Archive for the 'Jawa Pos Group' Category

Spirit Warteg dan Kultur Wirausaha Tegal

Agustus 24, 2010

Kuliner saat ini tidak lagi dianggap sebagai persoalan makan dan pemenuhan kebutuhan subsistensi dasar belaka semenjak Bondan Winarno menjadi host Wisata Kuliner di Trans TV beberapa tahun lalu. Kuliner telah naik kelas menjadi satu ‘disiplin ilmu’ dan ‘layak’ didiskusikan secara ilmiah. Kuliner kemudian dikenal publik sebagai karya yang direproduksi dari tradisi, sistem nilai, dan budaya yang panjang. Begitu juga ketika kita hendak membincangkan Warteg. Warteg, sebagaimana Rumah Makan Padang, Lapo (Lepau) Tuak Medan, Lesehan Jawa (Sunda, Yogyakarta atau Solo), Warung Kopi, Warung Bubur Kacang Hijau (Burjo) atau Kedai sejatinya merupakan manifestasi dari budaya yang terangkum dalam tradisi kuliner. Baca entri selengkapnya »

Tegal Gotong Royong dan Program Pertiwi

Agustus 5, 2010

Idiom Pertiwi alias Pertanian, Industri dan Pariwisata tentu merupakan retorika yang dikenal luas oleh publik di Kabupaten Tegal. Pertiwi merupakan prioritas pembangunan yang diintroduksikan pada masa kepemimpinan Bupati Tegal Drs. Soediharto (1999-2004). Pertiwi dilembagakan secara konstitusional dalam Perda No. 1 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Daerah (Renstrada) yang berlaku selama lima tahun. Baca entri selengkapnya »

Politeknik Pertanian di Way Kanan

Juni 24, 2010

Setelah hampir satu dekade menjadi kabupaten, Way Kanan hingga hari ini belum memiliki perguruan tinggi reguler di wilayahnya. Kalaupun ada perguruan tinggi, masih berbentuk kelas jauh (fillial) dari perguruan tinggi di luar kota. Sejumlah perguruan tinggi telah membuka cabang di Way Kanan. Diantaranya Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pelita Bangsa Jakarta, dan STKIP Al Maarif Metro di Baradatu, serta Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Kotabumi di Blambangan Umpu. Selain itu terdapat sejumlah Kelompok Belajar (Pokjar) Universitas Terbuka (UT) di Baradatu, Kasui dan Bahuga. Baca entri selengkapnya »

Semrawut di Negeri Ajaib

Juni 24, 2010

Menjadi rakyat republik ini sungguh ajaib. Separo lebih penduduknya dikategorikan miskin. Sehingga mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Program Kompensasi Pengurangan Subsidi (PKPS) BBM sebesar Rp 300 ribu untuk tiga bulan. 15 juta lebih penduduk menerima cash transfer ini. Jumlahnya membengkak berlipat-lipat setelah dibuka pendaftaran gelombang kedua. Pencairan BLT yang dimulai 1 Oktober kemarin di 15 kota di Indonesia dan sejak 11 Oktober di kabupaten dan kota lain cukup heroik. Di Demak, seorang meninggal saat antre mencairkan BLT. Di Banjarnegara, satu truk berisi 40 orang naas tergelincir, seorang tewas dan banyak yang luka-luka. Di lombok Tengah Lurah dijotos. Di Solo Ketua RT melempar asbak penerima BLT, di samping aparat kelurahan memalsu data keluarga miskin (gakin). Tidak terhitung yang pingsan. Sejumlah Kantor badan Pusat Statistik (BPS) tidak luput digruduk warga. Banyak Kartu Kompensasi BBM (KKB) salah sasaran. Ketua RT dan Lurah serba salah. Sementara BPS tidak bisa menjawab. Baca entri selengkapnya »