Menjadi Indonesia Melalui Sepakbola

November 14, 2011

Sesaat setelah Perang Dunia II berakhir, frekuensi perseteruan antarnegara dalam bentuk perang frontal menurun drastis. Banyak negara menahan diri untuk berperang, mengingat luka akibat perang yang menyakitkan, di samping menghindarkan diri dari perang global, semacam Perang Dunia III yang coba diredam kemungkinannya oleh banyak negara. Padahal, sentimen berseteru pada dasarnya merupakan semangat laten pergaulan antarbangsa. Orang kemudian melirik olahraga, dalam hal ini sepakbola sebagai medium baru untuk mengelola sentimen nasionalisme baru.

Menjadikan olahraga sebagai medium mengelola spirit kebangsaan-baru bisa dimaknai secara konstruktif, sekaligus kebalikannya. Secara konstruktif, olahraga dapat menghindarkan dunia dari konflik frontal antarbangsa. Namun menjadikan olahraga sebagai model ‘peperangan’ baru juga menciderai nilai-nilai sportivitas, dan fair play olahraga. Lebih dari itu, nasionalisme membuat olehraga memiliki beban lebih, yang bila tidak dikelola dengan baik justru melemahkan bahkan meniadakan nilai-nilai olahraga yang hendak dibangun.

Gelar Kolosal

Hari-hari belakangan, semangat kebangsaan kita berada pada titik yang mencemaskan. Namun kita beruntung memiliki sejumlah agenda-agenda nasional yang bersifat kolosal. Kolosal, melibatkan banyak pihak, dan dengan segera menjadikannya sebagai bentuk baru persatuan nasional. Tradisi mudik lebaran misalnya, meringankan langkah sebagian (besar) penduduk tanah air  terutama di Jawa dan Sumatera untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Perasaan senasib membuat ikatan-ikatan sederhana muncul di dalam bus, kapal laut, terminal, hingga bandara. Perasaan senasib, sebagaimana diintroduksi Ernest Renan filosof Perancis akhir abad ke-19 merupakan perasaan sejiwa dan bersatu karena memiliki pengalaman sejarah yang sama yang menjadikan kita membutuhkan bangsa yang satu. Dalam bahasa Benedict Anderson, perasaan senasib ini disebut sebagai komunitas imajiner (imagined community) yang juga melahirkan semangat kebangsaan, untuk ‘menjadi Indonesia’ sebagaimana dilansir Parakitri Tahi Simbolon.

Perasaan-perasaan senasib ini juga terjadi tatkala bangsa diguncang bencana. Termasuk ketika bangsa kita merayakan kemenangan dalam olahraga, dalam hal ini sepakbola. Sepakbola, seperti pada gelaran AFF (Piala Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) lalu telah menjelma menjadi nasionalisme baru bangsa. Nasionalisme tumbuh karena Timnas menjadi representasi negara. Dan pertandingan demi pertandingan dimaknai sebagai ajang laga antarnegara.

Mengelola Nasionalisme

Secara sederhana, sentimen in group termasuk di dalamnya nasionalisme dapat dikelola dengan melakukan dua hal: menciptakan musuh bersama (common enemy) atau merumuskan tujuan bersama (shared goal), dapat juga kombinasi dari keduanya. Dalam konteks laga AFF kemarin, terutama ketika berhadapan dengan Timnas Malaysia, tujuan bersama menjadi pemenang AFF tampak tenggelam oleh keinginan untuk menggunguli musuh bersama yakni Malaysia sebagai bangsa. Sudah diketahui publik bahwa bangsa Indonesia dan Malaysia berada pada situasi perang dingin oleh sebab banyak insiden antar kedua negara dalam satu dekade terakhir.

Dalam analisis semiotika misalnya, pilihan-pilihan penggunaan idiom seperti ‘Ganyang Malaysia’ dengan segera menguatkan keyakinan bahwa perseteruan telah meluas ke luar lapangan sepakbola dan pertandingan 2 kali 45 menit di stadion. ‘Ganyang Malaysia’ akan segera mengingatkan kita pada Konfrontasi Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang diamanatkan Presiden Soekarno tahun 1963 untuk menghalangi berdirinya negara Federasi Malaya (Persekutuan Tanah Melayu) yang diklaim bentukan Inggris atau negara Neo Kolonialis (Nekolim). Idiom Ganyang Malaysia bahkan digunakan oleh media di Indonesia, terutama televisi swasta sebagai tajuk dari rangkaian liputan mengenai laga-laga AFF. Media, sebagai representasi lembaga ‘resmi’ yang dipandang taat berbahasa (meski tak selalu) tentu sadar dan memiliki maksud lain ketika memilih menggunakan idiom Ganyang Malaysia dibanding suporter yang berkeringat di lapangan.

Laga AFF, bahkan laga-laga internasional lain seperti Pra Olimpiade saat ini sesungguhnya merupakan kesempatan untuk mengelola semangat dan meraih tujuan bersama (shared goal) ketimbang mengalahkan musuh bersama (common enemy). Perasaan senasib, maupun komunitas imajiner kita perlu terus dipelihara agar mimpi menjadi Indonesia segera mewujud. Pembentukan karakter melalui ceramah, penataran maupun indoktrinasi terbukti tidak efektif. Namun bangsa ini tetap membutuhkan medium internalisasi untuk membangun spirit dan sistem nilai yang dapat kita sebut “Indonesia’, seperti nilai-nilai sportivitas, kejujuran, penghargaan kepada lawan, penghormatan kepada tamu, rendah hati, santun, antre, meletakkan sampah pada tempatnya, tertib, tepat waktu, tepat janji, dan seterusnya. Hal-hal kecil yang secara kumulatif dan agregat menjadi tanda (sign) keindonesiaan.

Melalui momentum olahraga, kita dapat mulai menguatkan nilai-nilai kebersamaan yang kini meluntur. Panitia pertandingan, Pengurus PSSI, pemerintah, supporter, dan penikmat sepakbola di Indonesia seharusnya menjadikan momentum kebangkitan ini untuk melakukan pendidikan karakter dari semangat olahraga bagi nilai-nilai kebersamaan dan nasionalisme yang lebih bersifat sehari-hari. Kita harus bekerja keras merumuskan sistem yang dapat membangun karakter kebangsaan dan solidaritas dari lapangan yang dapat terbawa dalam alam bawah sadar sehari-hari anak bangsa.

*Febrie hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi Idea.

Dimuat Analisa, Selasa 8 November 2011

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: