Archive for November, 2015

Studi Interteks dalam Konservasi Situs Manusia Purba

November 25, 2015

PARADIGMA pengembangan situs purbakala termasuk di dalamnya situs manusia purba telah memasukkan konsep pelibatan masyarakat sebagai bagian integral pengembangan situs. Bila sebelumnya pelibatan masyarakat lebih banyak dimaknai pada aspek-aspek pemanfaatan potensi ekonomi-pariwisata situs oleh masyarakat, kini usaha pelibatan masyarakat mulai diperluas pada aspek konservasi. Situs-situs yang semula hanya dikonservasi oleh para ahli, kini membuka diri terhadap peran masyarakat untuk turut melakukan konservasi. Pada periode-periode awal konservasi situs purbakala, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga teknis lapang penemuan dan pengumpulan koleksi. Namun kini, seharusnya masyarakat dilibatkan dalam skema yang lebih strategis, misalnya konservasi dalam konteks memaknai koleksi-koleksi situs. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sofistikasi Bahasa

November 16, 2015

Tak hanya sebagai media dalam menyampaikan gagasan dalam berkomunikasi, bahasa sekaligus menjadi penanda kapasitas intelektual seseorang sehingga menempatkannya dalam kedudukan sosial tertentu. Tak sedikit dari kita memiliki beban tersendiri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa. Seorang Ayah akan memilih diksi yang sekaligus dapat menunjukkan kewibawaan di hadapan anaknya. Seorang wakil pihak calon mempelai laki-laki tak jarang menghapal kalimat-kalimat yang akan disampaikannya dalam prosesi melamar calon mempelai perempuan untuk menunjukkan keseriusan niat dan kekhidmatan prosesi itu sendiri. Situasi ini mendorong lahirnya sofistikasi bahasa. Sofistikasi bahasa diambil dari akar kata sophisticated yang sering diterjemahkan sebagai canggih. Seturut dengan terjemah itu, sofistikasi bahasa secara sederhana adalah usaha mencanggihkan bahasa. Membuat bahasa memiliki makna baru, memiliki nilai rasa tertentu, yang menjadikannya tidak biasa-biasa lagi. Baca entri selengkapnya »

Strategi Kebudayaan dan Multikulturalitas

November 16, 2015

Telah menjadi realitas sejarah bahwa bangsa kita, Indonesia berdiri di atas lansekap keberagaman. Etnis, agama, kelompok kepentingan yang ada berbeda sekaligus banyak jumlahnya. Sejak lama pula kita merumuskan dan menerapkan strategi kebudayaan memaknai keberagaman yang ada. Secara sosiologis, tak dapat dihindarkan sentimen-sentimen in group dan out group; orang “sini” dan orang “sana.” Pada mulanya, politik kebudayaan cenderung ingin mengelompokkan orang sana” menjadi orang “kita.” Sejarah pembentukan nasion banyak bangsa seringkali diwarnai oleh politik aneksasi. Strategi kebudayaan ini dapat disebut sebagai etnosentrisme (Nurdaya, 2012). Padahal hampir pasti setiap kebudayaan selalu ingin independen, selalu ingin mengaktualisasikan dirinya sendiri, serta selalu menolak menjadi orang lain. Konflik kemudian menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Perasaaan-perasaan identitas yang berlebihan cenderung memicu peniadaan identitas lain. Genosida-genosida atas nama etnis, agama, atau ideologi mewarnai perjalanan peradaban manusia. Sudah tentu kita tak ingin mengulangi dampak terburuk perasaan identitas yang berlebihan ini. Strategi kebudayaan alternatif, sebagai antitesis etnosentrisme kemudian disusun dan coba diamalkan. Bentuknya paling tidak ada dua: integrasi budaya (melting pot, cawan peleburan) dan pluralisme atau multikulturalisme (Nurdaya, 2012). Baca entri selengkapnya »

Politik, Etika dan Demonstran

November 2, 2015

Demonstrasi seringkali digunakan sebagai taktik dalam perjuangan. Kehadirannya tak jarang ditunggu dan sebagian yang lain memberi catatan: demonstrasi dilakukan secara tidak anarkhis. Kita tak hendak meributkan definisi anarkhi sebagai ideologi nirnegara. Anggap saja kita setuju istilah anarkhi digunakan untuk menggambarkan kondisi chaos, rusuh alias rusak-rusakan. Pertanyaannya kemudian sungguh menggelitik saya: mengapa demonstran masih menggunakan pola-pola aksi yang berpotensi bahkan terkesan sengaja dilakukan secara anarkhis? Baca entri selengkapnya »