Di Mana Letak Kerajaan Sekala Brak?

Mei 30, 2011

Hampir dipercaya oleh sebagian (besar) masyarakat Lampung bahwa asal-usul orang Lampung bermula dari Sekala Brak, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan. Kepercayaan ini banyak bersumber dari cerita tutur (mitologi). Mitologi dalam metodologi penelitian etnografi merupakan sumber literatur yang tergolong lemah, karena itu ia perlu didukung oleh bukti-bukti arkeologis berupa prasasti, surat-surat kerajaan, hingga analisis konteks internal dan eksternal. Lemahnya derajat validitas metodologi Sekala Brak bukan berarti hendak menegaskan bahwa Sekala Brak tidak ada. Sekala Brak mungkin ada, namun bukti pendukungnya belum lengkap. Pertanyaannya kemudian, bila Sekala Brak benar ada, apa sumbernya dan di mana kira-kira letaknya. Penelitian etnografi pada dasarnya adalah metode rekonstruksi. Sehingga, validitas dalam riset etnografi banyak didasarkan pada kekuatan analisis. Artinya, semakin analisis tersebut tidak dapat dibantah melalui alternatif metode lain, maka rekonstruksi etnografis tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan, sebelum muncul informasi dan analisis baru.

Bukti Keberadaan

Selain bersumber pada mitologi, sebenarnya sejumlah kalangan mulai membuka tabir missing link dalam metodologi etnografi Sekala Brak. Prof. Dr. Louis-Charles Damais, dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara, (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hh. 26-45) menyebutkan terdapat prasasti yang ditemukan di Liwa, masih termasuk kawasan Gunung Pesagi Lampung Barat. Prasasti ini disebut Hujung Langit (ada juga yang menyebut Harakuning, Bunuk Tenuar maupun Prasasti Bawang) bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997). Dalam prasasti ini disebutkan nama seorang raja pada baris ke-7, yang menurut pembacaan Prof. Damais namanya adalah Sri Haridewa. Oleh Drs. Irfan Anshory (Lampost, 9 dan 16 Desember 2007) prasasti ini dimungkinkan berhubungan dengan Sekala Brak, dilihat dari letak ditemukannya prasasti.

Dalam tradisi sejarah Dinasti Liang (502-556), yang diterjemahkan Prof. W.P. Groeneveldt disebutkan bahwa di Asia Tenggara terdapat Kerajaan Kan-to-li yang “terletak di sebuah pulau besar di laut selatan. Adat istiadatnya kira-kira sama dengan Kamboja dan Siam. Negeri ini menghasilkan pakaian yang berbunga, kapas, dan pinang”. Kawasan ‘Asia Tenggara’ tentu terlalu luas untuk mengidentifikasi di mana letak Kan-to-li. Prof. Oliver W. Wolters dari Universitas Cornell mengerucutkan kemungkinan posisi Kan-to-li dengan mengatakan bahwa ada dua kerajaan di Asia Tenggara yang mengembangkan perdagangan dengan Cina pada abad kelima dan keenam, yaitu Kan-to-li di Sumatera dan Ho-lo-tan di Jawa. Gabriel Ferrand menduga bahwa Kan-to-li terletak di Singkil (Barus), pantai barat Aceh, berdasarkan keterangan musafir Arab, Ibnu Majid, bahwa tahun 1462 Pelabuhan Singkil dahulu disebut “Kandari”. Prof. Slametmulyana berpendapat bahwa Kan-to-li transliterasi dari nama asli “Kuntali” (Kuntala), kemudian nama Kuntal mengalami metatesis menjadi Tungkal, nama daerah di Jambi. Oleh Irfan Anshory, Kan-to-li dapat diduga sebagai “Kenali”, satu wilayah kecamatan yang dekat dengan wilayah yang diyakini sebagai sisa peninggalan Sekala Brak. Irfan Anshory mendasarkan analisisnya pada kemungkinan transliterasi “Kan-to-li” menjadi “Kenali”.

Apakah Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Sekala Brak, tentu membutuhkan analisis arkeologis lebih lanjut, mengingat prasasti itu tentu memuat serangkaian tulisan yang dapat diterjemahkan untuk dianalisis maknanya. Namun sayang, Irfan Anshory tidak mengutip isi prasasti tersebut secara lengkap karena prasasti tersebut memang belum dapat diterjemahkan dengan sempurna. Bagian yang dapat terbaca diantaranya menyebut  kata ‘tatkala’, ‘sa-tanah’, ‘sa-hutan’, ‘Sri haji’, dan penanggalan. Prasasti tesebut tidak menyebut nama kerajaan. Berdasarkan bentuk huruf dan penanggalan yang menyebut istilah ‘wuku’ mengindikasikan adanya pengaruh Jawa. Gelar Sri haji yang tertera dalam prasasti merujuk pada istilah kedudukan di bawah Maharaja. Kuat dugaan prasasti ini dibuat oleh raja bawahan.

Menurut Nanang Saptono, dari Balai Arkeologi Bandung mengutip Soekmono (1985:49) menyebutkan bahwa: “Prasasti Hujung Langit berdasarkan unsur penanggalan dan paleografisnya memberi arah dugaan pada adanya pengaruh kekuasaan Mpu Sindok dan Erlangga”. Bila analisis ini benar, Prasasti Hujung Langit mengindikasikan keberadaannya berhubungan dengan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Mpu Sindok  menurut catatan memerintah tahun 929-947 M, dan Erlangga (Airlangga) memerintah antara 1028-1035 M. Sepeninggal Airlangga Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua, Jenggala dan Kediri (Daha/Panjalu), sebelum kekuasaan beralih ke Singasari (Tumapel) dan kemudian Majapahit. Dilihat dari akurasi masa pemerintahan Mpu Sindok hingga Erlangga antara 929-1035 M dan Prasasti Hujung Langit tahun 997, dugaan bahwa Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Kahuripan perlu diteliti lebih lanjut.

Menghubungkan Sekala Brak hanya karena lokasi prasasti berada dalam lokasi yang dimungkinkan sama tampaknya belum merupakan analisis yang kuat. Keberadaan Prasasti Hujung Langit di Liwa belum serta merta mengindikasikan prasasti tersebut menegaskan bahwa kerajaan (kalau prasasti itu bercerita tentang kerajaan) itu berada di lokasi prasasti ditemukan. Jejak Kerajaan Sriwijaya misalnya dibuktikan dari antara lain sejumlah prasasti, yakni Kota Kapur (Bangka), Karang Berahi (Jambi)  dan Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Lampung (Selatan). Prasasti Palas Pasemah ditemukan 200 km jauhnya dari Sriwijaya, yang diduga berada di tepi Sungai Musi, Palembang. Karena itu, usaha memberi makna dari keberadaan Prasasti Hujung Langit harus dilakukan dengan terlebih dahulu menerjemahkan aksara dari prasasti tersebut. Sayangnya (lagi), informasi Nanang Saptono maupun Soekmono kita ketahui setelah menjadi ‘kesimpulan’, bukan transkrip terjemahan prasasti.

Begitu juga dengan ‘kesimpulan’ Kan-to-li sebagai Kenali masih perlu dilakukan penelitian lanjut, meliputi pertanyaan-pertanyaan, apakah Kenali beragama Budha, sebagaimana Kamboja dan Thailand. Serta apakah Kenali juga penghasil kapas dan pinang sebagaimana deskripsi Kan-to-li oleh Groeneveldt, karena selama ini Lampung dikenal sebagai wilayah penghasil lada dan kopi.

Letak Kerajaan

Selain merekonstruksi kemungkinan keberadaan Sekala Brak, perlu direkonstruksi pula kemungkinan di mana letaknya. Dalam satu pelatihan di Universitas Gadjah Mada pada sesi Sistem Informasi Geografi (Geographic Information System) saya sempat berdiskusi dengan Drs. Suharyadi, M.Sc dosen Fakultas Geografi UGM. Suharyadi pernah membuat peta dari deskripsi penelitian Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM terhadap sekira 40-an kerajaan-kerajaan di nusantara. Informasi yang menarik sekaligus mengagumkan bagi kita adalah kenyataan bahwa hampir seluruh (kalau tak boleh disebut 100%) kerajaan kuno di nusantara berada pada posisi paling baik dan strategis (best site). Posisi strategis ini memiliki tiga makna, yakni memiliki daya dukung, aksesibilitas, dan pertahanan wilayah yang baik.

Daya dukung memiliki makna bahwa umumnya kerajaan di nusantara menggantungkan hidupnya pada ketersediaan sumber daya alam terutama yang bersifat subsistensi dasar (bahan pokok). Umumnya kerajaan-kerajaan di nusantara memiliki sumber daya pangan yang cukup, baru melakukan ekspor komoditas nonpangan. Hal ini berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Eropa yang mampu menghidupi dirinya hanya dari perdagangan luar negeri pada komoditas nonpangan atau industri (merkantilisme). Daya dukung kerajaan nusantara bersumber pada wilayah penyangga/satelit (hinterland) yang subur. Umumnya topografi hinterland yang subur untuk tanaman pangan adalah dataran rendah hingga pesisir yang cukup air. Sangat jarang ditemukan kerajaan yang berada di gunung atau pegunungan. Kalaupun ada jejaknya, kuat diduga peninggalan itu mengindikasikan sebagai pesanggrahan (tempat peristirahatan), maupun tempat peribadatan. Borobudur, dan kompleks candi Ratu Boko di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang berlokasi di perbukitan misalnya menegaskan tesis ini. Kerajaan yang berlokasi di pegunungan juga terbilang riskan bagi pertumbuhan kota. Bila wilayah hulu telah berkembang, wilayah tersebut dapat kehilangan sumber-sumber air maupun kesuburan tanah mengingat eksplotasi dilakukan di hulu. Bila eksploitasi dilakukan di wilayah hilir, pertumbuhan kota kerajaan dapat disokong hinterland-nya di hulu.

Aksesibilitas yang baik berarti kerajaan tersebut berada pada jalur transportasi, yang saat itu berbentuk sungai maupun laut. Catatan yang ada terhadap lokasi kerajaan-kerajaan nusantara membenarkan tesis ini. Kita tahu Majapahit berpusat di Trowulan, dekat Sungai Brantas. Begitu juga Sriwijaya (Sungai Musi), Demak (Pesisir Utara Jawa), Makassar, Ternate, Tidore, Malaka (pesisir laut), Surakarta (Sungai Pepe dan Bengawan Solo), Yogyakarta (Kali Progo), Melayu (Sungai Batanghari), hingga Mesir (Sungai Nil) maupun Mesopotamia yang kini menjadi Irak (Sungai Eufrat dan Tigris).

Fungsi pertahanan sangat berhubungan dengan daya dukung lahan dan aksesibilitas. Dalam strategi pertahanan, pertahanan paling baik adalah menyerang, atau sekurang-kurangnya menahan laju serangan saat ‘menyambut’ musuh. Prinsip ini dikuatkan oleh sejumlah bukti benteng-benteng pertahanan yang dibangun di ‘muka kerajaan’ yang biasanya berada di kawasan pantai atau muara.

