Puisi-Puisi Febrie Hastiyanto

Desember 7, 2011

Langgar Al Muttaqien Rembang Petang

Langgar kami didirikan bersebelahan dengan Pasar Pagi. Menjaga iman kanak-kanak agar saban sore senantiasa mengaji. Dan godaan segala ding dong, karambol, nintendo, bantingan gaple serta kartu remi. Ejaan Iqro kami beradu kencang dengan mesin parutan kelapa. Dan imajinasi es tung-tung yang meruyak konsentrasi.

Langgar kami hangat oleh keringat. Berkejaran di halaman. Menanti-agar-tak-datang Pak Mustofa guru mengaji.

Langgar kami berimpitan dengan selokan. Tergenang kebiru-biruan. Limpasan kios ikan dan limbah rumah-rumah petak beradu dapur dan kamar mandi. Lorong-lorong tanah becek Gang Buntu. Dinding papan, bata merah dan tembok tertulis grafiti: selain anjing dilarang kencing di sini!

Tarawih kami 23 rakaat. Berkejaran dengan Kuliah Tujuh Menit di Masjid Padang dan lantunan takbir kesebelas Masjid Ogan. Cemas dilewati Sinetron Jendela Rumah Kita dan mini seri Friday di TVRI.

Petang ini menjelang lebaran. Tak usah sentimentil. Pak Mustafa sudah miring jalannya. Rambut menguban, ramah menyapa di beranda. Menggenggam tanganku dalam doa. Zakat fitrah terbayar tunai diterima.

Baradatu, 9 September 2010

Mengeluhlah pada Punggungku

: Farel, Rafel, Putri Aprilia

Tak usah ragu, mengeluhlah pada punggungku. Lapar malam ini telah mengompres air mata dalam kontrakan 12 kali 3 meter yang sepi. Hanya ada kasur kumal dan sprei tiga minggu belum dicuci. Jangan takut mereka menangis, karena isak ini tak lagi bersuara. Masih pedulikah engkau pada malam yang telah larut?

Tak usah ragu, mengeluhlah pada punggungku. Maafkan, malam ini aku sengaja tak mendengar sesalmu. Semua bergantung esok pagi. Aku menitipkan anak-anak kepadamu. Tolong gantikan popoknya yang  mengering apek oleh pipis, dan nanah koreng yang mengental. Perutnya memang membuncit, tetapi mereka bukan kekenyangan. Kukira kembung menelan angin sedari kemarin, dan kemarinnya lagi.

Tak usah sungkan, buanglah mukamu padaku. Kabarmu telah aku dengar tadi pagi dari televisi, saat susu formula kepunyaan Putri aku beli di minimarket. Sudah kukatakan kepadamu sayang tak ditimbang dari dua ember air mata. Aku memang tak bilang-bilang, tak hendak merecoki kesibukanmu menonton gosip dan mengunggah status di facebook. Terimakasih, tak usah kalian kumpulkan tiga truk koin cinta untuk ketiga putraku. Aku masih ibu yang baik bagi mereka.

Tegal, 9 Februari 2010

Senyum Rp. 1.000 di Hari Minggu

: Alifa Ardhanareswari

Berapa harga satu senyum di kotamu? Tak mahal, hanya Rp. 1.000. Dalam gelembung balon busa sabun. Pada botol plastik warna-warni. Memantul kemudian rebah di rerumputan. Pecah oleh sinar matahari pagi. Alun-alun kota kita.

Dan engkau menghampiri. Anak ayam berkeciap dalam sangkar. Seharga Rp. 2.000. Boleh kau bawa pulang. Dua hari dalam dekapan. Setelah itu mati kedinginan. Terlupa diberi makan.

Dan lagi. Semangkuk bubur ayam. Sedikit lebih mahal. Namun berselera. Karena kerupuk udang, dan bawang goreng dan kaldu mengental. Kukira.

Jadi, kapan kau akan memberi senyum. Lagi. Kepada kota kita?

Slawi, 26 Desember 2010.

Termuat dalam Tuah Tara No Ate: Antologi Puisi Temu Sastra Indonesia (TSI) IV. 2011. Ummu Press: Ternate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: