Studi Interteks dalam Konservasi Situs Manusia Purba

November 25, 2015

PARADIGMA pengembangan situs purbakala termasuk di dalamnya situs manusia purba telah memasukkan konsep pelibatan masyarakat sebagai bagian integral pengembangan situs. Bila sebelumnya pelibatan masyarakat lebih banyak dimaknai pada aspek-aspek pemanfaatan potensi ekonomi-pariwisata situs oleh masyarakat, kini usaha pelibatan masyarakat mulai diperluas pada aspek konservasi. Situs-situs yang semula hanya dikonservasi oleh para ahli, kini membuka diri terhadap peran masyarakat untuk turut melakukan konservasi. Pada periode-periode awal konservasi situs purbakala, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga teknis lapang penemuan dan pengumpulan koleksi. Namun kini, seharusnya masyarakat dilibatkan dalam skema yang lebih strategis, misalnya konservasi dalam konteks memaknai koleksi-koleksi situs.

Dalam konteks situs manusia purba, paradigma yang menjadi arus utama dalam melakukan konservasi dan pemaknaan koleksi banyak mendasarkan pada teori-teori evolusi. Ketika mengunjungi Museum Nasional Jakarta maupun Museum Situs Sangiran Sragen-Karanganyar misalnya, saya mendapati diorama-diorama yang ada menggambarkan bahwa fosil-fosil manusia purba merupakan evolusi bentuk spesies dari yang arkaik hingga yang progresif dan kemudian menjadi manusia modern nenek moyang manusia generasi saat ini. Nyaris tidak ada wacana lain dalam memaknai fosil yang ada padahal sesungguhnya pengetahuan-pembanding itu ada dan hidup di dalam masyarakat.


Pengetahuan Masyarakat

Pandangan yang mengatakan bahwa evolusi adalah sesat pikir misalnya dapat ditelusuri dari studi-studi yang giat dilakukan Lee Strobel maupun Harun Yahya. Beberapa tesis telah disampaikan untuk menguatkan teori kreasionis sebagai antitesis teori evolusi bahwa evolusi sesungguhnya tidak pernah terjadi. Tesis-tesis tersebut antara lain menyebutkan bahwa struktur protein dan unsur-unsur kehidupan yang tidak mungkin membentuk sel makhluk hidup sempurna secara kebetulan, tidak ada fosil makhluk hidup bentuk peralihan homo erectus ke homo sapiens, munculnya beragam makhluk hidup sempurna secara tiba-tiba di lapisan kambrium, kemunculan mamalia yang sempurna tanpa pendahulu, penemuan ikan coelacanth yang sudah dianggap punah 70 yahun silam, dan beberapa binatang masa kini seperti komodo yang tidak mengalami perubahan bentuk dibanding dengan binatang yang sama jutaan tahun yang lalu (Budiatmoko, 2014).

Menurut pandangan ini, penjelasan sederhana keberadaan fosil-fosil yang ada menunjukkan bahwa pada kala tertentu hidup stegodon, mastodon, elephas, maupun gajah Sumatera. Keempatnya merupakan spesies yang berbeda dan kini tiga yang pertama telah punah dan sisanya masih ada. Begitu juga fosil-fosil homo erectus dan homo sapiens, merupakan dua jenis makhluk yang berbeda. Satu spesies telah musnah, dan satunya lagi adalah ras manusia yang bertahan hingga hari ini. Perspektif lain yang menjelaskan asal-usul kehidupan dapat ditelusuri dari informasi kitab suci agama-agama yang bersumber dari ajaran Ibrahim. Dalam pandangan agama-agama ini—sering disebut juga Ibrahimik atau samawi—manusia diciptakan dalam bentuk yang langsung sempurna tanpa proses evolusi.

Pada posisi ini, ilmu arkeologi perlu mengembangkan studi interteks dan memberi ruang terhadap pengetahuan masyarakat untuk turut bersama-sama memaknai fosil yang ditemukan. Arkeologi selama ini telah melakukan studi multidisipliner dengan melibatkan ilmu geologi, antropologi, ilmu kimia, biologi, maupun kedokteran forensik. Studi interteks merupakan studi yang melakukan konfirmasi terhadap ilmu-ilmu lain di luar ilmu yang dikaji. Studi interteks sudah jamak dilakukan dalam kajian ilmu sosial, sejarah, sastra, maupun agama. Dalam interteks ilmu sosial dan sastra sebagai contoh, sastra yang dianggap sebagai fiksi juga memiliki muatan pengetahuan dan ilmu yang dapat menguatkan hipotesis-hipotesis ilmu sosial. Begitupun agama, kategorisasi ilmu dan pengetahuan yang kita pahami hari ini cenderung bias, dengan menempatkan agama, sastra, sejarah lisan (oral history) sebagai pengetahuan (knowledge), bukan ilmu (science). Padahal agama dalam studi antrolopologi misalnya, oleh C. Kluckhohn dikelompokkan sebagai satu dari tujuh sistem kebudayaan universal manusia (universal categories of culture). Itu artinya, agama merupakan sumber ilmu pengetahuan bagi manusia.

Studi arkeologi sebagaimana yang ditampilkan di Museum Sangiran menyimpulkan bahwa DNA manusia modern saat ini berasal dari satu perempuan yang hidup 200 juta tahun lalu. Dalam konteks studi interteks arkeologi dan ilmu religi, arkeologi perlu melakukan konfirmasi pada ilmu-ilmu agama terhadap kesimpulan perempuan pertama ini. Apakah itu berarti pengetahuan agama yang tertulis dalam kitab suci hanya sampai pada kala 200 juta tahun lalu? Artinya konsep manusia diciptakan dalam bentuk sempurna merujuk pada pengetahuan hingga 200 juta tahun lalu, dan pada masa sebelumnya pengetahuan agama tidak mengkonfirmasi pengetahuan lebih lanjut. Bila jawaban hipotesis ini ya, bagaimana dengan pengetahuan agama yang juga mengkonfirmasi kala lebih tua dari 200 juta tahun, yakni pengetahuan-pengetahuan mengenai penciptaan alam semesta? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab melalui studi interteks arkeologi dan pengetahuan masyarakat.

Terpisah dengan Masyarakat

Diorama situs-situs manusia purba yang saat ini ada masih hidup terpisah dengan masyarakatnya. Bahwa terdapat masyarakat akademik yang berpedoman pada teori evolusi, namun terdapat juga masyarakat akademik lain yang bersandar pada teori kreasionisme, maupun  masyarakat yang lebih luas yang sikap intelektualnya mendasarkan pada pengetahuan religi. Secara metodologis, diorama situs-situs manusia purba belum menggenapi kerangka metode yang selama ini dikenal dalam “metode ilmiah.” Metode ilmiah selalu diawali dengan landasan teori maupun analisis kritik teori. Ruang analisis kritik teori ini belum banyak diberikan secara proporsional dalam diorama situs-situs manusia purba. Secara metodologis tidak keliru bila situs-situs manusia purba menampilkan diorama dalam kerangka pikir teori evolusi karena teori evolusi juga argumentatif. Namun pada display awal diorama perlu ditampilkan diorama-diorama yang menggambarkan bahwa selain teori evolusi terdapat pendangan-pandangan yang lain dalam memaknai fosil-fosil yang ada. Pada posisi ini, secara konseptual situs-situs manusia purba telah melibatkan masyarakat dalam konservasi koleksinya dengan membuka ruang bagi masyarakat untuk memaknai koleksi situs menurut perspektifnya. Dengan demikian, situs-situs manusia purba turut berkontribusi merayakan kekayaan khazanah perspektif dalam memaknai koleksi situs. n

Febrie Hastiyanto, Alumnus MAP FIA Universitas Brawijaya, peserta Workshop Managing Archaeological Site Museum, Solo-Sangiran, 2014

Sumber: Fajar Sumatera, Rabu, 18 November 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: