Archive for the 'Fajar Sumatera' Category

LGBT dan Norma Baru

Desember 29, 2015

Setiap kesatuan hukum masyarakat pasti melembagakan nilai dan normanya ke dalam sistem sosial. Nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik sementara norma adalah praktik maupun wujud kebaikan tersebut. Per definisi nilai dan norma merupakan pilihan yang disepakati oleh masyarakat melalui internalisasi dan seringkali merupakan preferensi dari keyakinan keagamaan dan kebudayaan tertentu. Pada praktiknya, sistem sosial yang telah mapan ini seringkali digugat, terjadi benturan yang melahirkan perilaku menyimpang (deviasi sosial). Perilaku menyimpang pada akhirnya dapat menjadi norma baru setelah ia bukan lagi sesuatu yang “menyimpang” melainkan telah menjadi “arus utama.” Namun proses untuk sampai pada tahap ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Meliputi diskusi, pergulatan hingga akhirnya kristalisasi norma baru. Baca entri selengkapnya »

Studi Interteks dalam Konservasi Situs Manusia Purba

November 25, 2015

PARADIGMA pengembangan situs purbakala termasuk di dalamnya situs manusia purba telah memasukkan konsep pelibatan masyarakat sebagai bagian integral pengembangan situs. Bila sebelumnya pelibatan masyarakat lebih banyak dimaknai pada aspek-aspek pemanfaatan potensi ekonomi-pariwisata situs oleh masyarakat, kini usaha pelibatan masyarakat mulai diperluas pada aspek konservasi. Situs-situs yang semula hanya dikonservasi oleh para ahli, kini membuka diri terhadap peran masyarakat untuk turut melakukan konservasi. Pada periode-periode awal konservasi situs purbakala, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga teknis lapang penemuan dan pengumpulan koleksi. Namun kini, seharusnya masyarakat dilibatkan dalam skema yang lebih strategis, misalnya konservasi dalam konteks memaknai koleksi-koleksi situs. Baca entri selengkapnya »

Strategi Kebudayaan dan Multikulturalitas

November 16, 2015

Telah menjadi realitas sejarah bahwa bangsa kita, Indonesia berdiri di atas lansekap keberagaman. Etnis, agama, kelompok kepentingan yang ada berbeda sekaligus banyak jumlahnya. Sejak lama pula kita merumuskan dan menerapkan strategi kebudayaan memaknai keberagaman yang ada. Secara sosiologis, tak dapat dihindarkan sentimen-sentimen in group dan out group; orang “sini” dan orang “sana.” Pada mulanya, politik kebudayaan cenderung ingin mengelompokkan orang sana” menjadi orang “kita.” Sejarah pembentukan nasion banyak bangsa seringkali diwarnai oleh politik aneksasi. Strategi kebudayaan ini dapat disebut sebagai etnosentrisme (Nurdaya, 2012). Padahal hampir pasti setiap kebudayaan selalu ingin independen, selalu ingin mengaktualisasikan dirinya sendiri, serta selalu menolak menjadi orang lain. Konflik kemudian menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Perasaaan-perasaan identitas yang berlebihan cenderung memicu peniadaan identitas lain. Genosida-genosida atas nama etnis, agama, atau ideologi mewarnai perjalanan peradaban manusia. Sudah tentu kita tak ingin mengulangi dampak terburuk perasaan identitas yang berlebihan ini. Strategi kebudayaan alternatif, sebagai antitesis etnosentrisme kemudian disusun dan coba diamalkan. Bentuknya paling tidak ada dua: integrasi budaya (melting pot, cawan peleburan) dan pluralisme atau multikulturalisme (Nurdaya, 2012). Baca entri selengkapnya »

Politik, Etika dan Demonstran

November 2, 2015

Demonstrasi seringkali digunakan sebagai taktik dalam perjuangan. Kehadirannya tak jarang ditunggu dan sebagian yang lain memberi catatan: demonstrasi dilakukan secara tidak anarkhis. Kita tak hendak meributkan definisi anarkhi sebagai ideologi nirnegara. Anggap saja kita setuju istilah anarkhi digunakan untuk menggambarkan kondisi chaos, rusuh alias rusak-rusakan. Pertanyaannya kemudian sungguh menggelitik saya: mengapa demonstran masih menggunakan pola-pola aksi yang berpotensi bahkan terkesan sengaja dilakukan secara anarkhis? Baca entri selengkapnya »