Realisme Melodius Giwang Topo

Agustus 9, 2011

Saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk memanfaatkan waktu selama di Jogja. Setidaknya satu minggu satu kali menyempatkan diri mencicipi suguhan seni dan budaya di kota ini. Minggu lalu kelas short course sebenarnya padat. Beberapa hari saya menahan kantuk yang tak lampias karena tidur siang saya beberapa minggu ini terampas sama sekali. Namun malam itu saya memaksakan diri. Menyusuri Jalan Colombo di sore yang memerah. Nekat menonton satu pentas musik, satu jenis kebudayaan yang tak familier dalam kehidupan saya.

Saat 19 teman lain menghabiskan waktu di kamar, saya menyelinap seorang diri. Saya membatin: musik? Saya menyukai musik populer tentu saja, yang ditayangkan hampir setiap hari di televisi kita. Agenda saya malam itu tentulah bukan menikmati musik-musik populer. Pentasnya saja di Laboratorium Seni Pertunjukan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Acaranya bertajuk Music Concert Giwang Topo n Friends featuring Gamblank Musikal Teater, Cressimo Quartet, Anita Siswanto dan Andy SW. Tentulah ini satu sajian musik yang serius, bertabur makna filosofis, dengan komposisi not-not balok yang ketat, mendekati mbuh.

Saya menguatkan diri untuk tak merasa kecut. Laboratorium Seni Pertunjukan masih lengang ketika saya datang. Padahal menurut jadwal pentas sepuluh menit lagi dimulai. Saya melempar pandang di selasar gedung. Membatin, betapa menariknya menjadi mahasiswa (dulu). Saya menghela napas berkali-kali, agar tak larut dalam kantuk. Sampai akhirnya pentas dimulai, lebih lama 30 menit dari jadwal.

Pertunjukan disuguhkan dengan serius. Tata panggung, komposisi alat-alat musik disusun menggetarkan saya, yang tak tahu menahu soal bebunyian. Bahkan saya masih tak dapat membedakan mana perkusi dan drum. Yang mana gitar yang mana bass. Saksofon atau terompet. Tak apa, karena Giwang Topo membuka pentas dengan lagu-lagu yang berirama spartan dan rancak. Gebukan drum dan perkusi membangkitkan adrenalin, setidaknya mengentak kesadaran saya untuk tidak mengantuk.

Giwang Topo merupakan pemain lama dalam seni pertunjukan musik di Jogja. Aslinya ia bernama Heribertus Dian Hartopo, seorang Ahli Madya Bahasa Inggris yang lebih banyak membuat video dokumenter, video iklan, aransemen lagu dan jingle iklan dalam menghidupi dirinya, beserta sang istri dan putrinya yang diberi nama melodius: Denting Sanitya Merdu. Saya membayangkan Denting kelak pasti berbahagia dengan namanya yang otentik, setidaknya tak ketambahan family name Hartopo….

Karier bermusik Topo dimulai dari rupa-rupa teater yang pernah diikutinya seperti Teater Soekma, Teater Gema, Teater ’W’, Teater ADA, Teater Dokumen, Teater Lobby Dua, Teater Atmajaya, Teater 923 dan Teater Garasi, termasuk tergabung dalam Forum Komunikasi Pengembangan Teater Kampus Yogyakarta. Tak heran bila pentas musik Topo malam itu berlangsung sangat teatrikal.

Musik tidak disajikan sebagai sajian tunggal. Penonton dihibur dengan visualisasi dari layar di latar panggung. Serupa wayang, membayang-bayang dengan slide foto, lukisan, dan komposisi benda-benda tematik yang samar-samar tertangkap kelir. Serta merta saya teringat pentas Gandrik tempo hari. Meski demikian saya berusaha membuang buruk sangka saya bahwa kelir yang membayang ini sebagai tren dalam seni pertunjukan di Jogja. Kalaupun tepat, sebenarnya bukan problem yang serius juga. Justru kelir-keliran dapat menjadi karakteristik seni pertunjukan di Jogja, setidaknya pada masa-masa ini, sebagaimana kritikus dan esais mengelompok-ngelompokan genre dalam satu dimensi waktu yang disebut periodisasi atau ’angkatan’.

Selain musik, Topo menghibur penonton dengan monolog yang apik dari Andy SW. Monolog sederhana: karena Giwang Topo adalah sentrum pertunjukan, selain menjadi aktor utama, kisah hidupnya yang melodius direka-ulang dalam napak tilas monolog. Monolog terbagi dalam tiga sesi: anak-anak, remaja, dan dewasa. Saat Andy SW muncul, saya mengira ia akan menyampaikan monolog kisah hidup Topo dari A hingga Z. Ternyata tidak. Andy SW merangkum perjalanan musikal Giwang Topo secara teatrikal dengan bumbu komedis dan lompatan-lompatan imaji yang liar. Andy mengaku bila Topo lahir dari seorang Ibu Bulan. Saya masih dapat menerima. Ibu dan bulan merupakan komposisi yang dianggap saling komplementer. Bulan diasosiasikan dengan keindahan malam, dan kelembutan gelap-gelap terang, sebagai sahabat bumi setelah melewati jajahan matahari.

Tetapi Andy melompati nalar penonton—setidaknya saya—dengan memberi testimoni bahwa ayah Topo adalah sebuah mangga. Mangga dan bulan? Mangga, imajinasi dari mana yang dipungut Andy? Meski demikian saya mengaku kalah, karena yang saya bayangkan ’suami’ yang tepat bagi ’bulan’ tentulah surya, bayu, kejora, bimasakti, atau merkurius. Bukan mangga. Yang tak terduga-duga.

Monolog membuat pertunjukan tidak terlalu membosankan. Padahal power vokal Giwang Topo, M. Ahmad Jalidu, dan Anita Siswanto yang menembangkan lagu-lagu Ada Apa, Kuasa dalam Perahu, Terbilang Duka, Mencari, Nyanyian Janji, Sebuah Tanya, Mana Di Mana, dan Kepada Sang Waktu terdengar berkejaran dengan power musik. Vokal terdengar samar-samar, berdengung. Apalagi lagu-lagu yang ditampilkan bukan lagu-lagu populer yang meski dinyanyikan samar sekalipun dapat ’ditebak’ liriknya oleh penonton. Saya membolak-balik leaflet saku yang dibagikan, tak ada lirik yang dimuat kecuali lirik aransemen pamungkas yang juga menjadi tajuk pertunjukan: Kepada Sang Waktu. Saya mencoba memahami argumentasi Topo and friends yang mencoba berdamai dengan budget pertunjukan sehingga tak menuliskan semua lirik pada leaflet. Saya hanya membatin, bila lirik dituliskan dengan menambah empat halaman leaflet saja, pertunjukan akan berlangsung lebih hangat dengan keterlibatan emosional penonton.

Di tengah-tengah pertunjukan, saat sesi monolog masa dewasa Topo mencari cinta, Andy SW mengundang Yuni Ernawati istri Topo untuk turut bernyanyi. Saya tak dapat menduga dengan pasti, apakah sesi ini bersifat ’kejutan’ atau memang skenario pertunjukan. Penonton semakin bersemangat, bertempik sorak riuh. Apalagi Topo tampak malu-malu berduet dengan sang istri. Topo dan istri menyanyikan tembang manis, yang menceritakan realisme mimpi-mimpi mereka secara melodius. Karena momen itu tak terduga, tampaknya penonton membuka telinga lebar-lebar disela akustik gedung yang berkejaran dengan gema dan power musik. Mencoba mencermati lirik—satu cara elementer bagi amatiran seperti saya untuk menikmati lagu.

Entah karena konsentrasi dipusatkan pada adegan ini, entah karena realisme yang ada ditampilkan secara melodius dengan apik, saya berkesimpulan sesi jam session Topo dan istrilah pamungkas dari pertunjukan malam itu. Saya membatin, berbahagialah mereka yang memiliki kemampuan imajiner dan mampu menuangkannya dalam lirik, aransemen lagu, sajak, puisi dan prosa. Mereka adalah orang-orang yang jiwanya terisi penuh oleh perasaan yang empatik terhadap realitas. Bagi seorang musisi realitas bisa menjadi sesuatu yang melodius. Sesuatu yang memiliki rima untuk dilagukan, baik melalui lirik maupun aransemen musik.

Saya sering cemburu pada musisi. Yang mampu mengeksresikan gagasannya secara sederhana, untuk didengar orang lain hanya paling lama lima menit. Namun memberi kesan yang mendalam. Menggerakkan imanjinasi dan perasaan orang lain. Coba saja, berapa banyak dari kita yang menangis, tertawa, atau mendapat pembenaran atas realitas yang kita hadapi dari sebuah lagu? Sedang sedih dan ingin menangis atau menumpahkan perasaan yang menyesakkan dada, silakan pilih: lagu patah hati dikhianati sahabat, patah hati ditinggal kekasih, patah hati kesepian di rantau orang, atau patah hati karena menghimpit rindu tertahan. Dengarkan lagu, menangislah, hempaskan beban di dada, ratapilah nasibmu, setelah kita menikmati kepatahatian, tersenyumlah. Seringkali kekalahan perlu untuk dinikmati, menjadi orang yang kalah dan patah. Betapa kejamnya realitas, betapa tak beruntungnya jalan hidup ini. Sudah, sudah, jangan berlama-lama larut. Saat kita menuntaskannya, saat itu pula jiwa kita kembali longgar. Untuk diisi hari-hari yang lebih produktif lagi.

Punya perasaan terlarang? Tak perlu ragu. Merujuklah pada pembenaran selusin lagu-lagu bertema perselingkuhan yang sedang in hari-hari ini. Tak perlu menyesal karena perasaan anda telah menjadi ’normal’ hari ini. Banyak juga orang yang berpikiran sama dengan anda, yang artinya akan banyak pula orang yang akan menemani anda berkonsultasi dengan psikolog. Karena sejatinya anda telah membuat standard-standard baru dalam menjalin hubungan dengan seseorang yang dapat diartikan pula sebagai patologi sosial.

Pukul 22.40 pentas berakhir. Saya bersama sekira 20 orang penonton memberi tepuk riuh rendah bagi Giwang Topo dan kawan-kawannya. Mereka masih eksis menghidupi diri dan musiknya. Saya tak perlu menduga, bahwa Giwang Topo hanya mendapatkan kepuasan batin yang mendalam malam itu, tak lebih. Tak mungkin berharap dari kapitasi karcis pertunjukan. Kami semua berbahagia malam itu. Mereka dapat mengekspresikan realitas secara melodius, saya mendapat banyak pelajaran yang mempertebal jiwa. Anda? Saya berharap juga mendapatkan sesuatu yang sama, atau bahkan keduanya.

Jogja, Medio 2009.

 *Febrie Hastiyanto; penikmat musik.

Dimuat Horisononline, Edisi Kamis 4 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: