Mudik Tanpa Macet

Agustus 9, 2011

Sebagai agenda tahunan bagi mayoritas muslim tanah air utamanya penduduk pulau Jawa dan Sumatera, ritual mudik seharusnya tidak lagi dilalui dengan kegagapan dan berbagai permakluman seperti yang selama ini kerap kita alami. Ritual dalam penghayatan tradisi keberagaman kaum muslimin tanah air ini masih memungkinkan diminimalisasi dari carut-marut persoalan yang nyaris setiap tahun selalu terjadi.

Bisa jadi hanya di Indonesia perayaan Hari Raya Idul Fitri yang diawali dengan tradisi mudik terlebih dahulu. Kuatnya ikatan kekerabatan gemeinschaft yang berkembang di tengah keluarga Indonesia menjadi jawaban atas kerelaan bagi cerita-cerita romantik mudik yang menjadi identik dengan susah payah, prihatin, dan membutuhkan pengorbanan tinggi. Semua dilakukan dengan ikhlas untuk sekedar bersilaturahmi dengan sanak keluarga barang lima sampai tujuh hari di kampung halaman. Tidak semua pemudik berasal dari golongan berkecukupan secara ekonomi. Sehingga banyak dari pemudik yang harus menabung sebagian pendapatannya untuk sekedar melepas kangen dan bermaaf-maafan di hari nan fitri itu. Karena itu upaya-upaya perbaikan terhadap keluhan dari pelaksanaan mudik tentu saja harus dimaknai sebagai penghargaan terhadap pemudik.

Problem klasik yang hampir pasti dijumpai setiap tahun adalah padatnya arus pemudik, terutama pada hari-hari menjelang lebaran maupun beberapa waktu setelahnya. Usaha-usaha meminimalisasi kemacetan di jalan raya bukan tidak pernah dilakukan. Namun selalu saja hasil yang diperoleh belum memuaskan semua pihak, utamanya pemudik.

Kampanye yang sempat dilakukan berbagai pihak untuk mensubstitusi mudik dalam silaturahmi nonverbal melalui surat atau telepon pada pertengahan dekade 1990 selain tidak menyelesaikan masalah juga dianggap tidak bijak sekaligus mencerabut tradisi beragama masyarakat kita yang khas. Karena itu tradisi mudik tidak perlu dibatasi, namun bagaimana memperlakukan agenda mudik (dan pemudik, tentu) secara manusiawi. Political will pemerintah sebagai pengelola dan penanggungjawab transportasi publik menjadi faktor penting bagi kebijakan transportasi mudik.

Setidaknya terdapat lima langkah yang harus dilakukan pemerintah secara committed dan lintas-departemental dalam mewujudkan mudik tanpa macet. Pertama, menetapkan jadwal libur nasional secara tidak serentak dengan jumlah hari yang sama bagi pelajar dan pekerja sektor formal. Kemacetan kerap terjadi pada arus puncak mudik dan arus balik terutama saat pelajar dan pekerja sektor formal secara serentak memasuki masa liburan. Perlu dipertimbangkan jadwal cuti bersama bagi pegawai negeri sipil yang hanya selang sehari sebelum hari raya. Pada momentum itu bukan tidak mungkin terjadi puncak arus pemudik.

Kedua, membuat jalur-jalur alternatif menghindari pasar tumpah dan pembangunan infrastruktur transportasi publik. Kemacetan, terutama di jalur pantura lebih banyak disebabkan pasar tumpah yang merampas badan jalan. Selain menyiasati pasar tumpah, pembangunan prasarana transportasi yang dilakukan pemerintah dengan membangun dermaga baru di pelabuhan Merak Banten dan Bakauheni Lampung terbukti mampu meminimalisasi antrean panjang pemudik. Meskipun jalur alternatif jalan lintas timur (jalintim) di Sumatera belum diimbangi dengan prasarana jalan yang baik.

Ketiga, tidak melakukan perbaikan jalan saat bulan puasa dan beberapa waktu setelah lebaran. Mungkin karena jadwal penganggaran, seringkali saat puncak arus mudik justru jalan raya sedang diperbaiki. Perbaikan jalan ini tentu sangat berpotensi menyebabkan kemacetan. Keempat, dengan membangun kanal bagi sepeda motor. Penggunaan sepeda motor seperti beberapa tahun terakhir tampaknya masih akan menjadi moda angkutan favorit bagi perantau yang ingin mobilitasnya lancar, cepat dan berhemat. Keberadaan sepeda motor tentu meriuhkan jalanan. Utamanya bila pengendaranya tidak mematuhi aturan lalu lintas.

Kelima, diversifikasi jenis angkutan massal. Selama ini kita relatif hanya mengenal transportasi darat sebagai satu-satunya jenis angkutan favorit bagi pemudik. Moda transportasi udara misalnya, mulai massif dikembangkan meski masih membutuhkan perhatian terutama standar kenyamanan penumpang yang masih rendah.

Transportasi laut merupakan jenis transportasi yang belum maksimal dikembangkan. Terutama setelah ekspansi bisnis besar-besaran beberapa maskapai penerbangan domestik yang mampu menekan harga tiket lebih rendah. Ironis, negeri yang dalam dongeng pengantar tidur di waktu kecil sering disebut sebagai negeri maritim namun kita sendiri masih menganggap transportasi laut sebagai alat angkutan kelas dua. Tidak ada yang perlu diragukan dari transportasi jenis ini bila dikelola dengan baik. Trend kapal pesiar yang makin digemari saat ini terutama karena pengelola transportasi bahari mengerti betul bagaimana memperlakukan manusia dengan manusiawi.**

*Febrie Hastiyanto; Pemudik. Bekerja pada Bappeda Kab. Tegal.

Dimuat Lampung Post, Senin 8 Juli 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: