Kelompok Studi IdeA: Gerakan Budaya, Gerakan Kuasa atau Ruang “Bersenang-Senang”?

Januari 2, 2012

Lima tahun lebih Kelompok Studi dan Jurnal IdeA lahir. Sepanjang periode itu Kelompok Studi dan Jurnal IdeA merasa telah melakukan banyak hal, ditimbang dari intensitas diskusi dan penerbitan Jurnal serta partisipasi lain dalam kerangka mebangun tradisi budaya belajar di Kabupaten Tegal. Meski demikian banyak kalangan belum mengenal lebih dekat apa, siapa, bagaimana dan mau apa Kelompok Studi dan Jurnal ideA? Bisa jadi usaha yang dilakukan Kelompok Studi dan Jurnal IdeA masih minimal. Atau kemungkinan lain yang paling mungkin: Kelompok Studi dan Jurnal IdeA sesungguhnya belum melakukan apa-apa. Kalau begitu, kapan anda bergabung dengan Kelompok Studi dan Jurnal IdeA, atau membangun ruang-ruang nalar—meramaikan dinamika intelektual di tanah kita tercinta ini?

Embrio: Periode 2006-2007

Pertengahan tahun 2006, sejumlah PNS di Bapeda Kabupaten Tegal mulai mengadakan serangkaian pertemuan kecil, diantaranya Supriyadi, Bambang Kusnandar Aribawa, A. Uwes Qoroni, Setyo Atdiwaluyo, Febrie Hastiyanto, Widi Harsono dan Trianto Budiatmoko. Pertemuan-pertemuan itu mengerucut pada kesimpulan telah terdapat satu kegelisahan bersama atas situasi dan kondisi yang ‘memerlukan perubahan’, sekurang-kurangnya dapat diungkapkan melalui diskusi yang bebas dan cair. ‘Perubahan’ memang idiom yang laris digunakan dalam situasi kegelisahan, meskipun sesungguhnya konklusi kegelisahan tak melulu harus berujud situasi yang ‘berubah.’

Dalam serangkaian diskusi oleh PNS Bapeda, kemudian disepakati untuk mendirikan satu kelompok studi. Ketika akan memberi identitas pada kelompok studi, atas usul Trianto Budiatmoko digunakan istilah ‘Idea’, yang berarti ‘gagasan’ atau ‘pemikiran’. Identitas ini sekaligus menjadi visi komunitas, yakni sebagai ‘ruang untuk mengutarakan gagasan atau pemikiran’ ‘secara bebas dan cair’.

Pada masa-masa embrio, secara de facto Supriyadi menjadi Koordinator Kelompok Studi Idea (2006-2007). De facto berarti ‘penunjukan’ tidak dilakukan secara resmi. ‘Koordinator’ bermakna ‘fasilitator pelaksanaan kegiatan kelompok studi’. ‘Kegiatan kelompok studi’ ini bermakna dua, yakni diskusi dan penerbitan.

Skema diskusi pada periode ini adalah masing-masing ‘anggota’ kelompok studi menuliskan gagasan dalam bentuk makalah, untuk kemudian didiskusikan bersama-sama. Hasil-hasil diskusi tidak mengikat penulis (pemberi gagasan) untuk merevisi tulisannya, melainkan hanya sebagai ‘masukan’. Dalam perkembangannya, setelah melakukan serangkaian diskusi, ‘stok tulisan’ semakin banyak. Realitas ini melahirkan pemikiran baru untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam satu majalah, yang disebut ‘Majalah Idea (Indie)’. Majalah ini diterbitkan oleh kelompok studi, dengan biaya iuran masing-masing anggotanya. Majalah ini di-copy terbatas, sekira 10 eksemplar saja—beberapa anggota bahkan tak sempat mendokumentasikan karena arsip yang ada terbatas.

Diskusi-diskusi pada periode ini seluruhnya dilakukan di kantor Bapeda, tepatnya di ruang yang kini menjadi Bidang Perencanaan dan Penganggaran. Diskusi biasanyanya diselenggarakan Sabtu siang selepas jam kerja. Pada periode ini belum dikenal konsusmsi diskusi.

Periode 2007-2008

Akhir tahun 2006, terjadi mutasi pejabat di lingkungan pemerintah daerah. Supriyadi mendapat promosi untuk menjadi pejabat di luar Bapeda. Kondisi ini membuat beberapa waktu Kelompok Studi Idea vakum sebelum kemudian atas inisiatif sejumlah ‘anggota,’ ‘ditunjuk’ Trianto Budiatmoko sebagai Koordinator de facto. Penunjukan dilakukan secara cair, dan Trianto Budiatmoko melakukan kegiatan-kegiatan sebagaimana peran dan fungsi koordinator.

Pada periode ini terdapat beberapa realitas yang memperkaya sejarah kelompok studi, yakni:

  1. Kelompok Studi Idea mendorong Bappeda untuk menganggarkan penerbitan Buletin IdeA.
  2. Skema diskusi dimatangkan dengan format: narasumber (membuat makalah), pembanding (membuat makalah pembanding), dan moderator.
  3. Diskusi mulai melibatkan peserta dari luar Bappeda. Tercatat beberapa nama seperti Indra Rustiono, Riesky Trisbiantoro, Teguh Dwijanto Raharjo, Alm. Helmy Alamsyah mulai menjadi ‘anggota’ kelompok studi. PNS Bappeda yang kemudian menjadi ‘anggota’ diantaranya Edy Sucipto. Pada periode ini pula tercatat diskusi berhasil menghadirkan representasi perempuan yang pertama kali dan terakhir kali (?).
  4. Waktu pelaksanaan diskusi pada Sabtu siang selepas jam kerja. Pada periode ini mulai dikenal konsumsi diskusi, yakni teh manis (saja).

Kelompok Studi dan Buletin

Untuk mendudukkan posisi kelompok studi dan buletin agak rumit. Buletin diterbitkan oleh institusi Bappeda, dengan komposisi personalia secara kedinasan terdiri dari ‘anggota’ Kelompok Studi Idea dan beberapa lagi struktur personalia resmi Bappeda. Buletin IdeA ditulis dengan Ide dan A kapital menjadi IdeA. Makna simbol ini adalah buletin ‘yang menjadi ruang gagasan (ide) yang ‘A’. ‘A’ merupakan abjad pertama huruf latin, menjadi perlambang bagi makna ‘pionir’, ‘pertama’, dan ‘elan vitalitas ide’.

Buletin IdeA Periode 2007-2008 disusun menurut kombinasi struktural dan fungsional. Bupati, Wakil Bupati serta Sekda dan Kepala Bappeda masih tercantum dalam box redaksi. Meskipun representasi redaksi dianggap termanifestasikan sejak strktur redaktur pelaksana hingga redaktur. Struktur redaksi ini selengkapnya:

  1. Redaktur Pelaksana    : Agus Sumargo (representasi Bappeda)
  2. Koordinator Liputan   : A. Uwes Qoroni (representasi kelompok studi)
  3. Redaktur Bahasa         : Widi Harsono (kelompok studi), Febrie Hastiyanto                                                   (kelompok studi)
  4. Redaktur Naskah        : Darsono (Bappeda), Winarto (Bappeda)
  5. Redaktur Artistik        : Setyo Atdiwaluyo (kelompok studi), Arief Ardian                                                    (Bappeda), Maprokhi (kelompok studi)

Selain itu terdapat struktur redaksi yang direncanakan tidak secara teknis menggarap kerja-kerja redaksi, yakni:

  1. Pemimpin Umum                    : Suharmanto (Bappeda)
  2. Wakil Pemimpin Umum          : Eling Susiardi (Bappeda)
  3. Pemimpin Redaksi                  : Bambang Kusnandar Aribawa (kelompok studi)
  4. Wakil Pemimpin Redaksi        : Trianto Budiatmoko (kelompok studi)
  5. Redaktur Eksekutif                 : Sahwad
  6. Pada praktiknya, struktur redaksi teknis tidak berjalan dengan baik. Redaktur Pelaksana tidak optimal melaksanakan perannya sehingga secara efektif Buletin IdeA dikelola oleh ‘anggota’ Kelompok Studi Idea.
    Periode 2008-2009

Akhir tahun 2008 pemerintah daerah menyelenggarakan mutasi dan promosi pejabat. Kondisi ini mengakibatkan Trianto Budiatmoko mendapat promosi di luar Bappeda. Secara de facto kemudian ‘ditunjuk’ Febrie Hastiyanto untuk melaksanakan peran dan fungsi sebagai koordinator. Dalam perkembangannya, koordinator dibantu oleh seorang Bendahara Pembantu Pengeluaran yakni Setyo Atdiwaluyo.

Dalam periode ini terdapat sejumlah realitas sejarah yang patut dicatat:

  1. Untuk memperkaya partisipan dan jumlah ‘anggota’, diskusi selain diselenggarakan di Kantor Bappeda juga dilakukan secara roadshow, antara lain di Badan Kepegawaian Daerah, Dinas Kesehatan, Alun-Alun Slawi (bersama Komunitas Slawi Bergerak) dan Guci.
  2. Waktu pelaksanaan diskusi mulai fleksibel, tidak hanya pada hari Sabtu. Bahkan diskusi di Alun-Alun Slawi dilakukan malam hari. Skema diskusi (pemateri) tetap sama dengan periode sebelumnya.
  3. Untuk mewujudkan kemandirian komunitas, pada periode ini ‘anggota’ Kelompok Studi Idea mulai melakukan iuran untuk kas, yang sebagian besar digunakan untuk penyediaan konsumsi yang tak hanya teh, tetapi juga makanan ringan. Pengelolaan dana kas dikelola oleh Bendahara Pembantu Pengeluaran.
  4. Beberapa ‘anggota’ yang kemudian aktif pada periode ini antara lain: Sholikhin, Dessy Arifianto, Faried Wajdy, Heriyanto Prabowo Ajie, Amir Makhmud dan Mulyo Sugiarto.

Kelompok Studi Idea dan Komunitas Slawi Bergerak

Pada periode ini, sejumlah PNS Bappeda mengaktifkan komunitas yang disebut Komunitas Slawi Bergerak. Sejumlah penggagasnya antara lain: Sholikhin, Dessy Arifianto, Bambang Kusnandar Aribawa dan Faried Wajdy. Sedikit berbeda dengan Kelompok Studi Idea, Komunitas Slawi Bergerak lebih bersifat dan bersikap praktis dan konkret. Bila Kelompok Studi Idea sesuai identitas ‘ideanya’ banyak bergerak di ranah gagasan, Komunitas Slawi Bergerak sesuai identitas ‘bergeraknya’ hendak memulai perubahan-perubahan kecil yang riil. Beberapa agenda Komunitas Slawi Bergerak diantaranya Program Beasiswa Bodoh, dan inisiasi pemanfaatan Teknologi Informasi Komunikasi (diantaranya hotspot di Alun-Alun Slawi).

Agar potensi ‘agen dan semangat perubahan’ semakin menguat, Kelompok Studi Idea dan Komunitas Slawi Bergerak pernah mengupayakan duduk bersama, merumuskan pola gerak agar dapat saling melengkapi. Dari serangkaian pertemuan, mengerucut pada keinginan untuk membangun satu komunitas payung, yang mampu mewadahi dua komunitas yang berbeda orientasi geraknya. Komunitas payung ini dapat disebut Kelompok Studi Idea Slawi Bergerak, yang memiliki divisi Kelompok Studi Idea dengan concern diskusi dan pengembangan gagasan serta Komunitas Slawi Bergerak dengan concern aksi-aksi riil. Namun keinginan ini tidak berjalan secara efektif.

Kelompok Studi Idea dan Jurnal IdeA

Hubungan antara Kelompok Studi Idea dan Jurnal IdeA semakin menguat, ditandai dengan perubahan kebijakan terkait komposisi personalia redaksi dan bentuk penerbitan. Bentuk penerbitan beralih dari bentuk Buletin menjadi Jurnal, yang telah memiliki sertifikasi ISSN dari LIPI. Sedang komposisi redaksi disusun secara fungsional sejak tahun 2009 hingga kini, menjadi sbb:

  1. Pemimpin Umum                    : Febrie Hastiyanto (kelompok studi)
  2. Wakil Pemimpin Umum          : Trianto Budiatmoko (kelompok studi)
  3. Pemimpin Redaksi                  : Setyo Atdiwaluyo (kelompok studi)
  4. Wakil Pemimpin Redaksi        : Bambang Kusnandar Aribawa (kelompok studi)
  5. Redaktur Pelaksana                : Muhaimin (kelompok studi)
  6. Redaktur Bahasa                     : Indra Rustiono (kelompok studi), Widi   Harsono                                                        (kelompok studi)
  7. Redaktur Naskah                    : Mulyo Sugiarto (kelompok studi), Edy Sucipto                                                         (kelompok studi)
  8. Redaktur Artistik                    : Maprokhi (kelompok studi)
  9. Redaktur Foto                         : Riesky Trisbiantoro (kelompok studi), Heriyanto                                                       Prabowo Aji (kelompok studi)

Periode 2010-2011

Dalam satu diskusi refleksi akhir tahun yang digelar di Guci pada akhir tahun 2009, terjadi sejarah baru dalam Kelompok Studi Idea, yakni suksesi komunitas yang dilakukan secara ‘resmi’. Pada kesempatan itu, dipilih secara aklamasi Indra Rustiono sebagai koordinator dan Mulyo Sugiarto sebagai Bendahara Pembantu Pengeluaran. Dengan demikian, kepengurusan Periode 2010 ini adalah kepengurusan pertama yang bersifat de facto sekaligus de jure. Periodisasi kepengurusan juga ditetapkan satu tahun. Sehingga pada akhir tahun 2010 kepengurusan dapat dipilih kembali. Pola ini semakin menegaskan sejarah Kelompok Studi Idea menunjukkan dinamika yang menggembirakan.

Legitimasi de jure Kelompok Studi Idea periode ini ditandai dengan dilengkapinya koordinator dengan stempel komunitas untuk pembuatan surat-surat resmi. Selain itu komunitas juga memiliki sejumlah dana kas yang cukup membuatnya mandiri dalam melakukan kegiatan. Di samping itu, sejarah resmi Kelompok Studi Idea disusun untuk menjadi penanda perjalanan kelompok studi selama hampir lima tahun. Dalam periode ini dilakukan sejumlah diskusi, diantaranya diskusi kemungkinan pemanfaatan ruang terbuka di depan Terminal Slawi.

Periode 2011-2012

Semangat untuk menjaga silaturahmi dan penguatan wacana dilakukan dengan regenerasi kepengurusan. Pada periode kali ini terpilih Akhmad Solehudin, S.E sebagai Koordinator Kelompok Studi Idea sekaligus Pemimpin Redaksi Jurnal IdeA dibantu Mulyo Sugiarto sebagai Sekretaris Kelompok Studi Idea dan Sekretaris Redaksi Jurnal IdeA. Beberapa rekan juga turut bergabung diantaranya Ahmad Thoha Faz yang sebelumnya aktif membidani Lembaga Nalar Terapan (LeNTera), Ivhal Ilyas, Ari Widayanto , Leni Nur Rahayu, Teguh Mulyadi serta Hari Nugroho. Sejumlah agenda berhasil dilaksanakan pada kepengurusan periode ini, diantaranya Malam Renungan Hari Jadi Kabupaten Tegal ke-410 di Gedoeng Rakjat Slawi, Lomba Mural bagi siswa SMP dan SMA di tembok Kolam Renang Kompleks GOR Trisanja Slawi serta Lomba Menulis Catatan Facebook dalam Peringatan Hari Jadi Kabupaten Tegal ke-410 termasuk Diskusi Budaya bersama kelompok Banyu Bening Yogyakarta dan  Wayang Suket Ki Slamet Gundono Surakarta.

Dalam perjalanan Kelompok Studi dan Jurnal IdeA sesungguhnya partisipasi sebanyak-banyaknya rekan terus diudahakan untuk terlibat dalam agenda-agenda yang dilakukan. Namun banyak hambatan yang dihadapi, umumnya perasaan enggan atau minder untuk bergabung dalam agenda-agenda Kelompok Studi dan Jurnal IdeA. Padahal, Kelompok Studi dan Jurnal IdeA tak selalu seperti yang dibayangkan rekan-rekan: sebagai “kelompok elit birokrat intelektual”, identik dengan “pejabat struktural muda dan progresif”, identik dengan “kumpulan orang-orang (sok) pintar”, bahkan ada yang menganggap sebagai “kelompok kepentingan/politis” (Solehudin, 2011).

Semangat regenerasi memungkinkan Kelompok Studi Idea memperluas agenda-agenda yang selama ini telah dilakukan, yakni diskusi dan penerbitan. Pada periode ini Kelompok Studi Idea memperluas kerja-kerja budayanya seperti menyelenggarakan Lomba Mural dan Lomba Menulis, serta menjalin jejaring diskusi bersama kelompok-kelompok sebangun di Kabupaten Tegal dan luar daerah. Bahkan tidak tertutup kemungkinan Kelompok Studi dan Jurnal IdeA melakukan kerja-kerja lain di luar agenda yang telah dilakukan selama ini. Termasuk redesain format kelompok studi dan jurnal yang selalu akan didiskusikan ulang menyelaraskan dengan laju gerak sejarah. Sebagaimana dituliskan oleh Akhmad Solehudin dalam catatan reflektifnya, regenerasi adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. Mutantur omnia nos et mutamur in illis, segala sesuatu berubah dan kita berubah bersamanya. Keberadaan kelompok studi dan penerbitan jurnal progresif di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal adalah cerita yang belum berakhir dan akan terus dihidupi, bersama Anda. Jadi, kapan Anda bergabung bersama kami?

Dimuat Jurnal IdeA, Edisi 10 Tahun 5, Desember 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: