Soe Hok-Gie dan Gerakan Mahasiswa

Oktober 12, 2011

Saya mengenal Soe Hok-Gie (selanjutnya disebut Soe) sejak tahun 2002. Saya mengenalnya karena dipinjami buku Catatan Harian Seorang Demonstran oleh seorang senior saya di pers mahasiswa, sebuah buku bekas yang dibelinya di Bilangan Gladag Solo. Berturut-turut kemudian saya berkesempatan meminjam Orang-Orang di Simpang Kiri Jalan, skripsi sarjana Soe yang ber-setting Peristiwa Madiun 1948. Juga memiliki kumpulan artikel dalam Zaman Peralihan yang saya peroleh dengan harga persahabatan dari seorang teman. Serta biografi Soe yang ditulis John Maxwell, Soe Hok-Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani—yang dijadikan Riri Riza sebagai rujukan utama Gie.

Sebagai anak muda yang baru menginjakan kaki di awal-awal masa perkuliahan, saya kira saya pun telah mengagumi Soe. Saya menjadi terinspirasi untuk menulis juga catatan harian—yang siapa tahu bila saya mati kelak ada yang membukukan. Juga terinspirasi obsesi Soe untuk mati muda. Oleh saya impian ini menjadi lebih sentimentil: kalaupun mati alangkah nikmatnya di jalan dalam demonstrasi, seperti Arief Rachman Hakim, atau paling kurang Elang Mulya Lesmana. Namun buku harian saya hanya sempat tertulis sekira setahun, itu pun belakangan banyak berisi tulisan-tulisan saya yang gagal mengungkapkan cinta pada dua orang gadis. Juga hingga saat ini saya belum mati meski berkali-kali berdemonstrasi, sebagai penggembira tentu saja. Pada akhirnya saya beriman bahwa saya bukan Soe dan tidak dapat mempersamakan diri dengan Soe.

Beberapa waktu kemudian setelah saya mulai melupakan Soe oleh sebab kesibukan-kesibukan kuliah dan kehidupan dewasa, saya mendengar kabar Soe akan difilmkan oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, dua nama yang memiliki retorika tersendiri dalam jaminan mutu sebuah film di Indonesia.

Meskipun Gie ditelah diputar di bioskop sejak tahun 2005 dan telah diputar berulangkali di televisi, saya kira Gie tetap menarik untuk didiskusikan. Menonton Gie membuat saya merasa perlu untuk menulis esai ini. Ada beberapa catatan menarik dari fenomena Soe sebagai pribadi dan Gie sebagai film—yang diakui Riri Riza tetaplah fiksi. Pertama, meski saya menyadari film sebagai produk kebudayaan populer (pop culture) yang tidak independen dari rezim bisnis industri citra dan selera masyarakat—yang hendak direkayasa film—jalan cerita Gie jelas mengecewakan saya.

Saya merasa sisi-sisi revolusioner dan sikap politik kritis Soe belum jelas tergambar bagi penonton yang belum mengenal Soe sebelum menonton Gie. Meski durasinya cukup panjang—sekira 2,5 jam sehingga bioskop memutarnya tiga kali sehari dari biasanya empat kali sehari—Gie tampak ingin bercerita banyak namun kurang fokus. Peran Soe dalam demonstrasi yang heroik di akhir 1965 dan awal 1966 cuma tempelan beberapa menit durasi saja. Padahal sebelumnya saya membayangkan Gie banyak menampilkan adegan-adegan heroik Soe dalam demonstrasi, terutama karena buku hariannya diterbitkan dengan tajuk Catatan Harian Seorang Demonstran. Atau kalau ingin menempatkan Soe sebagai seorang intelektual di belakang layar, peran-peran Soe dalam Gerakan Pembaharuan dan klik Partai Sosialis Indonesia (PSI); atau sebagai intelektual di belakang Senat FS UI dan Herman Lantang; maupun keterlibatan Soe dalam siaran-siaran kritis Radio Ampera terhadap Orde Baru, termasuk sikap-sikap politiknya terhadap PPMI, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indoensia (KAMI), kampusnya UI, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas) ekstrauniversitas, terhadap Soekarno dan Orde Baru belum tergambar dalam Gie secara utuh.

Dalam pengandaian saya, gambaran Soe dalam Gie dapat dibayangkan sebagai mahasiswa yang ‘katanya kritis’; cenderung hedonis—di saat teman-temannya turun ke jalan malah menonton film; bahkan berciuman segala—yang dalam kesaksian Herman Lantang karibnya kepada Tempo: rasanya tidak mungkin dilakukan Soe. Saya menjadi khawatir Gie hadir tidak saja ingin mengenalkan sosok Soe kepada publik muda—yang diklaim dalam promosi sebagai ‘tepat dalam situasi dan kondisi bangsa saat ini untuk mengenal pemikiran dan sikap politik Soe’—melainkan menjadikan pemikiran dan sikap politik Soe yang telah dikenal publik sebagai sesuatu yang dapat dijual dalam kemasan industri film. Seperti halnya sikap-sikap politik revoluioner Che Guevara yang disederhanakan dalam gambar-gambar sablon kaos oblong atau cantik hadiah ulang tahun buat pacar tersayang.merchandise.

Kedua, cukup menarik sosok Soe dalam menilai keberadaan ormas. Dalam Gie disebut-sebut Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang entah kenapa tidak menyebut Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) atau Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos). Semua ormas tidak disukai Soe dan karenanya Soe tidak masuk salah satu di antaranya. Bagi saya, bagi sebuah Gerakan Mahasiswa sangat penting sebuah pengorganisasian. Kalau kemudian Soe tidak sepakat dengan ormas tentu ini bukan berarti ormas tidak perlu. Saya mengandaikan bila kita memiliki 1.000 Soe di tahun 1966 tanpa satu pun ormas, kiranya Gerakan Mahasiswa 1966 tidak akan pernah lahir.

Saya beranggapan Soe perlu melihat keberadaan dan posisi ormas secara objektif. Meski saya mengagumi Soe, jelas Soe emosional melakukan kritik terhadap gerak dan kiprah ormas. Gerakan Mahasiswa 1998 menurut saya merupakan kritik yang konstruktif terhadap keberadaan ormas yang harus diakui memang sering bertindak kompromis atas nama oportunisme politik. Gerakan Mahasiswa 1998 menolak keberadaan ormas dengan membentuk organ-organ gerakan baru dalam komite aksi dan tetap melakukan pengorganisasian. Sikap politik ini yang saya lihat tidak dilakukan Soe kecuali melakukan kritik terus menerus kepada ormas—dan mengirim 13 temannya dalam Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) perlengkapan kosmetika agar selalu tampil manis di hadapan penguasa.

Saya beriman pada pendapat seorang kawan: setiap karya tidak ada yang tidak berguna. Ia akan menginspirasi kita untuk membuat karya lain yang lebih baik lagi. Saya percaya publik kita masih menunggu Mira Lesmana dan Riri Riza memfilmkan peristiwa bersejarah lain dalam perjalanan bangsa kita. Film detik-detik Proklamasi 1945 misalnya, belum ada yang memfilmkan secara ‘serius’ dan kalau Riri Riza dan Mira Lesmana memfilmkannya kiranya bakal laris layaknya Gie.

*Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IdeA. Pernah meneliti Gerakan Mahasiswa.

Dimuat Suara Merdeka, Sabtu 8 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: