Sofistikasi Bahasa

November 16, 2015

Tak hanya sebagai media dalam menyampaikan gagasan dalam berkomunikasi, bahasa sekaligus menjadi penanda kapasitas intelektual seseorang sehingga menempatkannya dalam kedudukan sosial tertentu. Tak sedikit dari kita memiliki beban tersendiri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa. Seorang Ayah akan memilih diksi yang sekaligus dapat menunjukkan kewibawaan di hadapan anaknya. Seorang wakil pihak calon mempelai laki-laki tak jarang menghapal kalimat-kalimat yang akan disampaikannya dalam prosesi melamar calon mempelai perempuan untuk menunjukkan keseriusan niat dan kekhidmatan prosesi itu sendiri. Situasi ini mendorong lahirnya sofistikasi bahasa. Sofistikasi bahasa diambil dari akar kata sophisticated yang sering diterjemahkan sebagai canggih. Seturut dengan terjemah itu, sofistikasi bahasa secara sederhana adalah usaha mencanggihkan bahasa. Membuat bahasa memiliki makna baru, memiliki nilai rasa tertentu, yang menjadikannya tidak biasa-biasa lagi.
Gejala sofistikasi bahasa paling jamak menghampiri intelektual, mereka yang mengaku sebagai intelektual dan mereka yang ingin dianggap intelektual. Sofistikasi yang dipilih umumnya adalah menggunakan pilihan kata yang tak lazim, menggunakan kosakata dalam bahasa asing maupun membuat lema-lema baru yang ruwet namun terasa “canggih.” Kosakata tak lazim misalnya dapat kita cermati ketika seseorang memilih mengucapkan kata “gusar” ketimbang “cemas.” Kata “gusar” akan lebih terdengar lebih sastrawi ketimbang “cemas.” Untuk pola menggunakan bahasa asing, misalnya kita dapati dari judul esai pendek ini. Diksi yang dipilih adalah “Sofistikasi Bahasa” bukan “Beberapa Gejala Mencanggihkan Bahasa” misalnya. Selain alasan agar terlihat keren dan menunjukkan kelas penulis esainya, argumentasi seorang penulis memilih judul yang menarik karena memang “tuntutan” esai itu sendiri: ringkas, dan memikat orang untuk melanjutkan membaca.
Bentuk sofistikasi bahasa yang sering kita dengar misalnya: ada sebagian orang yang lebih suka memilih kata “berkeadaban” ketimbang “beradab” yang lebih sederhana, enak diucapkan, bahkan menjadi kata dalam salah satu sila dasar negara kita, kemanusiaan yang adil dan beradab. Mungkin karena hampir setiap hari senin dilafalkan peserta upacara bendera, kata “beradab” dianggap menjadi biasa, umum, kebanyakan, lazim. Lalu dipilihlah kata “berkeadaban” yang lebih terasa sulit dilafalkan, dan lebih melodius namun sesungguhnya tak memberi sumbangan makna baru yang berbeda dengan kata “beradab.”.

Bentuk lain yang lazim dipilih adalah kata “permenungan.” “Permenungan” mungkin dinukil dari kata “menung,” yang diberi imbuhan ter- menjadi “termenung.” Kata “termenung” mengandaikan situasi seseorang yang pasif, lemah, tanpa daya: “ter-“ “menung.” Bandingkan dengan kata “perenungan.” Kata “perenungan” lebih familier didengar dan dilafalkan. Menunjukkan pelaku bersifat aktif, dalam kesendirian dan kesepiannya bekerja keras untuk menemukan sesuatu, antara lain ilham. Namun celakanya, kata “perenungan” cenderung tak canggih diucapkan dan didengar orang.

Saya mendapati kata lain yang kerap diucapkan seseorang. Kata tersebut adalah “berberkah.” Saya menduga kata ini diambil dari kata dasar “berkah,” kata yang dikenal luas dalam khazanah agama Islam sebagai salah satu situasi ideal dari kehidupan seorang muslim. Pertanyaan seperti: “mau hidup berberkah?” memang terdengar lebih melodius, sofistikatik dan belibet ketimbang kalimat: “mau hidup berkah?” Mungkin maksudnya hendak menyangatkan dan meninju kesadaran lawan bicaranya bahwa ini bukan sembarang “berkah.” Meskipun berkah yang dimaksud ya berkah seperti yang dibayangkan semua orang sebagai berkah. Lalu, perlukah cukup diucapkan “berkah” saja dengan risiko tidak canggih namun lebih benar?

*Febrie Hastiyanto, Esais. Tinggal di Tegal Jawa Tengah.

Dimuat dalam Surat Pembaca Lampung Post, Rabu, 11 November 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: