Archive for the 'Buletin Sastra Pawon' Category

Konstelasi Kesenian Tegal, Apresiasi dan Kaderisasi

November 12, 2010

Tegal sebagai tanda (sign) dalam persepsi publik di tanah air kerap diasosiasikan pada kesan lucu, keluguan, atau kesahajaan. Pandangan ini tak sepenuhnya keliru. Panggung hiburan kita telah akrab dengan nama-nama Cici Tegal, Parto Tegal hingga Parto Patrio yang efektif membawakan dialek Tegalan secara komedik. Termasuk Pak Tarno, tukang sulap pinggir jalan yang beberapa kali diundang menjadi bintang tamu di televisi swasta, penampilannya diapresiasi penonton dengan tawa. Padahal Pak Tarno bukan sedang melawak, melainkan bermain sulap. Dalam hal-hal serius, atau kesahajaan pedagang Warteg sekalipun, umumnya publik mengenang Tegal tak jauh dari tawa. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Malam Solo Ini Bukan Milik Kita Lagi

Juni 23, 2010

BUS Nusantara pelahan meninggalkan Terminal Tegal. Berbelok ke kiri, menuju Semarang. Saya menghela nafas pelan-pelan. Menuruti angan yang membual. Empat tahun bukan waktu yang lama. Tetapi empat tahun meninggalkan kampus membuat saya kangen dengan Solo. Karena itu saya berdebar-debar sore ini. Mencoba membayangkan wajah Solo setelah empat tahun, namun tak dapat. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak harapan. Baca entri selengkapnya »