LGBT dan Norma Baru

Desember 29, 2015

Setiap kesatuan hukum masyarakat pasti melembagakan nilai dan normanya ke dalam sistem sosial. Nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik sementara norma adalah praktik maupun wujud kebaikan tersebut. Per definisi nilai dan norma merupakan pilihan yang disepakati oleh masyarakat melalui internalisasi dan seringkali merupakan preferensi dari keyakinan keagamaan dan kebudayaan tertentu. Pada praktiknya, sistem sosial yang telah mapan ini seringkali digugat, terjadi benturan yang melahirkan perilaku menyimpang (deviasi sosial). Perilaku menyimpang pada akhirnya dapat menjadi norma baru setelah ia bukan lagi sesuatu yang “menyimpang” melainkan telah menjadi “arus utama.” Namun proses untuk sampai pada tahap ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Meliputi diskusi, pergulatan hingga akhirnya kristalisasi norma baru.

Lalu, bagaimana kita mendudukkan Lesbian, Gay, Transgender dan Biseksual (LGBT) dalam kerangka ini? Bagaimana pula prospek LGBT untuk menjadi norma baru, atau setidaknya menjadi norma yang diterima sebagai salah satu norma hubungan sosial dan biologis berdasar gender? Pertama-tama, kita perlu mengelompokkan kedudukan LGBT dalam konstelasi nilai dan norma yang “disepakati” masyarakat hari ini. Sayangnya, LGBT hingga hari ini masih dikelompokkan sebagai perilaku menyimpang, sebagai deviasi, sebagai penyimpangan.
Mengapa menyimpang? Karena sistem sosial yang disepakati mengatur relasi seksual (yang kemudian menjadi relasi sosial) hanya antara laki-laki dan perempuan, antara ayah dan ibu. Sistem sosial ini dipengaruhi oleh preferensi keagamaan dan kebudayaan sehingga nilai dan norma ini telah menjadi bagian integral dari keyakinan keilahian masyarakat. Dengan serenteng pertimbangan ditetapkan nilai yang disepakati. Pertimbangan yang mendasari, misalnya yang “praktis” seperti karakteristik genital hingga yang “ideologis” yaitu kelangsungan kemanusian dan peradaban hanya dimungkinkan melalui perjumbuhan laki-laki dengan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki maupun perempuan dengan perempuan. Pada praktik ini, laki-laki yang berelasi dengan perempuan dan sekaligus laki-laki juga tidak diberi ruang.

Bila nilai dan norma telah disepakati, mengapa dimungkinkan terjadinya deviasi? Bisa jadi sebabnya hormonal. Banyak pula oleh sebab pengasuhan. Tak sedikit pula dengan argumentasi ideologis, macam kemerdekaan perayaan tubuh oleh pemiliknya tak peduli apa kata nilai dan norma. Keyakinan-keyakinan individu ini kemudian dikodifikasi menjadi nilai gerakan. Sebagai gerakan ia dikampanyekan. Celakanya pada saat dikampanyekan ia berbenturan pada nilai dan norma arus utama. Kampaye-kampanye kemudian berpegangan pada kebebasan: kebebasan hak asasi manusia dengan segala turunannya.

Pada konteks kampanye gerakan LGBT ini kita perlu berlaku adil sejak dalam pikiran, sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu. Bila pada kuadran LGBT menuntut kebebasan untuk mengekspresikan diri dan kebebasan mengkampanyekan nilai-nilai yang dianutnya, maka pada saat yang bersamaan kuadran nilai dan norma arus utama juga memiliki hak untuk meyakini dan mengkampanyekan nilai-nilai yang disepakatinya, nilai-nilai yang diyakininya.

Bila kuadran LGBT berkampanye dan kuadran nilai dan norma mainstream harus menghormati, maka pada saat berkampanye kuadran LGBT juga harus menghormati kuadran nilai dan norma arus utama. Bila ada kuadran berkampanye dan kuadran lain tak sepakat, tentu bukan berarti kuadran lain tersebut tak berempati. Bila kuadran LGBT berharap semua pihak berempati, maka kuadran nilai dan norma arus utama juga berharap kuadran LGBT sama berempatinya dengan mereka. Bila kuadran LGBT menganggap bentuk empati idem ditto dengan dukungan terhadap kampanyenya, kuadran nilai dan arus utama berempati dengan terus menyemangati teman-teman LGBT untuk kembali kepada arus utama. Keduanya berempati dengan caranya masing-masing. Tak terlalu menyenangkan dan sebagaimana yang diharapkan, namun saya percaya keduanya merupakan bentuk setulus-tulusnya empati.

Saya percaya, teman-teman LGBT sesungguhnya tidak nyaman menjadi LGBT. Seringkali situasi yang tidak nyaman tidak lantas untuk dirayakan atau “disyukuri.” Semisal seorang yang obesitas dan tak nyaman dengan bentuk tubuhnya atas alasan kesehatan dan kesentosaan. Bersyukur dan menikmati yang ada perlu, namun memperjuangkan yang baik, yang dianggap oleh sistem sosial sebagai baik juga sebuah kewajiban. Bukankah memperjuangkan diri menjadi baik juga sama heroiknya dengan memperjuangkan agar orang lain memahami diri kita? Pada posisi ini dengan berat hati saya harus menyampaikan: bila prospek LBGT untuk menjadi norma baru; per definisi, per metode gerakan, sesungguhnya memiliki harapan yang tipis. Sebagai sebuah tren mungkin ia akan menjadi “sesuatu,” namun untuk menjadi sistem sosial baru tantangannya bukan siapa-siapa, melainkan kemanusiaan LGBT sendiri. Tabik.

*Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IdeA.

**Dimuat Fajar Sumatera, 22  Desember 2015.

 

 

2 Tanggapan to “LGBT dan Norma Baru”

  1. mashar Says:

    Ulasan yg jernih, khas sosiolog🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: