Bahasa Lalu Lintas

November 24, 2011

Lalu lintas dan jalan bersifat komplementer. Secara sederhana lalu lintas dapat dipahami sebagai pergerakan orang dan kendaraan di jalan. Untuk memudahkan pergerakan orang dan barang di jalan, lalu lintas dilengkapi dengan sistem tanda sebagai perangkat komunikasinya. Sistem tanda dalam lalu lintas yang kita kenal di antaranya berbentuk bahasa (huruf, angka, dan kalimat), warna, isyarat, gambar (lambang) dan bunyi. Bahasa dalam sistem lalu lintas sering kita baca ketika berkendara, namun beberapa di antaranya masih kurang tepat, baik efektivitas dan logika kalimat maupun pemilihan kata baku.

Semenjak diundangkan, UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  secara intensif disosialisasikan banyak pihak. Sejumlah aturan baru dikenalkan, misalnya aturan belok kiri saat lampu merah (traffic light) menyala, aturan menyalakan lampu utama saat siang hari—dan dengan demikian dapat kita sebut sepanjang waktu saat berkendara, yakni saat siang sebagai “kewajiban” dan saat malam sebagai “kebutuhan”; serta aturan penggunaan helm yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Dalam menyosialisasikan aturan belok kiri di lampu merah kerap digunakan rambu yang sekaligus digunakan sebagai media sosialisasi. Saat ini di tiang lampu merah jamak terpasang papan yang bertulis: “Apabila tidak terdapat rambu atau petunjuk lain. Dilarang Belok Kiri Langsung. Pasal 112 (3) UU No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.” Kalimat pertama ditulis dalam ukuran huruf (font) lebih kecil, kalimat kedua ditulis dengan ukuran huruf lebih besar bahkan ditulis dengan huruf kapital, sedangkan kalimat ketiga seperti halnya kalimat pertama ditulis dengan ukuran huruf yang lebih kecil. Rambu model ini cukup efektif, namun kurang tepat. Efektif karena pengendara dapat memahami petunjuk rambu sekaligus mengetahui aturan baru dalam UU Lalu Lintas. Kurang tepat karena rambu seharusnya berisi kalimat perintah, larangan maupun petunjuk, bukan kalimat yang berisi pilihan. Kata “apabila” dalam rambu mengindikasikan adanya pilihan dalam bertindak bagi pengemudi. Kalimat dalam rambu juga semestinya ditulis ringkas dan berisi pesan tunggal untuk memudahkan pengemudi membaca rambu secara cepat sehingga dapat mengendarai kendaraannya dengan baik.

Masih terkait regulasi soal belok kiri, sejumlah rambu ditulis lebih ringkas, beberapa di antaranya ditulis: “Belok Kiri Mengikuti Lampu” juga rambu “Belok Kiri Jalan Terus”. Pada rambu pertama, kata “mengikuti” kurang tepat digunakan. Lema “ikut” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring (dalam jaringan; online) dapat diartikan sebagai menyertai, mengiringi atau turut, Bandingkan bila kita menggunakan kata “sesuai” yang berarti sejalan, sama atau tidak bertentangan. Sehingga bila disepakati, Dinas Perhubungan dapat menuliskan rambu “Belok Kiri Mengikuti Lampu” menjadi “Belok Kiri Sesuai (Petunjuk) Lampu (Merah).” Rambu “Belok Kiri Jalan Terus” juga berpotensi menjadi taksa, ambigu. Kata “terus” dalam rambu ini memiliki asosiasi “lurus (ke depan)”. Makna pertama lema “terus” dalam KBBI Daring juga diartikan “lurus menuju”. Bila ingin taat berbahasa, rambu “Belok Kiri Jalan Terus” dapat diganti menjadi “Belok Kiri Langsung Jalan”. Rambu ini dapat menjelaskan kepada pengendara yang akan belok kiri untuk langsung jalan tanpa mengindahkan lampu lalu lintas yang sedang menyala.

Penggunaan sejumlah kata dalam bahasa rambu juga masih kurang tepat. Misalnya anjuran “Gunakan helm standart”. Kata “standart,” termasuk kata yang semula dianggap baku, “standard” tentu harus diubah menjadi “standar” agar menjadi kata yang baku sesuai KBBI. Bahkan dalam UU Lalu Lintas, masih terdapat kata “marka” untuk menyebut tanda (garis) membujur, melintang, serong, serta lambang yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas. Dalam KBBI Daring lema “marka” dirujuk lagi kepada lema “markah” sebagai tanda yang berupa garis-garis penunjuk. Sudah seharusnya bahasa undang-undang juga mengacu pada kamus yang hingga saat ini dianggap sebagai rujukan kata yang baku.

*Febrie Hastiyanto; Pengguna jalan. Bergiat pada Kelompok Studi IdeA.

Dimuat Lampung Post, Rabu, 23 November 2011.

 

 

 

 

Febrie Hastiyanto. Pernah tinggal di Lampung, Solo dan Tegal, serta intim dengan Yogyakarta dan Banjarnegara. Berminat pada Sosiologi, Gerakan Mahasiswa, buku, dan film, termasuk jalan-jalan untuk mengagumi kota, kuliner, sejarah, dan budaya pada umumnya. Artikel dan cerpennya tersebar di Suara Merdeka, Kompas (Edisi Jateng), Jawa Pos, Pelita, Lampung Post, Wawasan, Waspada, Joglosemar, Solopos, Pikiran Rakyat, Intisari, Annida, Poetikaonline, Horisononline, Sastra Digital, Minggu Pagi, Jurnal Medan, Bulletin Pawon dan Horison (Kakilangit). Puisinya Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya menjadi finalis Krakatau Award 2009. Cerpennya termuat dalam antologi Pentas di atas Mimpi (TBJT, 2008). Saat ini hastiyanto.wordpress.com dan masmpep.wordpress.com menjadi mainan barunya, tempat ia bebas menulis tanpa diinterupsi redaktur-redaktur media massa yang sering menolak pemuatan artikel-artikelnya. Selain menjadi Koordinator Kelompok Studi IdeA (2008-2009) kini hidup bahagia bersama seorang istri dan putri mungilnya yang belum genap berusia dua tahun. Obsesinya: menjadi backpacker di Sumatera Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: