Percakapan dalam Kereta

April 11, 2012

Untuk Sungging Raga

Laki-laki muda itu hati-hati menyeret koper berodanya, takut menyenggol lutut penumpang lain. Setelah mendapati nomor kursinya, pelan-pelan ia mengangkat koper dan meletakkan di kabin di atas tempat duduk. Ia masih sempat merapikan jaketnya sebelum menghempaskan pantat ke kursi. Bantal kecil berwarna biru terlebih dahulu ia ambil, lalu diletakkan di pangkuannya. Air mineral dalam botol tak lupa diselipkan di jaring kursi penumpang di depannya. Bersama botol air mineral ia menyelipkan juga satu buku bersampul merah, buku yang bertutur tentang Sjahrir. Laki-laki muda itu menghela napasnya berkali-kali. Hampir saja ia tak awas. Di sampingnya telah duduk seseorang. Laki-laki muda itu menoleh dan menyunggingkan senyum sedikit. Seorang perempuan, kira-kira usianya lebih tua dari laki-laki muda itu, antara empat-lima tahun.

Perempuan muda membalas senyum dengan ramah. Satu kekhawatiran laki-laki muda ditindas. Laki-laki muda selalu menikmati perjalanannya. Melalui kaca jendela ia membebaskan angannya pada bentang kota yang selalu menarik baginya. Namun laki-laki muda kerap kesulitan memulai percakapan. Apalagi percakapan dengan orang yang baru dikenalnya. Sedapat mungkin laki-laki muda menghindari percakapan. Apapula yang perlu diketahui dari pertanyaan pendek: turun di mana, atau dari mana? Laki-laki muda selalu tak sanggup bertanya, pertanyaan-pertanyaan jamak, basa-basi. Lagipula, melamun, sedikit terkantuk dalam kendaraan membuatnya dapat menjadi apa saja, dalam angannya. Menjadi penumpang yang asosial lebih menarik bagi laki-laki muda. Sebab hingga kini ia tak memiliki alasan apapun untuk memulai percakapan terlebih dahulu dengan rekan seperjalanannya.

Laki-laki muda merebahkan punggungnya di kursi yang empuk. Ruangan dalam kereta sejuk oleh pendingin udara. Ia memejamkan mata sejenak sembari menimang buku bersampul merah tentang Sjahrir dalam genggamannya. Perempuan muda itu menggenggam sebuah buku. Laki-laki muda tahu dari lirikan ekor matanya, tadi tidak sengaja. Keyakinan laki-laki muda sedikit goyah. Mengobrol dalam perjalanan baginya lebih banyak tak perlu. Tak perlu karena tak mudah menemukan teman mengobrol yang menyenangkan, dan membincangkan hal-hal yang perlu didiskusikan. Lebih pokok dari semua: laki-laki muda adalah seorang pemalu. Memulai percakapan dengan orang tak di kenal dalam perjalanan adalah mimpi buruk bagi laki-laki muda. Kata tercekat di tenggorokan, diimpit ketakutan bila lawan bicara mengacuhkannya. Laki-laki muda khawatir diacuhkan. Namun ia sendiri tak tahu mengapa ia justru memilih bersikap acuh pada sekelilingnya.

Perempuan muda itu larut dalam bukunya. Laki-laki muda semakin gelisah. Ia menganggap percakapan dalam perjalanan sebagai sesuatu yang tak perlu. Namun tak seperti banyak teman perjalanannya yang lain: perempuan muda itu membaca buku. Laki-laki muda tak pernah menimbang seseorang dari tampak luarnya. Tetapi perempuan muda itu membaca buku. Buku. Buku tampaknya akan menjadi garansi bagi percakapan yang menyenangkan: hal-hal menarik dari dunia intelektual, atau dinamika dalam masyarakat yang didiskusikan secara cerdas. Bukan macam diskusi warung kopi. Bisa jadi laki-laki muda akan mendapat faedah dari perbincangannya. Nanti, bila ia dapat mengumpulkan keberaniannya yang terserak untuk memulai percakapan.

Mengapa percakapan dalam perjalanan harus dimulai dengan kalimat tanya: akan kemana? Laki-laki muda berusaha menghindari kebasian, basa-basi yang paling jamak. Lagipula rute kereta ini jelas. Dari Stasiun Tawang ke Stasiun Tegal. Sudah pasti perempuan muda itu akan turun di Tegal. Bila ia turun di Tegal, mungkin ia orang Tegal, kemungkinan lain yang paling realistis adalah ia bermukim di Brebes atau Slawi. Ah, ya. Belum tentu bermukim, bisa jadi ke Tegal ia akan mengunjungi saudaranya. Atau ke Tegal oleh sebab satu pekerjaan kantor. Lalu, buat apa ia harus tahu semua itu? Laki-laki muda menggigit bibirnya. Keningnya berkerut saat ia membuang pandang pada kaca jendela. Mungkinkah ia memulai percakapan tidak seperti orang-orang? Bila tak memulai dengan basa-basi, lalu dengan kalimat macam apa?

Laki-laki muda melirik lebih teliti. Perempuan muda masih asyik dengan bukunya. Satu novel yang bertutur mengenai Belitung. Laki-laki muda menggelengkan kepalanya. Membincangkan novel itu, apakah benar perlu? Laki-laki muda sudah membaca semua dari tetralogi novel itu, termasuk dwilogi setelahnya, juga film edisi pertama dan kedua, masih sempat menonton pertunjukan musikalnya. Laki-laki muda merasa telah terbiasa dengan novel tentang Belitung. Lalu ia akan menjadikan aspek apa dari novel itu sebagai bahan percakapan? Kalau perempuan muda itu seorang yang mendalami sastra, ketika laki-laki muda bertanya: apa yang menarik soal novel itu, perempuan muda mungkin akan bercerita banyak. Misalnya mengatakan bahwa nalar novel itu bersifat postkolonial, bahwa pendidikanlah yang akan mengantar seseorang menuju tangga keberhasilan, lain tidak. Pola ini pola lama. Bisa juga ia mengomentari sinis: tetralogi itu memang best seller, namun zaman novel itu sudah berakhir. Orang membaca novel itu karena kaget disuguhi realitas pendidikan di kampung udik terpencil. Setelah kini orang dikabari oleh novel, dan rupa-rupa publisitas soal itu, pembaca telah merasa pendidikan kampung terpencil yang merasa teraniaya sudah menjadi biasa, sehari-hari. Orang tak kaget lagi.

Kalau perempuan muda itu kurang piknik, jarang membaca novel, ketika laki-laki muda bertanya jawabnya mungkin antusias: novel ini sungguh luar biasa. Sosok ibu guru dalam novel ini, yang ternyata based on true story, sungguh tokoh yang patut diteladani. Sambil menggebu perempuan muda itu mungkin akan bercerita banyak soal kekuatan mimpi. Atau bisa jadi perempuan muda itu justru bercerita dengan bibir tergetar: betapa banyak orang hidup melarat di republik ini. Betapa melarat tak menyenangkan: pendidikan susah, transportasi menyebalkan, kebahagiaan mahal. Dalam bayangan laki-laki muda perempuan itu mungkin akan memejamkan mata. Miris hatinya seraya memanjatkan doa, agar ia sekeluarga besar terhindar dari semua itu. Di pelupuk mata perempuan muda itu, terbayang oleh laki-laki muda, adik atau anak, bila ia telah berkeluarga, sedang berlarian di halaman rumah mereka. Perempuan muda itu cemas kalau-kalau adik dan anaknya tak dapat mencecap indahnya pendidikan tinggi tanpa repot-repot menjadi tukang fotokopi atau sales macam-macam panci.

Laki-laki muda menghela napas berkali-kali. Betul kan, batinnya pada diri sendiri. Bahkan kemungkinan perbincangannya kelak, ia telah mampu menebak. Laki-laki muda sedang berhitung apa faedahnya berbincang dalam perjalanan. Keningnya berkerut sebentar, dan sebagai jawabannya laki-laki muda mulai membuka buku bersampul merah dalam genggamannya. Membaca satu-dua halaman membuat ia larut dalam cerita Bung Kecil yang terlupakan dalam sejarah bangsa laki-laki muda. Laki-laki muda dan perempuan muda hanyut dalam buku pada genggaman masing-masing. Tubuh mereka bergoyang diguncang laju kereta yang melintas di atas rel. Stasiun-stasiun kecil telah lewat. Sebentar lagi mereka akan diantar melintasi Stasiun Pekalongan.

Laki-laki muda membalik halaman 47 buku bersampul merah saat perempuan muda bersuara nyaris tak terdengar. Laki-laki muda menoleh saat perempuan muda berdehem, membersihkan rongga di tenggorokannya agar suaranya lebih jernih. Mungkin saat berkata tadi perempuan muda itu gugup. Perempuan muda mengulang kata-katanya: buku apa mas? Laki-laki muda harus berpikir cepat dalam tiga detik. Beberapa pertanyaan perlu dijawabnya. Pertanyaan perempuan muda itu, juga pertanyaan dirinya sendiri. Mengapa perempuan muda itu tiba-tiba hendak berbincang dengan dirinya. Dalam satu detik pertama laki-laki muda menyapu pandangan, melirik ekspresi dalam raut wajah perempuan muda, buku dalam genggamannya. Laki-laki muda mengangguk sendiri. Tampaknya perempuan muda telah selesai membaca novel dalam genggamannya dan hendak mengusir kebosanan dengan bercakap-cakap dengannya. Dua detik setelah itu, laki-laki muda telah menjawab pertanyaan perempuan muda dengan ramah. Laki-laki muda kini tak sempat lagi menganalisis seperti tiga detik permulaan percakapan mereka, analisis soal-soal filosofi pertanyaan basa-basi, faedah percakapan dalam perjalanan, nilai-nilai etis memulai percakapan, semua yang sedari tadi dipikirkannya sendiri.

Laki-laki muda bercerita banyak soal Sjahrir sebagaimana ditulis buku dalam genggamannya. Rupanya perempuan muda itu tak asing dengan Sjahrir. Mereka kemudian bercakap-cakap soal Perdjoangan Kita, mengomentari sikap diplomatik Sjahrir dalam perang kemerdekaan. Perempuan muda menimpalinya dengan penokohan Sjahrir dalam Novel Burung-Burung Manyar. Tak banyak Sjahrir ditulis dalam novel itu, namun diantara tokoh-tokoh republik kebetulan hanya Sjahrir yang dijadikan tempelan novel. Sedikit informasi ini, bagi kajian framing sudah cukup dibumbui bahwa Sjahrir adalah tokoh segala a, b, c. Laki-laki muda memprotes kritis, perempuan muda menjawab analitis. Lain perbincangan, perempuan muda membantah laki-laki muda. Tak hanya Sjahrir, novel soal Belitung pun mereka bincangkan. Menyerempet novel-novel lain, isu aktual macam TKW, dugaan sindikat dalam peradilan dan Pemilu, termasuk perilaku konsumen di mal.

Laki-laki muda bercakap-cakap lancar, lupa pada kekhawatirannya tadi soal-soal filosofis dari bercakap-cakap, kemungkinan jawaban lawan bicaranya. Stasiun Tegal sebentar sudah di ujung mata. Mereka harus bergegas turun. Laki-laki muda tak menanyakan perempuan muda akan ke mana: Tegal, Slawi, Brebes, atau pulang kembali ke Stasiun Tawang. Laki-laki muda bahkan tak sempat menanyakan nama perempuan muda. Bukan tak sempat, laki-laki muda menganggap tak ada faedahnya ia tahu nama perempuan muda itu. Dalam perjalanan pulang ke rumah, di atas becak, laki-laki muda itu merenung sendiri: tidakkah ia telah mendapat faedahnya bercakap-cakap dalam kereta?

Slawi, 11-12 Juli 2011.

Dimuat dalam antologi Tahun-Tahun Penjara (TBJT, 2012).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: