Mewujudkan Rencana Tata Ruang yang Manusiawi

Juni 7, 2017

Perencanaan merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus pembangunan, di samping tentu saja tahapan pelaksanaan dan evaluasi. Di tanah air, perencanaan pembangunan (antara lain Rencana Pembangunan Jangka Panjang berdimensi jangka panjang hingga Rencana Kerja Pemerintah Daerah berdimensi satu tahun) disusun bersinergi dengan rencana tata ruang (sejak Rencana Tata Ruang Wilayah hingga Rencana Rinci Tata Ruang). Perencanaan pembangunan disusun mendasari rencana tata ruang karena kesadaran bahwa kebutuhan pembangunan (mungkin) tak terbatas, sementara daya dukung ruang memiliki titik limitatif. Untuk itu pembangunan harus disusun berdasarkan semangat berkelanjutan, agar kelangsungan kehidupan dapat berlangsung lebih lama lagi.
Kebutuhan perencanaan terhadap tata ruang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang satu daerah disusun untuk mengatur struktur dan pola ruang wilayah secara makro dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Karena disusun secara makro, Rencana Tata Ruang Wilayah baru mengatur peruntukan kawasan secara umum dan dengan demikian belum dapat menjadi rujukan dalam penetapan izin penggunaan lahan. Karena itu disusun Rencana Detail/Rinci Tata ruang yang dilengkapi dengan peraturan zonasi (zoning regulation) untuk pengaturan pemanfaatan ruang lebih spesifik. Peraturan zonasi terdiri dari zoning map dan zoning text. Zoning map berbentuk peta untuk menggambarkan di mana kawasan diperuntukkan, sementara zoning text berbetuk regulasi mengatur bagaimana tata cara kawasan diperuntukkan.

Minim Isu Sosial
Dengan tajuk rencana tata ruang, sesungguhnya perencanaan tata ruang mengatur ruang dan orang (secara lebih luas sumber daya dan makhluk hidup di dalam dan di atasnya). Namun pada praktiknya perencanaan rinci tata ruang saat ini yang mengatur Rencana Sistem Pusat Pelayanan, Rencana Sistem Prasarana Utama dan Prasarana Lainnya, Rencana Pola Ruang, hingga Rencana Kawasan Strategis masih bersifat dan terasa fisik sentris. Kebutuhan-kebutuhan yang diatur dalam rencana rinci tata ruang umumnya mengatur kebutuhan penyediaan fasilitas-fasilitas fisik seperti sekolah, pelayanan kesehatan, pasar dan toko, hingga tempat peribadatan.
Analisis kebutuhan fasilitas dalam Rencana Detail Tata Ruang dilakukan dengan menggunakan metode statistik yang menggeneralisasi karakteristik variabel. Kebutuhan sekolah dalam 20 tahun ke depan misalnya dapat diperhitungkan dengan memproyeksi jumlah penduduk dibagi jumlah penduduk minimal harus terlayani (dalam bahasa statistik disebut penduduk pendukung) fasilitas pendidikan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan. Analisis statistik seperti ini jelas berisiko karena beberapa sebab. Pertama, analisis ini cenderung tidak mempertimbangkan pergerakan orang di wilayah perbatasan. Jumlah penduduk yang menjadi dasar perhitungan adalah jumlah penduduk eksisting suatu wilayah, belum memperhitungkan jumlah penduduk wilayah tetangga di daerah perbatasan. Kedua, analisis ini cenderung tidak mempertimbangkan akses ke fasilitas pendidikan. Satu permukiman yang terpencil dan terisolir dengan jumlah penduduk minimal di bawah SPM dapat dengan mudah diabaikan karena tidak memenuhi jumlah minimal penduduk pendukung. Ketiga, analisis ini cenderung belum memberi ruang jenis kebutuhan khas satu wilayah. Bila rata-rata wilayah membutuhkan fasilitas pendidikan dari jenis tertentu, sangat mungkin wilayah tertentu membutuhkan fasilitas pendidikan tertentu pula.
Isu sosial lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah pola pergerakan penduduk. Secara sosiologis pergerakan penduduk dipengaruhi oleh aktivitas besar dan rutin individu. Aktivitas rutin dan besar individu secara sederhana dapat dikategorikan sebagai tiga bentuk: pekerjaan/okupasi, pemanfaatan waktu luang (leisure time) dan pemanfaatan waktu beristirahat. Pergerakan karena pekerjaan/okupasi (dapat diperluas maknanya sebagai bersekolah) membutuhkan daya dukung ruang antara lain jaringan transportasi. Jam-jam sibuk (rush hour) di kota-kota besar misalnya, disumbang oleh karakteristik pergerakan ini yang menghabiskan sepertiga waktu individu dalam 24 jam. Pergerakan untuk pemanfaatan waktu luang (leisure time) membutuhkan penyediaan ruang-ruang rekreatif, seperti ruang publik (public space) dalam makna seluas-luasnya. Sementara pergerakan individu untuk memanfaatkan waktu beristirahat membutuhkan daya dukung ruang seperti kawasan permukiman.
Pola-pola pergerakan penduduk ini perlu disediakan ruangnya. Selama ini belum banyak Rencana Detail Tata Ruang yang melakukan analisis perubahan okupasi penduduk sehingga menyiapkan perencanaan fasilitas pendukung pergerakan penduduk yang dipengaruhi pergeseran okupasi. Begitu juga penyediaan ruang publik yang dipengaruhi oleh perubahan sosial masyarakatnya. Bagi masyarakat perdesaan, tempat bekerja maupun beribadah dapat sekaligus menjadi ruang publik bagi warganya. Namun masyarakat perdesaan yang bergeser menjadi masyarakat rural semi urban membutuhkan ruang publik baru untuk mempertemukan penduduknya dalam ruang komunal bersama. Kegiatan-kegiatan olahraga, seni dan rekreasi misalnya dapat menjadi ruang publik baru masyarakat rural semi urban dan masyarakat urban.
Lepasnya perhatian terhadap isu sosial dalam perencanaan tata ruang sesungguhnya menggambarkan kondisi yang kompleks sejak hulu dalam sistem perencanaan pembangunan kita. Penyediaan sumber daya perencana dalam disiplin ilmu planologi misalnya perlu dibekali dasar-dasar ilmu sosial yang cukup sehingga dapat menjadi karakter-dasar bagi perencana planolog. Bukan tidak mungkin, jurusan planologi membuka lowongan bagi dosen-dosen dengan kualifikasi ahli ilmu sosial. Begitupun sebaliknya, disiplin ilmu-ilmu sosial membuka diri terhadap masuknya dosen-dosen dengan kualifikasi ilmu ekskata dan lingkungan. Tantangan kehidupan kekinian semakin kompleks. Sudah saatnya ilmu dikembangkan secara eklektik dan ahli-ahli pelbagai disiplin ilmu bekerja gotong royong dan keroyokan saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Tabik.

*Febrie Hastiyanto, Anggota Sekretariat BKPRD Kabupaten Tegal.
**Dimuat dalam Suara Pertiwi Edisi 01/2016

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: