Belajar dari Model Gerakan Kelas Menengah

Januari 14, 2015

Meskipun sering dijadikan kajian di bidang ilmu sosial, sesungguhnya definisi kelas menengah masih sering diperdebatkan, meliputi pertanyaan pokok: siapa saja yang tergolong kelas menengah di tanah air dan terutama bagaimana karakteristik peran dan partisipasi politik kelas menengah. Pada masa orde baru, kelas menengah kerap diasosiasikan sebagai kelas ekonomi, yang kemudian kita kenal sebagai “kelas ekonomi menengah ke atas.” Berbarengan dengan itu, lahir pula deskripsi kelas menengah menurut kategori lapis usia (kohort), yakni sebagai kelompok kaum muda berusia di bawah 50 tahun. Definisi yang ada dianggap kurang komprehensif sehingga kelas menengah kemudian dikelompokkan sebagai kelompok profesional yang nonpartisan namun tak apolitis. Sebagai kelompok profesional ia jelas bukan bagian dari negara (state) berikut aparatusnya, sekaligus ia juga bukan secara khusus sebagai kelompok aktivis (social society). Sebagai profesional kelas menengah adalah kelompok yang relatif mapan secara ekonomi, berusia muda (di bawah 50 tahun) dan yang paling penting menjadi aktor pendorong perubahan (agent of change). Karakteristik terakhir terutama dipengaruhi oleh sebab derajat pendidikan tinggi yang telah dienyam kelas menengah.

Model Gerakan
Meskipun nonpartisan, kelas menengah di tanah air tidak absen dalam panggung politik. Karakteristik partisipasi dan peran politik yang dimainkan kelas menengah di Indonesia menarik untuk didiskusikan. Pada sejumlah kasus yang menjadi isu publik, keterlibatan kelas menengah dengan karakteristik gerakannya ternyata mampu mendorong perubahan. Partisipasi dan peran politik kelas menengah kontemporer di tanah air seringkali dilakukan secara sederhana, menggunakan metode-metode tak mainstream, bahkan—ini yang menarik—dapat dilakukan secara “sambil lalu” namun tetap memiliki retorika politik.
Model gerakan politik kelas menengah banyak memanfaatkan kekuatan penetrasi media sosial (social media). Pola geraknya dilakukan secara massif namun membutuhkan energi yang relatif sedikit ketimbang pola gerak politik konvensional. Model gerakan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya dalam wacana ilmu sosial di tanah air misalnya, justru lahir dari peran politik kelas menengah. Pada Gerakan 1 Juta facebook pendukung Bibit S. Riyanto dan Chandra M. Hamzah, dua pimpinan KPK vs Komjen Susno Duadji, pimpinan Polri dalam isu Cicak vs Buaya misalnya. Dalam melakukan partisipasi politik, kelas menengah Indonesia cukup melakukan klik pada menu “suka” pada tampilan facebook mereka. Gerakan politik yang “tak serius,” bahkan dapat dilakukan dari belakang meja saat rehat bekerja atau ketika chatting dan browsing internet di kafe dan mal sebagai pembunuh bosan. Revolusi virtual yang tak berdarah dan berkeringat ini nyatanya secara efektif mampu menekan perumusan kebijakan (hukum) di tanah air. Pola gerak yang dilakukan kelas menengah ternyata dianggap lebih “menarik” ketimbang pola gerak yang telah umum dilakukan, semisal petisi, cap jempol darah, mogok makan atau aksi jahit mulut yang seringkali berakhir secara tak efektif.
Model gerakan lain yang tak terbayangkan sebelumnya oleh gerakan politik konvensional adalah pengumpulan koin. Gerakan koin bermula dari kasus Prita Mulyasari yang kemudian diadopsi pada banyak gerakan sosial lain, seperti koin Bilqis atau koin KPK. Gerakan ini sungguh sederhana, mengumpulkan uang recehan yang biasanya diberikan kepada pengemis atau pengamen di jalanan. Nilai uang yang minimal menjadi besar maknanya ketika dikumpulkan dengan akumulasi kegelisahan dan “kemarahan.” Recehan yang nilai tukarnya rendah menjadi besar retorikanya ketika berjumlah satu truk plus wacana gencar di media sosial. Pola gerak ini seolah menegasikan pola gerak yang sering dilakukan aktivis dengan menyorongkan kardus sumbangan di perempatan jalan saat terjadi bencana. Pola yang pertama dilakukan secara sistematis dan tepat tujuan, metode yang kedua kerap dipandang sinis oleh masyarakat terutama menyangkut akuntabilitas publik pengelolaan dana.
Pola gerak lain yang kini mulai populer dilakukan adalah demonstrasi a la kelas menengah. Memanfaatkan momentum car free day, kelas menengah sering melakukan “demonstrasi” secara “kalem.” Mereka menggelar pentas musik bahkan mengundang musisi kenamaan. Mereka pun melakukan senam bersama dan sudah tentu jogging dan bersepeda namun tak lupa membentangkan spanduk dan bergantian berorasi. Masing-masing mengisi hari minggu dengan ceria, namun merasa telah melakukan “sesuatu” dalam politik di tanah air. Mereka bersikap nonpartisan namun tak apolitis, selalu up date terhadap perkembangan isu terkini.
Sungguh “demonstrasi sehat” ini secara efektif menggugat metode demonstrasi konvensional seperti memacetkan jalanan ibukota, membakar ban dan keranda, memblokade jalan, merobohkan pagar gedung-gedung lokasi tujuan demonstrasi serta bentrok dengan aparat keamanan. Metode demonstrasi ini baru efektif bila derajat bentrok semakin besar. Resistensi yang ditunjukkan dengan keras umumnya membuat proses formulasi kebijakan ditunda sejenak sebagai colling down. Efektivitas pola gerak ini cenderung tak efisien karena biaya politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan dikeluarkan tak sebanding dengan tujuan yang dicapai.
Meskipun nonpartisisan, kelas menengah di tanah air ternyata tidak apolitis. Mereka justru produktif menginisiasi model-model gerakan yang dapat dilakukan tanpa perlu berdarah-darah dan berkeringat namun efektif mempengaruhi formulasi kebijakan. Sudah barang tentu, model gerakan ini terbuka diadopsi dan diinovasi siapa saja yang menginginkan proses demokrasi di tanah air berjalan secara menarik dan menyenangkan.

*Febrie Hastiyanto; Alumnus Magister Administrasi Publik FIA Universitas Brawijaya.

** Dimuat Lampung Post, 4 November 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: