Kita banyak mendapati kalimat-kalimat seperti: ‘Jakarta menyatakan belum mengambil sikap terkait sengketa perbatasan dengan Malaysia.’ Penggunaan idiom Jakarta berpotensi bias dan sumir, terutama bila pertanyaanya menjadi: otoritas apa di Jakarta yang merilis informasi? Representasi Pemerintah Republik Indonesia dapat melekat pada berbagai macam lembaga. Pemerintah Republik Indonesia dapar bermakna presiden, dalam hal ini Pak Beye langsung. Dapat pula direpresentasikan oleh Menteri Luar Negeri. Pernyataan Juru Bicara Presiden bisa dianggap sebagai pernyataan presiden, yang mewakili pemerintah. Konfirmasi dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri juga sudah dianggap sumber resmi. Menteri Komunikasi dan Informatika dapat pula menjalankan peran kehumasan Pemerintah Republik Indonesia. Dalam konteks hubungan luar negeri yang berhubungan dengan isu-isu pertahanan, Panglima TNI layak dipandang sebagai otoritas yang merepresentasikan Pemerintah Republik Indonesia. Baca entri selengkapnya »