Dari ketiga tesis kecenderungan lokasi kerajaan-kerajaan di nusantara, kita dapat membandingkan dugaan letak Sekala Brak di Lampung Barat. Lampung Barat saat ini memiliki kontur pegunungan. Beberapa wilayah bahkan hingga saat ini masih menemui kesulitan aksesibiltas dengan daerah tetangga. Sehingga dugaan letak Sekala Brak masih memerlukan serangkaian diskusi akademik lagi. Dari catatan Berita Cina yang menyebutkan nama-nama kerajaan yang diduga berada di Lampung yakni To-lang-po-hwang (Tulangbawang) dan Yeh-po-ti (Seputih) keduanya menunjukkan lokasi di pesisir dan muara sungai besar. Sehingga, bila benar Sekala Brak ada, letaknya bias jadi tidak berada pada wilayah pegunungan dengan mempertimbangkan analisis posisi paling baik dan strategis (best site) serta membandingkan dengan posisi kerajaan sezaman (Tulangbawang dan Seputih). Namun saya juga tidak dapat memastikan letaknya di mana, karena informasi yang saya miliki masih terbatas. Setidaknya analisis ini menjadi alternatif tesis bagi usaha-usaha membuktikan secara akademik keberadaan Sekala Brak. Tabik.

Febrie Hastiyanto; Alumnus Sosiologi FISIP UNS. Menulis naskah Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung.

Dimuat Dinamikanews No. 251/Mei 2011.

5 Tanggapan to “Di Mana Letak Kerajaan Sekala Brak?”


  1. Tulisan yang mencerdaskan. Saya malah sampai pada kesimpulan, kerajaan itu hanya mitos.

    • andi martha emami st Says:

      merunut pada asal muasalnya bahwa diceritakan ada keterkaitan antara paksi pak kepaksian sekala brak dengan kerajaan pagar ruyung di minang kabau, mengapa kita tidak melakukan penelitian tentang dimanakah kemungkinan keberadaan kerajaan sekala brak dulu berada dengan rujukan catatan sejarah dari pagar ruyung??? sebab pagar ruyung pernah ada dan eksistensinya diakui. jikalau kita ingin mencari kemungkinan dimana letak yang mendekati secara pasti maka saran saya lakukan penelitian dan penggalian informasi melalui catatan sejarah yang pernah dibuat oleh kerajaan pagar ruyung tentang kepaksian sekala brak itu sendiri. kemudian baru dapat kita simpulkan hasilnya melalui metode pembuktian berdasarkan catatan yang dibuat pagar ruyung tersebut. terimakasih……


  2. Ehem. . Bung febrie, .menarik sekali membaca ulasan anda. .mengenai keterkaitan nya kerj.Sekale berak dngn ker di Pagaruyung, sy sdh tanyakan dngn para ahli waris dan yg mengerti silsilah tambo minang,ternyata mrk jg baru kenal dngn nama Sekalaberak tsb. alhasil jika anda ingin tau lokasi yg sbnar nya dari negri yg mrka klaim sbagai negri sekali berak, tempatnya ada di ujung atau di pinggiran sungai. .wslm.

  3. udo fatien Says:

    Pramukha kabayan ( bangunan suci candi kebayan )
    Terletak di pinggir air yg luas dan berdekatan dengan sebuah gunung seminung.
    Mungkinkah tanah hutan itu berada di Danau Ranau, yg dipercaya mempunyai peradaban kuna. di buktikan dgn sebuah bangunan suci candi kebayan.

  4. tri Says:

    Coba buat masnya cari tau dulu ada gak kerajaan kuno yg berada di wilayah pegunungan. Banyak.
    Wilayah pegunungan merupakan wilayah yg subur. Masyarakat kuno menganggap pegunungan ataupun gunung merupakan tempat bermukimnya para dewa.
    Aksesibilitas buat apa. Kebutuhan pangan tercukupi. Dan tipikal orang gunung tidak suka menyerang.
    Di pegunungan malah pertahanan lebih efektif. Sumber makanan tercukupi. Dan butuh sumber daya besar untuk menaklukkan pegunungan pada masa itu. Situasi relatif kondusif dari serangan luar.
    Jangan berpikir ala modern. Jelas gak masuk.
    Anda udah pernah ke lampung barat belom? Coba anda cocok tanam di situ. Pasti anda akan tau kesuburannya.
    Anda tau gak ada sebuah kerajaan di wilayah pegunungan wonosari, sebelum di serbu mataram islam? Kalo anda gak tau berarti referensi kurang lengkap.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: