Situs Semedo sebagai Museum dan Pusat Studi Teori Kreasionisme

April 21, 2015

Situs Semedo terletak di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal. Sejak tahun 1990-an masyarakat Semedo telah menemukan fosil-fosil hewan purba. Namun baru pada tahun 2005 masyarakat melaporkan kepada LSM dan pemerintah kabupaten yang kemudian diteruskan ke Balai Arkeologi Yogyakarta. Sejak 2005 pula inventarisasi keberadaan fosil mulai serius dilakukan. Saat ini paling tidak terdapat 2.947 fosil yang keberadaannya ditengara berasal dari peradaban 1,5 juta tahun lalu. Tahun 2007 mulai ditemukan peralatan hidup manusia purba, yang kini telah terkumpul hingga 300 artefak. Penemuan peralatan hidup manusia purba semakin membuka kemungkinan bahwa di Semedo pernah ada peradaban manusia purba. Penantian dan pencarian itu berujung pada Mei 2011, saat ditemukan fosil yang oleh penelitian Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dinyatakan sebagai fosil Homo Erectus. Fosil ini diberi nama Semedo 1.

Sejak saat itu Situs Semedo semakin menarik perhatian pemerintah dan publik. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menginisiasi penyusunan masterplan dan detail engineering design pengembangan Situs Semedo. Direncanakan Situs Semedo akan dikembangkan menjadi museum, sebagai pusat pelestarian termasuk di dalamnya penelitian terhadap keberadaan manusia purba dan destinasi pariwisata baru. Pemerintah provinsi dan kabupaten tak mau ketinggalan. Saat ini sedang diinisiasi Memorandum of Understanding (MoU) antara ketiga level pemerintahan tersebut.

Perspektif Pembeda
Secara keilmuan, keberadaan Situs Semedo akan memperkaya khazanah persebaran Homo Erectus di Jawa. Bila sebelumnya fosil Homo Erectus banyak ditemukan di Jawa bagian timur sejak Sragen hingga Mojokerto, telah ditemukan pula fosil Homo Erectus di Jawa bagian barat. Tak heran bila komunitas arkeologi bersemangat untuk mendalami dan menjelaskan keberadaan fosil Homo Erectus di Tegal. Hasil penelitian nantinya akan dirangkum dan ditampilkan dalam Museum Semedo yang sedianya akan dibangun.
Pertanyaannya kemudian, apa nanti yang akan disajikan oleh Museum Semedo? Museum Sangiran yang lebih dulu dikenal sebagai lokasi ditemukan fosil manusia purba di Jawa telah dibangun dengan megah dan modern. Di Situs Sangiran bahkan telah dibangun 4 (empat) klaster museum, yaitu di Krikilan, Dayu, Bukuran, dan Ngebung. Di empat klaster ini keberadaan manusia purba telah dideskripsikan secara komprehensif. Museum Sangiran, sebagaimana museum manusia purba lain atau museum yang menampilkan display manusia purba sebagai bagian dari koleksinya dibangun berdasarkan perspektif teori evolusi. Dalam diskursus arkeologi pendekatan evolusionisme memang telah menjadi mainstream dalam menginterpretasikan keberadaan fosil manusia purba. Memilih pendekatan evolusionisme memang tidak keliru, karena pendekatan yang dipilih secara ilmiah tentulah argumentatif, meskipun kita tahu selain pendekatan evolusionisme juga ada pendekatan-pendekatan lain dalam memaknai keberadaan manusia purba, seperti pendekatan kreasionisme maupun pendekatan berdasarkan pengetahuan agama dan budaya.

Mengingat keberadaan Situs Semedo dan Situs Sangiran memiliki banyak persamaan, antara lain fosil yang ditemukan maupun lokasi dalam provinsi yang sama, membangun Museum Semedo yang “mirip” Museum Sangiran sudah tentu tidak strategis. Pengunjung museum tentu tak mendapat banyak pengalaman, bila informasi yang ada di Museum Sangiran juga sama persis dengan informasi di Museum Semedo. Untuk itu Museum Semedo perlu menempatkan diri dengan membangun museum pembeda, antara lain konsep dasar, perspektif dan story line museum. Konsep dasar yang dapat dipilih Museum Semedo misalnya menjadi museum dan pusat studi pelestarian manusia purba berdasarkan pendekatan kreasionisme.

Pusat Studi Kreasionisme
Memilih pendekatan kreasionisme sebagai konsep dasar dan story line Museum Semedo memiliki makna strategis, baik Museum Semedo sebagai pusat penelitian manusia purba maupun sebagai destinasi wisata baru. Perbedaan pendekatan akan menjadikan Museum Semedo sebagai museum pertama dan (bisa jadi) satu-satunya di dunia yang menginterpretasikan manusia purba melalui pendekatan kreasionisme. Pendekatan kreasionisme merupakan pendekatan yang dalam definisi sederhana memaknai keberadaan manusia purba sejak Pithecantropus, Homo Erectus hingga Homo Sapiens bukan bersifat evolutif. Masing-masing spesies (pernah) ada, bisa jadi pernah hidup dalam satu kala, kemudian spesies yang satu punah dan spesies yang lain tidak punah. Kepunahan spesies Pithecanthropus dan Homo Erectus bisa jadi disebabkan oleh faktor alam dan sosial, bukan faktor evolusi antarspesies.

Saat ini masih banyak pandangan termasuk kalangan arkeologi sendiri yang bias dalam mendudukkan pendekatan kreasionisme. Pendekatan kreasionisme dianggap semata-mata berdasarkan pada pengetahuan (knowledge) agama dan dengan demikian tidak diklasifikasikan sebagai ilmu (science). Padahal kreasionisme sesungguhnya juga dapat diinterpretasikan berdasarkan ilmu. Misalnya interpretasi aspek hominid manusia purba yang mampu membuat peralatan hidup sehingga membedakannya dengan hewan. Aspek hominid ini oleh pendekatan evolusionisme menjadi pembangun argumentasi bahwa manusia purba adalah jenis manusia dan bukan hewan. Manusia modern adalah perkembangan evolutif dari manusia purba. Pada fakta yang sama, kreasionisme dapat menggunakan pendekatan yang berbeda. Benar bahwa manusia purba memiliki (salah) satu aspek hominid, yaitu kemampuan menggunakan peralatan hidup.

Namun menurut penelitian Prof. Teuku Jacob seorang paleontolog terkemuka, menyebutkan bila manusia purba tidak memiliki kemampuan berbahasa. Sejarah peradaban diwariskan melalui sistem bahasa. Tanpa bahasa, manusia purba sesungguhnya tidak memiliki salah satu aspek hominid terpenting. Kreasionisme dapat menyimpulkan bahwa manusia purba tak dapat dikelompokkan sebagai manusia dan bukan bagian dari evolusi manusia karena fosil spesies-antara hingga kini memang tidak ditemukan.

Teori evolusi misalnya, menyebut ada missing link antara Homo Erectus ke Homo Sapiens. Manusia purba sebelum Homo Erectus memiliki kesamaan karakteristik hingga 90% sehingga oleh teori evolusi dianggap sebagai pentahapan perkembangan manusia. Namun kesamaan karakteristik antara Homo Erectus dengan Homo Sapiens tidak lebih dari 10%. Persentase antara 10%, 20% hingga 90% sama antara Homo Erectus dan Homo Sapiens disebut sebagai missing link. Pendekatan kreasionisme memiliki pandangan yang lebih sederhana dalam memaknai kesamaan dan dugaan missing link ini. Bahwa missing link tidak pernah ada, dan kesamaan karakteristik hingga 90% tidak mengandaikan terjadinya evolusi. Seumpama bebek dan ayam yang memiliki karakteristik yang secara kasat mata tampak sama, namun tidak cukup kuat dijadikan argumentasi bahwa bebek merupakan evolusi dari ayam.

Sudah tentu masih banyak aspek yang perlu diteliti dalam pendekatan kreasionisme. Untuk itu Museum Semedo seharusnya tidak hanya menjadi museum, tetapi juga menjadi pusat studi. Bila selama ini pendekatan kreasionisme cenderung tidak berkembang, sangat mungkin karena memang tidak sungguh-sungguh dikembangkan. Museum Semedo nantinya diharapkan berkontribusi nyata meminimalkan kelangkaan pustaka dan bias dalam pendekatan kreasionisme dalam khazanah pelestarian manusia purba di dunia.

Febrie Hastiyanto; Alumnus MAP FIA Universitas Brawijaya

*Dimuat Jurnal IdeA, Edisi 16 Tahun VIII Desember 2014

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: