Isu Internasional dalam Gerakan Mahasiswa

Oktober 15, 2012

Sebagai kelompok penekan (pressure group) dalam ranah gerakan ekstraparlementer, Gerakan Mahasiswa di tanah air nyaris tak pernah absen menyikapi isu-isu aktual dalam kehidupan bangsa. Isu-isu seperti korupsi, Pemilu dan Pemilukada hingga soal-soal serius macam kedaulatan, kepemimpinan nasional maupun kebangsaan pada umumnya selalu mendapat tanggapan serius dalam diskursus Gerakan Mahasiswa. Isu-isu internasional yang paling menarik perhatian dalam Gerakan Mahasiswa apa lagi kalau bukan gurita kapitalisme yang mencemari hampir setiap ranah kehidupan, termasuk isu–isu lingkungan macam global warming. Padahal komunitas internasional telah mengkodifikasi wacana dalam sejumlah isu, diantaranya Millenium Development Goals (MDGs) atau Sasaran Pembangunan Milenium, Education For All (EFA) yang diterjemahkan menjadi Pendidikan Untuk Semua (PUS) maupun Human Development Index (HDI) yang dikenal pula sebagai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hingga hari ini masih sedikit Gerakan Mahasiswa yang serius berbicara soal isu-isu internasional yang ‘resmi’ ini—karena telah menjadi bahasa pemerintah kita dalam wacana pembangunan nasional—meskipun isu-isu parsial di dalamnya juga menjadi kegelisahan Gerakan Mahasiswa. Gerakan Mahasiswa sesungguhnya banyak berbicara soal kemiskinan, pendidikan maupun merosotnya daya beli masyarakat. Namun soalnya, Gerakan Mahasiswa tak membingkainya dalam isu MDGs, EFA, maupun HDI sehingga berpotensi menimbulkan kesan Gerakan Mahasiswa tak peka dengan isu-isu internasional ini.

MDGs

MDGs merupakan komitmen internasional yang berisi 8 butir kesepakatan yang diteken 147 kepala Negara dan kepala pemerintahan—dari 189 negara yang hadir—dalam KTT Milenium di New York, September 2000 silam. KTT Milenium menyepakati sejumlah target pada tahun 2015, dengan data dasar tahun 1990. Oleh Bappenas, untuk melaksanakan Sasaran Pembangunan Milenium di tanah air telah disusun Peta Jalan (roadmap) Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia sebagai Rencana Aksi Nasional (RAN) Percepatan Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) yang diturunkan menjadi Rencana Aksi Daerah (RAD) Percepatan Pencapaian Sasaran Pembangunan Milenium/MDGs di Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Sasaran Pembangunan Milenium ini berisi target untuk menanggulangi kemiskinan dan kelaparan ekstrem. Secara sederhana sasaran pertama ini dapat disederhanakan dalam tiga kebijakan kunci: meningkatkan pendapatan, membuka kesempatan kerja dan mengurangi jumlah penderita kelaparan.

Sasaran kedua MDGs adalah menjamin pendidikan dasar untuk semua, laki-laki dan perempuan pada tahun 2015. Sasaran ketiga yang disepakati dalam MDGs adalah mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dengan tiga kebijakan utama yakni menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan; memfasilitasi kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertaninan serta mendorong peningkatan proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR/D.

Masih ada sasaran keempat MDGs, yakni mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan balita pada tahun 2015 menurut data dasar 1990. Sasaran kelima yang masih berhubungan dengan isu kesehatan adalah komitmen untuk meningkatkan kesehatan ibu yang diderivasikan dalam dua kebijakan utama, masing-masing menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) hingga tiga perempat dalam kurun waktu 1990–2015 dan mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015. Program Jaminan Persalinan (Jampersal) merupakan salah satu program yang didesain sebagai terjemah kebijakan ini. Sasaran lain yang tak kalah penting adalah sasaran untuk memerangi HIV dan AIDS, Malaria dan Penyakit Menular lainnya. Sasaran ini diturunkan dalam tiga kebijakan kunci yakni mengendalikan dan menurunkan kasus HIV/AIDS, mempermudah akses pengobatan HIV/AIDS serta mengendalikan dan menurunkan kasus penyakit Malaria dan Tuberkolosis pada tahun 2015.

Isu-isu lingkungan termasuk salah satu sasaran MDGs yang mendapat porsi perhatian yang besar. Sasaran MDGs yang ketujuh yakni memastikan kelestarian lingkungan hidup yang diturunkan menjadi empat kebijakan, yakni sinergi kebijakan dan program pengelolaan lingkungan hidup lestari, menanggulangi secara serius kerusakan keanekaragaman hayati, menjamin akses air minum layak dan sanitasi dasar serta penataan permukiman kumuh utamanya bagi masyarakat di perkotaan. Sasaran lain yang tak kalah penting dalam MDGs adalah meningkatkan kerjasama internasional dalam pembangunan.

Alat Ukur Kinerja

Isu-isu internasional lain yang—seharusnya—menjadi perhatian pemerintah adalah EFA dan HDI. EFA atau Pendidikan Untuk Semua (PUS) merupakan komitmen untuk menjamin akses publik terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar (di Indonesia ditetapkan paling kurang hingga SMP), pendidikan keaksaraan fungsional, kesetaraan gender, pendidikan kecakapan hidup dan peningkatan mutu pendidikan. Berbeda dengan komitmen Pendidikan Untuk Semua (PUS) yang memberi perhatian khusus pada pendidikan, HDI atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah menjadi alat ukur kinerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah melalui pencapaian Angka Melek Huruf (AMH) dan Angka Lama Sekolah (ALS), Usia Harapan Hidup (UHH) dan paritas daya beli masyarakat.

Sudah saatnya Gerakan Mahasiswa hari ini tidak melulu gaduh dan larut dalam menyikapi isu-isu domestik yang sedang hangat dalam masyarakat, yang sekaligus menyiratkan peran mahasiswa sebagai Gerakan Reaksioner. Komitmen untuk sungguh-sungguh mengawal, mengkritisi, mengingatkan dan menuntut pemerintah untuk mewujudkan komitmen internasional dalam MDGs, EFA dan HDI sesungguhnya merupakan partisipasi yang lebih terukur bagi Gerakan Mahasiswa sebagai harapan rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kehidupannya yang kian galau hari-hari terakhir ini.

*Febrie Hastiyanto; Alumnus Sosiologi FISIP UNS. Pernah meneliti Gerakan Mahasiswa 1998 di Solo dan Indonesia.

Dimuat Lampung Post, Kamis 4 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: