Politik, Etika dan Demonstran

November 2, 2015

Demonstrasi seringkali digunakan sebagai taktik dalam perjuangan. Kehadirannya tak jarang ditunggu dan sebagian yang lain memberi catatan: demonstrasi dilakukan secara tidak anarkhis. Kita tak hendak meributkan definisi anarkhi sebagai ideologi nirnegara. Anggap saja kita setuju istilah anarkhi digunakan untuk menggambarkan kondisi chaos, rusuh alias rusak-rusakan. Pertanyaannya kemudian sungguh menggelitik saya: mengapa demonstran masih menggunakan pola-pola aksi yang berpotensi bahkan terkesan sengaja dilakukan secara anarkhis?
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya harus belajar sejarah demonstrasi di tanah air. Praktik dan perilaku demonstran pada masing-masing periode menunjukkan karakteristik gerakan, pola gerak, dan situasi nasional yang melingkupinya. Bentuk-bentuk aksi demonstran yang dilakukan hari ini, dahulu merupakan aksi-aksi yang juga pernah dilakukan serta dianggap berhasil mengubah situasi menjadi seperti yang dituntut. Namun aksi-aksi serupa yang dilakukan itu kini tidak mengubah apapun, sehingga pola gerak demonstrasi semakin berkembang, eskalasi ekstrimitasnya semakin meningkat dan membuat publik semakin “benci tapi rindu”.
Pada periode kolonial, bentuk aksi yang ditakuti adalah mogok. Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Bumi Manusia mengupas soal latar belakang kesadaran mogok yang disebutnya boikot. Mogok yang dilakukan kelas buruh efektif membuat ekonomi lumpuh. Suryopratomo, seorang bangsawan Yogyakarta kakak Ki Hajar Dewantara dikenal luas sebagai Raja Pemogokan setelah sukses mengorganisasi pemogokan buruh Kereta Api. Bentuk lain dari mogok (kerja), adalah mogok makan. Mahatma Gandhi Bapak Bangsa India merupakan salah satu aktivis yang mempopulerkan aksi mogok makan. Pada masa itu aksi mogok makan yang dilakukan Gandhi efektif, pemerintah kolonial Inggris di India ketakutan. Mogok makan ditakuti karena dikhawatirkan melahirkan martir yang menginspirasi perlawanan.
Namun hari ini, aksi mogok makan meskipun lazim dilakukan nyatanya tak banyak mengubah keadaan. Eskalasi ekstrimitas mogok makan pun sebenarnya telah dilakukan misalnya mogok makan dan menjahit mulut lebih dari 6 hari, namun tuntutan belum juga dikabulkan—aksi jahit mulut sering dilakukan untuk tuntutan SUTET misalnya. Salah satu penyebab mogok makan hari ini tidak efektif dilakukan karena pelaku bukanlah tokoh. Ketika melakukan mogok makan, Gandhi telah dikenal luas sebagai tokoh perlawanan. Dalam konteks Indonesia saat ini, tuntutan pada isu SUTET berpotensi berhasil bila mampu menggandeng ketua partai opisisi misalnya, untuk mogok makan dan menjahit mulutnya.
Model “konvensional” demonstrasi seperti pawai juga tak kurang dilakukan. Perjuangan tanpa kekerasan telah dipraktikkan oleh Chicho Mendez Pejuang Lingkungan dari Amazon Brazil. Mendez secara relatif dapat disebut berhasil menarik perhatian dunia, meskipun untuk itu ia harus membayar dengan nyawanya. Ia ditembak di rumahnya, bukan saat berdemonstrasi damai yang selalu dilakukannya. Di tanah air, aksi demonstrasi yang dilakukan dengan pawai dianggap tak banyak mengubah keadaan. Tak heran bila demonstran mencoba kreatif meningkatkan derajat ekstrimitas dalam pola geraknya.

Frekuensi, Kualitas dan Kuantitas
Mencermati metode demonstrasi yang kerap dilakukan pelbagai kelompok penekan (pressure gorup) akhir-akhir ini, saya mencatat terjadi perubahan pola gerak. Demonstrasi masih dilakukan dengan metode pawai, menggunakan pengeras suara, membawa simbol-simbol organisasi, tak sedikit pula yang menambahkan aksi teatrikal (happening art). Ditinjau dari agenda aksi, demonstrasi kali ini menggunakan pola yang sama dengan demonstrasi periode 1998, yakni membakar perlengkapan aksi seperti ban bekas, spanduk atau keranda. Para periode 1966 “ritual” membakar perlengkapan aksi bukan sesuatu yang lazim dilakukan.
Di lihat dari lokasi yang dipilih, terjadi pergeseran pola gerak yang signifikan dan mengindikasikan ekstrimitas tindakan. Pada periode 1998 lokasi yang umumnya dipilih adalah simbol-simbol negara seperti kantor bupati/walikota/gubernur atau Istana dan gedung DPRD/DPR. Tempat aksi di simbol-simbol negara dapat dipahami mengingat situasi nasional pada saat itu mengindikasikan terdapat “jarak aspirasi” antara demonstran sebagai warga negara dengan (aparatur) negara. Pada periode pasca reformasi, lokasi yang dipilih justru ruang publik (public space) seperti Bunderan HI, Monas (Jakarta), Perempatan Pos Besar (Yogya), Bundaran Gladag (Solo). Ruang publik dipilih untuk kepentingan taktis namun berpotensi menyebabkan paradoks ideologis. Taktis, karena ruang publik umumnya titik simpul keramaian. Demonstran semakin meyakini aksinya tidak hanya perlu diketahui, didengar dan dikabulkan/dilaksanakan oleh (aparat) negara, tetapi juga masyarakat secara luas. Secara ideologis, demonstran sesungguhnya berada pada kondisi “benci tapi butuh”. “Benci” pada “negara” namun sesungguhnya “negaralah” pihak yang paling mungkin mewujudkan tuntutannya.
Bahkan akhir-akhir ini, kita mendapati demonstran telah menggeser lokasi aksinya, tak hanya di ruang publik tetapi juga infrastruktur publik, seperti Bandara, jalan tol, jalan raya, bahkan rel kereta api. Pola gerak ini secara relatif baru menemukan momentumnya ketika beberapa tahun lampau buruh-buruh di Bekasi “mengajari” demonstran lain di tanah air ketika mereka memblokir jalan tol tatkala demonstrasi menuntut UMK, dan “berhasil”.
Keberhasilan satu demonstrasi ditandai dengan tercapainya atau terlaksananya tuntutan yang dilakukan. Untuk mencapainya secara umum dilakukan tiga strategi: frekuensi, kuantitas dan kualitas. Ketiga strategi ini harus dilakukan secara keseluruhan dan bersifat komplementer. Kuantitas atau jumlah massa demonstran yang besar saja, berpotensi gagal meyakinkan parapihak yang dituntut untuk mewujudkan tuntutan. Demonstrasi besar-besaran buruh setiap tanggal 1 Mei misalnya, mampu menghadirkan puluhan ribu buruh di seluruh tanah air namun tak ada perbaikan nasib buruh secara revolusioner. Sebabnya, frekuensi demonstrasi tidak dilakukan secara kontinu, karena demonstrasi 1 Mei lebih bersifat demonstrasi seremonial, memperingati May Day belaka.

Tak Anarkhis Tuntutan Tak Terwujud
Demonstrasi juga dilakukan dengan mempertimbangkan “kualitas”, yakni usaha-usaha pendudukan Bandara, jalan tol, jalan raya, dan yang terbaru jalur kereta api serta berakhir dengan bentrok dan penangkapan aktivis di berbagai tempat. “Kualitas” demonstrasi ini tentu harus ditinjau dari perspektif gerakan. Dalam perspektif gerakan hari ini, realitasnya demonstrasi yang “berkualitaslah” yang mampu mengubah eskalasi politik.
Dari perspektif gerakan, perjuangan untuk membatalkan kebijakan harus dibayar dengan frekuensi, kuantitas dan kualitas demonstrasi yang massif. “Kualitas” demonstrasi tentu bukan sesuatu yang menyenangkan, termasuk bagi demonstran, namun perhitungan psikologi lapangan membuat demonstran memilih pola gerak ini.
Tak ada yang salah dalam konteks ini, karena kepentingan bersifat nonetis. Pemangku kebijakan, demonstran termasuk aparat keamanan secara filosofis-non etis berhak memiliki kepentingan (tujuan). Celakanya, tujuan yang ada harus menegasikan tujuan kelompok lain. Agar tujuan dapat direalisasikan, kelompok kepentingan harus berbuat sesuatu. Eskalasi ekstrimitas demonstrasi dalam frekuensi, kuantitas dan kualitas demonstrasi dalam perskeptif teoretik kemudian dapat dipahami. Pada saat yang sama, kelompok yang dituntut juga perlu untuk memahami aspek-aspek psikologis demonstrasi dan demonstran sehingga dapat bersikap bijak terhadap demonstrasi dan demonstran.

*Febrie Hastiyanto; Alumnus Sosiologi FISIP UNS dan MAP FIA Universitas Brawijaya. Pernah meneliti Gerakan Mahasiswa Solo dan Indonesia 1996-1998.

Dimuat Fajar Sumatera, 2 November 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: