Gerakan Sosial Usai Bakar Diri Sondang

Desember 21, 2011

Kematian Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang membakar diri di depan Istana Merdeka telah menggugat kemanusiaan kita. Meskipun motif Sondang belum diketahui secara pasti karena sesaat setelah membakar diri kondisinya kritis hingga kemudian meninggal, kuat dugaan aksi bakar diri yang dilakukan Sondang merupakan ekspresi kekecewaan terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Sebagai seorang aktivis mahasiswa sekaligus Koordinator Himpunan Advokasi-Study Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi), satu komunitas Sahabat Munir yang dekat dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Sondang tentu meniatkan aksinya sebagai gerakan sosial untuk mewujudkan idealismenya. Sejumlah kalangan menduga Sondang terinspirasi tukang sayur Mohamed Bouazizi yang melakukan aksi serupa yang kemudian berdampak luas bagi lahirnya revolusi tak hanya di Yaman, namun juga di dunia Arab. Namun tampaknya ikhtiar Sondang menjadikan dirinya sebagai martir tak seperti yang ia duga. Sesaat setelah Sondang membakar diri, hingga kemudian meninggal, gerakan sosial di tanah air masih tampak kalem nyaris tak terpengaruh banyak oleh aksi Sondang. Sondang boleh kecewa, namun secara teoritik gerakan sosial di tanah air yang tak bergeliat juga ada sebabnya.

Faktor Penyebab

Dalam gerakan sosial secara sederhana dibedakan dua faktor bagi lahirnya perubahan secara ekstraparlementer yang sering digeneralisasi sebagai revolusi, atau reformasi. Fokus gerakan sosial umumnya didasarkan pada lapangan perjuangan yang bersifat ekstraparlementer, yang di dalamnya mengindikasikan adanya kelompok penekan (pressure groups) berupa koalisi masyarakat sipil yang menggelembung hingga menghasilkan kekuatan rakyat (people power). Metode gerakan sosial yang ekstraparlementer umumnya bermula dari jalan untuk memaksakan perubahan agar dilakukan oleh kekuatan parlementariat, dan bila tidak untuk menjatuhkannya dan kemudian menggantikannya. Gerakan sosial dalam banyak negara terbukti mampu menjatuhkan banyak rezim dengan segala karakteristiknya, namun tak semua gerakan sosial mampu menggantikan rezim yang baru dengan membersihkan diri dari kekuatan pendukung rezim yang dijatuhkan. Poin ini seringkali menjadi kritik post factum paling lazim dalam menganalisis gerakan sosial.

Dua faktor yang melahirkan gerakan social umumnya dibedakan menjadi dua, faktor penyebab (causative factors) dan faktor pemicu (trigger factors). Faktor penyebab merupakan realitas obyektif berupa situasi yang dianggap buruk yang terjadi secara massif dan dirasakan hampir merata oleh publik. Realitas obyektif dapat terjadi “dengan sendirinya”, misalnya bencana alam, resesi ekonomi, konflik antarkelompok, atau sesuatu yang dengan sengaja didesain oleh aktor gerakan sosial umumnya melalui usaha-usaha membangun opini publik bahwa situasi yang buruk sedang terjadi sehingga perubahan harus dilakukan. Usaha membangun opini publik ini umumnya dilakukan melalui demonstrasi secara kontinu, terus menerus dan konsisten serta metode-metode unjuk rasa lain yang derajat radikalitasnya ditingkatkan secara periodik.

Bila faktor penyebab bagi lahirnya gerakan sosial telah terbangun, yakni publik merasakan situasi yang buruk dan membutuhkan perubahan, maka “diperlukan” faktor pemicu, yakni faktor yang mempercepat eskalasi ketidakpuasan publik dan perubahan yang diharapkan harus diwujudkan dalam bilangan hari, jam atau detik. Pada banyak kasus gerakan sosial, metode-metode ekstrim memang dapat “dirancang” sebagai faktor pemicu lahirnya gerakan sosial yang diharapkan, misalnya metode mogok makan—apalagi pelaku sampai meninggal sehingga menjadi martir; aksi bakar atau bom bunuh diri, hingga terbunuh (atau dibunuhnya) kelompok tertentu yang dapat meningkatkan kemarahan publik seperti kelompok intelektual (mahasiswa, akademisi, rohaniawan) atau pemimpin publik lain.

Untuk kasus gerakan sosial di Indonesia, transisi antara orde lama menuju orde baru dan orde baru menjadi orde reformasi merupakan contoh yang baik. Pada masa orde lama, faktor penyebab telah terbangun sejak tahun-tahun 1962-1963 ketika ketegangan antarkelompok Nasakom terjadi ditandai dengan aksi-aksi sepihak, sabotase, persaingan pawai drumband dan seterusnya. Faktor penyebab ini menemukan momentum aksi ketika faktor pemicu terjadi, yakni pembunuhan perwira tinggi dan perwira pertama di Lubang Buaya tahun 1965. Pada periode orde baru harus mengakhiri eksistensinya ditandai dengan krisis moneter yang segera meluas menjadi krisis ekonomi di seluruh negeri. Demonstrasi-demonstrasi mahasiswa sejak pengujung tahun 1997 sesungguhnya adalah usaha permulaan untuk mematangkan situasi, yang dengan cepat meletus ketika sejumlah mahasiswa Trisakti tertembak dalam demonstrasi. Gugurnya mahasiswa martir ini menjadi pemicu lahirnya reformasi yang kita kenal hari ini dengan segala aspeknya baik yang dampaknya telah memuaskan maupun belum.

Realitas yang sama secara relatif belum terjadi pada latar belakang situasi obyektif yang melatari aksi Sondang. Secara umum publik masih nyaman dengan situasi yang ada, meskipun kegelisahan dan ketakpuasan terjadi di sana-sini. Aktor-aktor gerakan sosial seperti gerakan mahasiswa misalnya, masih melakukan aksi-aksi secara sporadis dan reaksioner, tidak secara khusus meniatkan diri untuk melakukan gerakan koreksi dan menjalin simpul gerakan yang kuat bagi terwujudnya satu visi perubahan, misalnya ganti kepemimpinan nasional atau semacam itu. Aksi-aksi reaksioner gerakan mahasiswa misalnya ditandai dengan aksi-aksi normatif yang dilakukan, umumnya bersandar pada momentum, macam hari anti korupsi dan semacam itu. Selepas momentum terjadi, gerakan mahasiswa kembali disbukkan dengan tugas-tugas perkuliahan, belum lagi fase periodisasi kepengurusan dalam gerakan mahasiswa yang membuat kepengurusan baru harus memulai periodenya dengan pemanasan terlebih dahulu. Pola siklikal periodisasi kepengurusan dalam gerakan mahasiswa misalnya, tak taktis bagi usaha melahirkan gerakan sosial yang kontinu, konsisten dan terus menerus.

Meskipun pahit, secara teoritik kita dapat mengatakan aksi Sondang masih belum berhasil menginspirasi bagi lahirnya gerakan sosial, bila ia dikategorikan sebagai faktor pemicu. Artinya, dalam 1-2 hari ke depan belum akan terjadi perubahan mendasar dalam tatanan sosial politik kita. Namun ikhtiar Sondang mengorbankan dirinya akan dicatat sejarah sebagai kontribusi bagi penguatan gerakan sosial di Indonesia, sebagai faktor penyebab yang akan menggugah kesadaran publik bahwa reformasi yang diperjuangkan selama ini belum sepenuhnya berlari kencang di atas relnya.

*Febrie Hastiyanto; Alumnus Sosiologi FISIP UNS. Pegiat Kelompok Studi IdeA. Pernah meneliti Gerakan Mahasiswa Indonesia dan Solo 1998.

Dimuat Lampung Post, Rabu 21 Desember 2011.

Satu Tanggapan to “Gerakan Sosial Usai Bakar Diri Sondang”

  1. herly Says:

    diakui atau tidak melemahnya gerakan mahasiswa saat ini dipicu ketidak mampuannya keluar dari hedonisme yang terus mendera


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: