Archive for the 'Antologi' Category

Percakapan dalam Kereta

April 11, 2012

Untuk Sungging Raga

Laki-laki muda itu hati-hati menyeret koper berodanya, takut menyenggol lutut penumpang lain. Setelah mendapati nomor kursinya, pelan-pelan ia mengangkat koper dan meletakkan di kabin di atas tempat duduk. Ia masih sempat merapikan jaketnya sebelum menghempaskan pantat ke kursi. Bantal kecil berwarna biru terlebih dahulu ia ambil, lalu diletakkan di pangkuannya. Air mineral dalam botol tak lupa diselipkan di jaring kursi penumpang di depannya. Bersama botol air mineral ia menyelipkan juga satu buku bersampul merah, buku yang bertutur tentang Sjahrir. Laki-laki muda itu menghela napasnya berkali-kali. Hampir saja ia tak awas. Di sampingnya telah duduk seseorang. Laki-laki muda itu menoleh dan menyunggingkan senyum sedikit. Seorang perempuan, kira-kira usianya lebih tua dari laki-laki muda itu, antara empat-lima tahun. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Puisi-Puisi Febrie Hastiyanto

Desember 7, 2011

Langgar Al Muttaqien Rembang Petang

Langgar kami didirikan bersebelahan dengan Pasar Pagi. Menjaga iman kanak-kanak agar saban sore senantiasa mengaji. Dan godaan segala ding dong, karambol, nintendo, bantingan gaple serta kartu remi. Ejaan Iqro kami beradu kencang dengan mesin parutan kelapa. Dan imajinasi es tung-tung yang meruyak konsentrasi. Baca entri selengkapnya »

Menjaga Tradisi Batik Tegalan

Desember 21, 2010

Tak seperti saudaranya Batik Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Lasem dan belakangan Madura, Batik Tegalan hingga hari ini masih belum dikenal luas publik. Padahal Batik Tegalan memiliki karakteristik yang khas, mulai dari filosofi, motif, corak dan warnanya, sehingga ia diidentifikasi sebagai ‘Batik Tegalan’ yang berbeda dengan batik-batik lainnya. Sejumlah pihak mulai mengkhawatirkan perkembangan Batik Tegalan yang semakin tenggelam padahal ia belum sempat berkembang pesat—setidaknya hingga keluar daerah. Peran pemerintah daerah masih terbilang minimal, karena itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar Batik Tegalan dapat menyejajarkan dirinya dalam dunia perbatikan nasional. Baca entri selengkapnya »

Gerakan Mahasiswa Tegal

Juni 25, 2010

Gerakan mahasiswa biasanya berbasis pada kampus-kampus negeri—maksudnya universitas yang ujian masuknya dilakukan secara nasional lewat SPMB—seperti di kota Solo, Yogya, Semarang atau Purwokerto. Namun, beberapa kota yang tidak memiliki kampus negeri semisal Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan gerakan mahasiswanya pun terlihat dinamis. Ditandai dengan kritisisme dan greget gerakan mahasiswanya dalam mengawal wacana lokal maupun nasional. Setidaknya dapat dilihat dari berita-berita di media massa yang kita baca. Namun, hal yang sama tidak terjadi di Tegal. Seperti halnya Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan, Tegal tidak memiliki kampus negeri namun memiliki kampus-kampus swasta yang besar. Universitas Panca Sakti Tegal atau STAI IBN Slawi misalnya, dapat disejajarkan dengan Universitas Muria Kudus, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Tidar Magelang, atau Universitas Pekalongan. Bila kondisi, latar belakang dan karakteristik kota relatif sama, mengapa gerakan mahasiswa secara relatif tidak lahir di Tegal? Baca entri selengkapnya »

Cerita tentang Cinta

Juni 23, 2010

BANYAK orang bilang hidup ini nisbi. Meledak-ledak. Tidak terkendali. Rupanya saya agak setuju dengan orang-orang. Bahwa hidup sering tidak diduga-duga, seperti halnya mati. Termasuk pilihan-pilihan. Untuk memaknai hidup. Seperti saya. Yang tidak pernah menyesal saat saya menguatkan ketetapan hati. Untuk tidak menikah. Baca entri selengkapnya »