Menjadi Backpacker dari Kapal Pesiar

Januari 2, 2012

Bila anda saat ini sedang mencari pekerjaan, saya sarankan anda mencari pekerjaan yang memungkinkan anda sering ke luar kota, bahkan kalau mungkin ke luar negeri. Jenis pekerjaannya dapat apa saja. namun anda dapat menjajal satu jenis hobi baru yang menantang: travelling! Apalagi skenarionya travelling sambil bekerja. Fulus anda bertambah. Pengalaman sebagai warga dunia akan membuat anda boleh sedikit sombong dari banyak saudara kita yang kurang piknik.

Semangat untuk travelling sambil bekerja ini yang membuat Hartono Rakiman menulis catatan perjalanannya sambil bekerja di kapal pesiar. Alumnus Hubungan Internasional UGM Yogyakarta ini meneken kontrak untuk menjalani profesi sebagai waiter alias pelayan di kapal pesiar mewah di bawah maskapai Holland America Lines.  Hartono menyebutnya sebagai leisure while working: liburan dan bersenang-senang sambil bekerja.

Di sela-sela pekerjaanya sebagai waiter Hartono berkesempatan menjejak berbagai kota di dunia. Maklum saja, kapal-kapal milik Holland America Lines berlayar selama 3 bulan hampir mengitari bola bumi. Dari Vancouver Kanada, menyusuri Alaska. Kemudian membuang sauh di beberapa kota seperti Rusia, Hongkong, Jepang, Singapura, Bali, Australia, hingga Kepulauan Samoa di Pasifik Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Los Angeles, Kepulauan Karibia, hingga ke Terusan Panama. Tak perlu khawatir mendengar cerita travelling dengan bahasa yang ndakik-ndakik. Hartono tahu betul apa yang orang ingin tahu dari tamasya ini. Hartono pun baru kali pertama melakukannya. Bahkan Hartono pun baru kali pertama naik pesawat terbang yang mengantarnya dari Soekarno Hatta ke Vancouver Kanada tempat kapal-kapal Holland America Lines sandar dan akan memulai pelayarannya. Justru sudut pandang (angle) penulis sebagai pemula membuat buku ini semakin memikat. Keluguan anda yang belum pernah melakukan tamasya ke tempat-tempat eksotik di dunia sesungguhnya keluguan Hartono juga. Keingintahuan anda juga sama dengan keingintahuan Hartono.

Menuliskan catatan perjalanan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Tak jarang catatan perjalanan yang ditulis menjadi sumber sejarah yang dirujuk banyak ilmuwan. Berita China yang ditulis I Tsing (664/665 M) misalnya, menuliskan catatan muhibah bangsa China ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Catatan I Tsing juga yang menjadi salah satu rujukan rujukan bahwa terdapat Kerajaan Kalingga (Ho-Ling) yang dipimpin Ratu Sima di Jawa pada Abad VII.

Marcopolo seorang yang masih kontroversi hingga kini, apakah seorang saudagar, pelaut ulung atau hanya petualang memulai perjalanannya dari Venesia, Italia menyusuri wilayah-wilayah yang belum dikenal luas kala itu oleh orang Eropa pada pertengahan Abad XIII. Tidak tanggung-tanggung Marcopolo menghabiskan 24 tahun pelayaran menyinggahi berbagai kota hingga ke Asia. Catatan perjalannya ditulis dalam buku bertajuk The Travels, yang kini menjadi klasik.

Buku Backpacking Hemat ke Australia yang ditulis Elok Dyah Messwati merupakan buku tentang jejak backpacker lain saat ini menjadi best seller. Catatan perjalanan juga ditulis dalam bentuk novel, seperti Haji Backpacker yang dikarang oleh Aguk Irawan. Masih ada beberapa buku yang lebih provokatif seperti Backpacking Modal Jempol, Jelajah Eropa Rp500rb-an/bulan yang diterbitkan oleh Nano Publishing maupun buku Claudia Kaunang berjudul Rp500 Ribu Keliling Singapura. Diantara semua buku yang ada, rasanya baru Hartono Rakiman yang menuliskannya dari Kapal Pesiar, sebagai pelayan.

Latar belakang sebagai pelayan kapal pesiar justru menjadi kekuatan buku ini. Menjadi waiter di kapal pesiar sebagaimana tulis hartono sesungguhnya merupakan pekerjaan yang berat. Waiter hanya istilah keren dari pelayan, yang pekerjaannya lebih tepat disebut sebagai kacung, aku Hartono. Mereka harus bekerja minimal 12 jam satu hari semenjak pagi hingga malam. belum terhitung lembur. Menyiapkan early  breakfast sejak pukul 06.00-09.00. Dilanjutkan Boat drill sejak pukul 09.00-10.30. Lalu Early Lunch mulai pukul 10.30-11.30. Masih ada Lunch Buffet dengan 8 Meja sejak pukul 11.30-14.00. Lalu menyiapkan makan malam (dinner) yang formal dengan international style pukul 14.00-14.30. Masih ada tea time pukul 15.00-17.00. Kemudian pekerjaan inti: Dinner dengan second sitting sejak pukul 19.00-22.00. Pekerjaan yang berat memang berbanding lurus dengan pendapatan yang diterima, dan tips dari tamu. Hartono jelas penat. Jenuh kadangkala menghampirinya. Namun Hartono sadar, terdapat sisi lain yang menarik dari pekerjaannya: tamasya gratis.

Tamasya a la backpacker sebagai pelayan di kapal pesiar juga membuat kita mendapat bocoran gratis situasi di kapal pesiar sesungguhnya. Isu-isu yang kerap kita dengar seperti perilaku seks bebas, judi, atau konsumsi narkoba, dijelaskan Hartono dengan detail. Hartono juga sedikit memberi gambaran suasana ramadhan dan lebaran di atas kapal. Kapal pesiar cukup besar. Krunya saja 600 orang, dan hampir setengahnya orang Indonesia. Di sela-sela pekerjaan yang padat, mereka masih sempat membentuk kepanitiaan, dan menyiapkan shalat tarawih berjamaah, makan sahur bersama, hingga shalat ied di geladak menghadap lautan lepas. Ingatan soal keluarga, tak usah ditanya. Mengharukan.

Selama ini publik pembaca di tanah air relatif mengenal gambaran kapal pesiar melalui film Titanic yang diproduksi tahun 1997. Kisah trafedi Titanic terulang lagi. Ketika sedang menyusuri lautan Alaska kapal sempat menabrak karang es. Ketakutan Hartono membuncah. Namun untungnya teknologi saat ini lebih canggih dibanding teknologi pelayaran pada tahun 1912. Kapten kapal memilih kembali ke pelabuhan terdekat. Kapal turun mesin hingga 2 minggu. Kecelakaan ini justru disyukuri Hartono, karena awak kapal mendapat liburan tak terduga selagi menunggu perbaikan kapal. Hartono memuaskan hasratnya menjelajahi kota-kota di sekitar pelabuhan.

Catatan yang ditulis Hartono memang tidak seberat catatan I-Tsing maupun Marcopolo. Buku ini buku yang ringan dibaca, dengan gaya reportase meskipun tak melupakan detail. Cocok menjadi panduan bagi anda untuk memulai perjalanan menjelajah dunia.

*Febrie Hastiyanto; Kontributor pada Komunitas Rumah Baca. Alumnus Sosiologi FISIP UNS.

Dimuat Analisa, Sabtu 31 Desember 2011.

Satu Tanggapan to “Menjadi Backpacker dari Kapal Pesiar”

  1. Yustia Says:

    bagus sekali uraiannya, saya sedang belajar menulis catatan perjalanan. ^_^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: