Memangkas Embrio Konflik Laten

September 13, 2011

“Ekspektasi tetangga bahwa perantau sukses di Jakarta, membuat sebagian dari mereka  mereproduksi citra diri sukses sungguhan”

Beberapa pekan setelah Idul Fitri, dinamika wilayah sepanjang pantai utara (pantura) Jawa, utamanya bagian barat, kerap mewarnai headline media massa. Dari Karawang Jabar hingga masuk wilayah Jateng. Produksi berita dari pantura ini bukan berita baik karena didominasi masalah kemacetan lalu lintas, kecelakaan, dan agresivitas massa sebagaimana juga terjadi di Kecamatan Ringinarum Kendal (SM, 11/09/11).

Bila diidentifikasi, agresivitas massa di Tegal berbasis tawuran antarkampung. Penyebabnya setidaknya dua hal. Pertama; bibit laten yang sudah ada, semisal dendam, dan sentimen wilayah yang terpendam lama.  Terpendam berarti memiliki makna risiko konflik laten secara relatif tidak diselesaikan tuntas tapi ditularkan dari generasi ke generasi.

Kedua; culture shock. Penduduk pantura Jateng bagian barat yang memiliki kultur wirausaha tinggi juga memiliki semangat merantau. Seperti tradisi dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, saat-saat tertentu masyarakat pantura yang merantau ini kembali (mudik) ke daerah asalnya. Saat mudik adakalanya timbul gesekan antarwarga. Masyarakat perantau itu tidak seluruhnya bernasib baik, dalam arti tidak semua menjadi bos.

Ekspektasi berlebihan terhadap perantau di Jakarta cukup tinggi. Mereka yang merantau dipukul rata sebagai orang sukses. Padahal faktanya kadang berbicara lain. Hanya saja ekspektasi tetangga bahwa mereka orang sukses, membuat sebagian perantau mereproduksi citra diri sebagai orang sukses sungguhan. Kondisi ini dianggap sebagai sikap overacting yang memancing gesekan antara perantau dan warga yang tinggal di situ.

Selain perilaku citra diri menjadi orang sukses karena memenuhi ekspektasi keluarga di daerah asal, perantau juga cenderung membangun citra diri orang sukses sungguhan, sebagai sikap otonom individual. Momentum mudik membuat perantau yang memiliki uang lebih (dari tabungan dan THR misalnya) memiliki kecenderungan untuk bersikap otonom dan membangun citra ala bos terhadap keluarga ataupun warga sekitar. Kondisi ini tak pelak memperuncing potensi konflik musiman ini.

Gesekan paling sering terjadi saat digelar keramaian, seperti pentas hiburan atau pertandingan olahraga antarkampung (tarkam). Gesekan umumnya diawali keributan (biasanya kecil dan sepele) antarindividu, yang kemudian meluas menjadi tawur antarwarga. Atas nama solidaritas, harga diri, dan nilai-nilai ’’kepahlawanan’’ dengan cepat gesekan antara orang dan orang dikonstruksi menjadi gesekan antara komunitas dan komunitas.

Akar Konflik

Biasanya gesekan mereda setelah kedua belah pihak didamaikan aparat keamanan dan tokoh masyarakat. Perdamaian bahkan dilakukan hingga masuk dalam wilayah hukum, ditandai dengan penandatanganan komitmen perdamaian di atas segel dan untuk menguatkan dibubuhi materai. Konflik memang mereda sesaat, namun bibit laten itu terpelihara hingga menemukan pemicunya, yakni momentum mudik tahun depan.

Untuk mengurainya bukan persoalan gampang karena menyangkut perilaku dan kultur masyarakat. Namun beberapa langkah perlu diambil untuk meminimalisasi konflik. Pertama; penyelesaian konflik kriminal lewat jalur hukum. Penyelesaian secara adat memang dapat mengurai akar konflik namun agresivitas massa bukanlah persoalan kultural yang mendesak. Penyelesaian secara adat hanya menjadi komplemen solusi hukum.

Kedua; menumbuhkan kesadaran bersama bahwa perantau tidak selalu sukses, dan dengan demikian tidak dibebani ekspektasi berlebihan. Ketiga; melatih perantau sebagai tenaga terampil sehingga mempu berwirausaha dan menjadi majikan bagi dirinya. Kondisi ini sekaligus mengangkat citra daerah bahwa perantau asal pantura, khususnya Jateng, mampu berbuat lebih ketimbang sekadar menjadi karyawan atau bawahan.

Febrie Hastiyanto, mantan Koordinator Kelompok Studi IdeA , PNS di Kabupaten Tegal

Dimuat Suara Merdeka, Selasa 13 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: