Tamasya Paling Firdaus

Juni 25, 2012

:mengingat Nenenda (1939-1993) di Blambangan Umpu.

KEBAHAGIAAN laki-laki belia itu dimulai sejak fajar masih gelap. Malam yang dingin telah usai, dituntaskannya dari balik selimut berbulu, hangat, bermotif belang-belang putih-hitam. Tanpa sempat merapikan selimut, laki-laki belia itu telah takzim berdiang di depan tungku. Menemani Nenenda yang sepagi ini telah larut dalam pisang yang digoreng dalam wajan besar. Api sesekali meredup sebab arang berselimut abu. Namun Nenenda selalu siap dengan semprong bambu yang ditiup, membuat abu berterbangan.

Laki-laki belia itu mengucek matanya. Sebab abu dan sedikit kantuk. Sesungguhnya laki-laki belia itu sedang menghabiskan masa liburan sekolah dasarnya. Seperti diajarkan dalam cerita-cerita anak, tamasya paling firdaus adalah berlibur di rumah nenek, di desa. Laki-laki belia itu tinggal di kota kecamatan yang tak ramai, di kabupaten tetangga. Baginya tak ada bedanya berlibur di rumah nenek atau di rumahnya sendiri, keduanya dihabiskannya dalam sepi.

Laki-laki belia itu telah berdamai dengan sepi. Tak ada faedahnya mengutuk kesendirian apalagi bila dicampur sunyi. Selain tak produktif juga semakin membuatnya salah tingkah. Akan berbuat apa dalam sepi dan sendiri? Laki-laki belia itu memilih menikmati sepi dalam detailnya. Ia lebih banyak menikmati fajar ini tanpa kata-kata. Nenenda cekatan menggoreng pisang, ubi, tahu isi, juga bakwan, semua tanpa kata-kata. Minyak goreng berbuih sesaat setelah pisang berlumur tepung dicelupkan. Tepung yang kepanasan dalam minyak goreng mengeluarkan bunyi berdesis. Mata laki-laki belia berkhayal dalam gelembung buih minyak goreng. Teringat ibunya di rumah. Sepagi ini ibunya tentu belum bangun. Namun beberapa waktu lagi ibu telah bangun dan mandi. Menyiapkan sarapan bersahaja, lalu mereka semua cepat-cepat meninggalkan rumah. Ibu ke Puskesmas, menjadi perawat. Bapak mengajar di Sekolah Dasar desa sebelah. Laki-laki belia itu juga harus berpakaian putih-merah dan bergegas ke Sekolah Dasar.

Nenenda membalik pisang yang telah berwarna coklat muda. Setelah menaruh spatula di rantang penampung tetesan minyak goreng, ia beralih ke baskom yang lain. Menuang air dalam terigu, membumbuinya dan mengaduknya hingga tepung dan air tercampur rata dalam adonan. Tahu gepeng disayat, diisi dengan irisan kol, wortel dan daun bawang. Tahu kemudian dicelup ke dalam adonan, lalu cepat-cepat dicemplungkan dalam minyak goreng panas. Masih sepi, tanpa kata. Kakek pastilah telah bangun dan kini sedang menimba air untuk mandi orang satu rumah, kemudian memandikan dua ekor sapi di kandang, membersihkan kotorannya.

Laki-laki belia itu menikmati urat dipunggung lengan Nenenda dalam pandangnya. Jemarinya belepotan adonan tepung, kontras tepung yang putih dalam kulitnya yang sawo matang keriput tua. Sehabis melumuri tahu dan menggoreng, tangannya dibasuh dalam baskom bilas. Kemudian mengambil lap, mengeringkan tangannya. Lalu mulai mengiris-iris ubi. Laki-laki belia itu kembali teringat ibunya. Menemani ibunda memasak di rumah sesungguhnya lebih menyenangkan. Ibu sering mengajaknya bercakap-cakap. Menanyakan pelajaran tadi di sekolah. Menanyakan besok ia ingin makan apa. Sesekali ayah menimpali, sambil menyemir sepatu di kursi makan. Selebihnya rumah laki-laki belia itu lebih banyak sepi, kecuali saat ibunda menyiapkan sarapan atau memasak untuk makan malam. Dapur di rumah mereka sempit, namun karenanya menjadi hangat. Oleh sayang yang tercurah dan kebahagiaan dalam menu sederhana yang tertumpah.

Tahu dalam wajan diaduk-aduk. Laki-laki belia itu juga mengaduk emosinya. Ia anak tunggal atau tepatnya anak pertama dari ayah dan ibunya selama 11 tahun ini ia belum memiliki adik. Ia juga cucu pertama dari neneknya sebelum bibinya berkeluarga dan kelak memiliki anak. Dalam sepi pula ia larut dalam liburannya. Nenenda telah sibuk semenjak fajar, menggoreng kue untuk dijual di Pasar Pagi. Setelah matahari mulai tinggi ia baru pulang dari pasar, beristirahat sebentar sebelum menyiapkan masakan untuk dimakan malam nanti. Kakek pagi-pagi akan pergi ke sawah sekaligus menggembala dua sapi. Pulang setelah hari sesaat lagi berganti gelap.

Di rumah Nenenda yang besar laki-laki belia itu mengimpit sepi dalam khayalnya. Tak ada listrik di desa ini, karena itu harapan-harapan untuk menonton film kartun cepat-cepat ia kandaskan. Rumah di desa itu jarang jumlahnya, berselang-seling letaknya diantara kebun dan sawah. Anak-anak sebayanya sedikit, banyak pula yang bekerja membantu orang tua. Laki-laki belia itu tak menyesali saat ia mendapati usahanya memulai pergaulan rasanya sulit bukan main. Terbiasa larut dalam sepi, laki-laki belia itu menjadi tak terbiasa bercakap-cakap dengan orang baru.

LAKI-LAKI belia itu tak ingin waktu cepat berlalu. Setelah pisang digoreng, lalu ubi, lalu bakwan dan tahu isi, Nenenda akan segera mandi dan berkemas-kemas. Kue-kue harus segera dijual ke pasar sebab banyak pedagang yang akan membeli kue Nenenda dan menjualnya kembali. Nenenda tak pernah mengajak laki-laki belia turut ke Pasar Pagi melalui kata-kata. Laki-laki belia itu tahu, saat Nenenda merias diri di depan kaca almari di ruang tengah, ia harus cepat-cepat menyudahi mandi pagi bila ingin turut ke Pasar Pagi. Mandi paginya selalu istimewa. Kemanjaan itu juga dinikmatinya tanpa kata-kata. Sebelum memandikan sapi, Kakek telah menjerang air dan menyimpannya dalam dua termos air panas. Laki-laki belia itu sendiri yang nanti menuangnya dalam bak plastik besar, dua termos air panas ditambah banyak air. Berendam sendiri di kamar mandi.

Kamar mandi Nenenda luas, setidaknya dibanding kamar mandi laki-laki belia itu di rumah. Lantainya tegel berwarna kuning keemasan, dahulu. Kini tegelnya kuning pudar, sebab tua. Kamar mandi selalu bersih karena Bibi menyikatnya dua-tiga hari sekali. Bibi melewatkan paginya dengan efisien. Setelah bangun pagi, segera merapikan ranjang laki-laki belia. Merapikan selimut berbulu, hangat, bermotif belang-belang putih-hitam. Lalu menyapu halaman, menyapu lantai rumah, mengepelnya dengan karbol wangi. Kalau masih sempat Bibi menyiram tetanaman di halaman. Sebagian bunga dalam pot, banyak yang lain ditanam di taman kecil yang dibuat sendiri oleh Bibi. Setelah semua beres Bibi harus cepat-cepat mandi, menunggu Oom tunangan bibi. Mereka akan menghabiskan pagi hingga sore nanti bekerja sebagai staf administrasi di Perusahaan Perkebunan.

Laki-laki belia itu suka mendengar Bibi bertanya ini-itu kepada Nenenda: nanti ia akan pulang agak sore karena harus lembur mengejar laporan semester kepada Direksi, atau pesan minta dimasakkan sayur ini, atau mengatakan rencana Oom tunangan Bibi malam nanti akan berangkat mengikuti Penataran di Jakarta. Bibi bercakap-cakap sambil menyapu dapur, atau sambil memeras lap pel, atau sambil mengisi air dalam ember untuk menyiram bunga-bunga di halaman. Laki-laki belia itu tak pernah menyela percakapan Bibi dan Nenenda. Ia larut dalam mandi air hangat dalam bak besar di kamar mandi. Laki-laki belia itu juga jarang bercakap-cakap dengan Bibi. Meski demikian ia tahu apa-apa yang dilakukan Bibi dari menguping percakapannya dengan Nenenda. Bibi bersikap baik kepada laki-laki belia itu. Hampir setiap tahun ajaran baru Bibi selalu menghadiahkan sesuatu. Pernah membelikan sepatu. Pernah membelikan baju seragam. Kalau membeli dua lusin buku tulis, buku gambar, pensil, pulpen, karet penghapus, peraut, mistar segitiga, jangka, selalu.

Air hangat dalam bak mulai mendingin. Laki-laki itu masih betah berendam. Memejamkan matanya, memandangi ikan wader di kolam bak mandi mereka dalam angannya. Bibi berdebat keras dengan kakek soal wader ini. Katanya, masa kita mandi dengan air yang amis ikan wader. Kakek mengibaskan tangannya. Ia kemudian membisikkan sesuatu pada Bibi. Laki-laki belia itu dapat mendengar bisik itu. Kata Kakek: sudahlah. Hanya satu minggu liburan ini. Setelah itu wader silakan Bibi buang, kalau mau digoreng boleh. Bibi merengut, namun Kakek cepat-cepat menambahkan: kasihan, ia tak ada hiburan, cuma satu minggu ini saja.

Laki-laki belia itu menenggelamkan dirinya dalam bak plastik besar air hangat. Ia tak pernah meminta wader itu. Nenenda yang membelikan, hidup-hidup di Pasar Pagi kemarin. Laki-laki belia itu senang memandangi wader-wader dalam bak plastik besar. Masalah baru terjadi saat bak plastik besar itu akan dipakai untuk mandi air hangat pagi ini. Kakek memasukkan wader-wader ke dalam bak mandi besar dari marmer. Bibi pagi ini mandi dari ember yang diisi air langsung dari sumur.

Rumah Nenenda lengang. Laki-laki itu boleh memilih aktivitas apa saja: ikut Nenenda ke Pasar Pagi, bersama kakek ke sawah, juga pernah menemani Bibi ke Perusahaan Perkebunan. Laki-laki belia itu gembira saat Bibi mengajaknya ke Perusahaan Perkebunan. Selama Bibi bekerja, mengetik ini-itu, keluar masuk ke ruangan yang lain, laki-laki belia duduk manis di kursi kayu. Ia meneliti sandal yang dipakainya, terbuat dari karet, kalau talinya putus bisa dibuat ban mobil-mobilan. Puas menikmati sandalnya, laki-laki belia berjalan-jalan di sekitar kantor. Memandangi bebungaan lama-lama. Kemudian memandang pagar kawat berduri. Membuang pandang pada jalan aspal di sekeliling perusahaan. Waktu berjalan lambat. Sedari tadi baru pukul 10.30. Laki-laki belia itu kemudian meminjam koran kepada Bibi. Mengunyah pelan-pelan berita yang berat dibaca. Koran tak menarik, laki-laki belia itu membuatnya menjadi kapal terbang. Sisanya dibuat kapal laut. Juga masih bisa dibuat burung dan robot-robotan. Laki-laki itu kemudian larut dalam khayal. Tak lama bel berbunyi, pukul 12.00, waktunya istirahat.

PAGI tadi ibu datang bersama ayah, hendak menjemput laki-laki belia. Liburan hari ini berakhir, besok pagi mulai sekolah kembali. Rumah Nenenda menjadi ramai. Kakek sengaja tak ke sawah. Bibi sedang libur hari minggu. Nenenda cepat-cepat kembali dari pasar setelah dagangannya habis. Di meja makan mereka berkumpul, menikmati semur bebek buatan Nenenda. Laki-laki belia merasakan dirinya mengembang dalam jiwa yang penuh sayang. Laki-laki belia itu menjadi dirinya kembali. Ia berjanji dalam hati liburan catur wulan depan ke rumah Nenenda lagi.

Semarang, 10 Mei 2011.

Febrie Hastiyanto;

Dimuat Tabloid Cempaka (Suara Merdeka Group), Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: