Kamseupay

April 11, 2012

Awal tahun 2012 ditandai dengan kembali populernya akronim Kamseupay di media sosial kita. Kabarnya akronim ini pernah populer pada tahun 1980-an, bersamaan dengan lahirnya bahasa gaul kala itu macam doski, kawula muda atau yoi—sebelumnya lema yoi diucapkan yoa, misalnya dapat kita simak dalam percakapan di seri-seri film Catatan Si Boy (Cabo). Akronim dan kata bahasa gaul remaja ibukota kala itu produktif diintroduksi antara lain melalui corong Radio Prambors Jakarta. Kamseupay secara umum dipanjangkan menjadi Kampungan Sekali Uh Payah, sejumlah variasi tafsir Kamseupay lahir seperti Kampungan Sekali Udik Payah, atau menganggap Kamseupay sebagai kata, bukan akronim. Kalangan yang menganggap Kamseupay sebagai kata umumnya mengartikan Kamseupay sebagai kampungan.

Baik dimaknai sebagai kata maupun akronim, Kamseupay bertitiktolak pada kata kampungan. Kampungan sendiri menurut KBBI daring diartikan sebagai berkaitan dengan kebiasaan di kampung, terbelakang (belum modern), juga kolot; serta dapat juga diartikan sebagai tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, atau kurang ajar. Sudah tentu makna ini bersifat konotatif dan tidak selalu merepresentasikan karakteristik penduduk yang tinggal di kampung yang sering disinonimkan dengan desa dan dusun. Secara administratif kampung merupakan satuan wilayah pemerintahan terkecil di bawah kecamatan dengan kata generik desa. Dari empat arti lema kampung dalam KBBI, salah satunya diartikan sebagai kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah).

Ketika digunakan sebagai media komunikasi, bahasa bersifat etis. Artinya, selain memiliki makna denotatif, bahasa—dalam hal ini kata—memiliki makna konotatif. Dalam konteks lema kampung, konotasi atau nilai rasa kebahasaan yang ada celakanya kesemuanya bersifat negatif, meskipun konotasi memungkinkan nilai rasa kebahasaan yang positif. Makna paling netral dari lema kampung bersifat denotatif, yakni kata untuk menyebut satuan adminsitrasi dan wilayah di tanah air. Berbeda dengan antonimnya, makna lema kota menurut KBBI justru secara relatif memiliki konotasi positif, misalnya sebagai wilayah yang penduduk di dalamnya bergiat di sektor industri, atau mencerminkan kebudayaan dan pemikiran internasional (kosmopolitan),.

Makna konotatif kampung dan kampungan sebagai tidak tahu sopan santun, tidak terdidik dan kurang ajar sesungguhnya dapat berlaku pada siapa saja, bahkan lebih banyak diidap oleh orang kota, sebagai antonim orang kampung. Pada praktiknya pewarisan nilai-nilai, filsafat kehidupan, maupun tradisi justru berlangsung lebih intensif pada orang kampung. Meski makna kampung lebih banyak bersifat konotatif-negatif, tampaknya orang kampung lebih banyak bersikap cool. Kalau orang kampung disebut sebagai kampungan, mungkin pikir mereka: dasar kamu kekota-kotaan!

*Febrie Hastiyanto; Blogger, peminat bahasa media sosial.

Dimuat Lampung Post, Rabu 15 Februari 2012

Satu Tanggapan to “Kamseupay”

  1. pirimiri Says:

    nice info gan,bru tau aku artinya.haha
    salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: