Merayakan Booming Pers Mahasiswa

Mei 18, 2011

Keberadaan pers mahasiswa (persma) beberapa tahun terakhir di berbagai kampus cukup menggembirakan kita. Tidak hanya dalam bentuk ‘standar’ pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang selama ini telah kita kenal, persma bahkan hadir secara massif di hampir semua kelembagaan (mahasiswa). Dapat dipastikan pada setiap lembaga kemahasiwaan baik intrauniversitas maupun ekstrauniversitas terdapat bidang yang khusus mengelola minat jurnalistik anggotanya. Pada beberapa lembaga kemahasiswaan keberadaan persma bahkan mendapat tempat khusus berbentuk lembaga (semi) otonom.

Selain apresiasi dari lembaga-lembaga kemahasiswaan, booming persma juga didukung oleh semakin mudah dan familiernya mahasiswa untuk mengakses usaha-usaha menerbitkan sebuah rpoduk jurnalistik. Sebut saja fasilitas software komputer untuk desain dan lay out produk jurnalistik, maraknya usaha percetakan dan fotokopi yang murah, hingga kebijakan khusus pihak penyandang dana—rektorat bagi lembaga intrauniversitas, atau alumni dan sponsor bagi lembaga ekstrauniversitas—untuk memberi alokasi dana yang cukup bagi usaha penerbitan produk jurnalistik persma.

Karenanya, demikian mudah mendirikan LPM membuat persma mengalami banyak simplifikasi. Mulai dari simplifikasi isi, rubrikasi, sampai bentuk produk jurnalistik yang diterbitkan.

Nafsu Besar Tenaga Kurang

Penyederhanaan paling kentara dari booming persma ada pada isi, rubrikasi, dan misi lembaga. Persma kita ternyata masih sulit membedakan antara bentuk penerbitan majalah dan jurnal. Jurnal dapat dipahami sebagai bentuk penerbitan yang menampilkan seluruhnya atau sebagian besar artikel ilmiah populer yang ditulis dalam tema besar tertentu yang ditentukan redaksi. Sedang majalah menitikberatkan pada ‘berita’ sebagai bentuk memberi kabar kebenaran atau fakta melalui tinta. Pada penerbitan majalah, untuk mendapatkan ‘berita’, atau ‘kebenaran di balik realitas’, awak redaksi sering menggunakan teknik investigasi dengan metode wawancara, observasi maupun riset kepustakaan.

Pada kenyataanya masih banyak ‘majalah’ terbitan persma yang berbentuk ‘jurnal’. Artikel yang ditulis pun kebanyakan bukan hasil penelitian mendalam melainkan tulisan-tulisan ilmiah populer hasil refleksi penulisnya sendiri. Dominasi opini penulis dalam ‘majalah’ terbitan persma alih-alih menjadikan persma sebagai jurnalisme propaganda. Disebut jurnalisme propaganda karena ia tidak lagi memberitakan kebenaran atau realitas tetapi memberitakan opini sesuai misi redaksi dan lembaga penerbitnya. Prinsip dasar jurnalistik cover both sides jelas telah dilanggar. Sebenarnya telah ‘disepakati bersama’ soal opini redaksi ini dituangkan dalam rubrik tajuk rencana, yang tentu saja tidak mendominasi halaman ‘majalah’.

Pada bentuk terbitan, penyederhanaan semakin menjadi-jadi. Banyak kecenderungan bidang-bidang pers lembaga kemahasiswaan yang dengan bangga menyebut diri sebagai LPM hanya dengan menerbitkan bulletin empat halaman saja—semacam bulletin jumat yang kita kenal. Ikhtiar ini tentu tidak salah, tetapi terasa ‘demikian berani’ menyederhanakan makna persma.

Tidak Belajar Tidak tahu

Sudah tentu apresiasi merayakan booming persma ini harus dihargai dan terus didukung. Tetapi sebagai intelektual, mahasiswa tentu tidak dapat selamanya menyalahkan keterbatasan dan ketidaktahuan sebagai alasan pembenar. Satu hal yang banyak dilupakan pegiat persma adalah kegiatan nonpenerbitan berupa diklat, workshop, dan seminar jurnalistik. Bila diklat jurnalistik (dasar) saja jarang digelar apalagi diklat jurnalistik lanjut maupun diklat-diklat jurnalistik terapan semacam diklat jurnalisme investigasi, diklat litbang jurnalistik, diklat jurnalisme internet dan seterusnya. Sangat disayangkan banyak LPM yang tidak menyelenggarakan diklat jurnalistik (dasar) karena berbagai alasan—yang ujung-ujungnya duit juga. LPM model ini biasanya ‘terima beres’ dengan mengirim delegasi anggotanya mengikuti diklat jurnalistik (dasar) yang diselenggrakan LPM lain. Padahal banyak cara menyiasati diklat jurnalistik yang murah namun bermutu semisal menggelar diklat tidak bermalam, ‘bersambung’ setiap akhir pekan, atau dengan tidak menyewa gedung.

Bila diklat jurnalistik saja dihindari oleh sebagian LPM, apalagi seminar dan workshop jurnalistik. Kalaupun LPM mengadakan seminar, itu pun banyak yang bukan bertema jurnalistik. Tema seminar yang diselenggarakan biasanya tema majalah yang digelar berbarengan dengan launching majalah tersebut. Tidak sedikit LPM yang ‘bekerjasama’ (boleh dibaca: dimanfaatkan) lembaga nonkampus dengan menggelar seminar dengan tema-tema bukan jurnalistik, semata karena lembaga nonkampus tidak boleh menggelar kegiatan dalam kampus tanpa menggandeng pihak internal. Kegiatan semacam ini tentu tidak salah dengan catatan LPM telah lebih banyak mengadakan kegiatan-kegiatan  jurnalistik yang menjadi sebab mengapa LPM lahir.

Stop Pendirian ‘Bidang Pers’ Baru

Perayaan atas persma harus diakui masih terbatas pada kuantitas lembaga, belum pada kualitas produk jurnalistik. Karena itu perlu ada kesadaran di kalangan mahasiswa untuk mendirikan LPM, bukan sekedar ‘bidang pers’ baru pada lembaga kemahasiwaannya. Pembentukan ‘bidang-bidang pers’ ini sebenarnya justru memperburuk citra persma. Siapapun dapat menjadi pegiat persma hanya karena kebetulan duduk di ‘bidang pers’ lembaganya tanpa harus membekali diri dengan pengetahuan (dasar) jurnalistik yang cukup. Karena itu saya lebih cenderung pada usaha membentuk dan menggiatkan LPM yang ‘benar-benar LPM’—dengan struktur organisasi yang lengkap, tujuan dan program organisasi yang terarah serta kontinu—dan bukan sekedar ‘tempelan’ organisasi induknya. Salam persma. Katakan dengan tinta.

*Febrie Hastiyanto; Alumnus Sosiologi FISIP UNS. Pernah bergiat di Lapmi HMI Cab. Solo sebagai ketua umum.

Dimuat dalam Majalah Kentingan, Edisi XV/Tahun 2009.

2 Tanggapan to “Merayakan Booming Pers Mahasiswa”

  1. fafan Says:

    1. Lomba Penulisan Jurnalistik GATRA 2011 Tingkat Mahasiswa :
    Karya Penulisan Jurnalistik 2011, min. 5000 karakter Tema “Pengelolaan Air”. Penulisan dapat di email paling lambat akhir bulan September 2011. promosi@gatra.com, Hasil penulisan terbaik akan Mendapatkan Hadiah dan dikirim langsung ke alamat pemenang.

    2. LOMBA KARYA PERS KAMPUS GATRA 2011:
    Persyaratan Lomba :
    1.Terbuka untuk seluruh media Kampus di Seluruh Indonesia.
    2. Peserta Lomba diwajibkan mengirimkan max 3 (tiga) edisi terbitan terakhir
    2010 – 2011 hard copy dari majalah kampus.
    3. Dilampirkan dengan profile dari media kampus.
    4. Hasil Karya media kampus dikirim melalui via Post ke Alamat : Gedung GATRA
    Jl. Kalibata Timur IV No. 15 Kalibata Jakarta Selatan 12740.
    Hadiah Lomba :
    – Juara 1 Uang Tunai Rp. 10 Juta*
    – Juara 2 Uang Tunai Rp. 7,5 Juta*
    – Juara 3 Uang Tunai Rp. 5 Juta*
    *Piagam Penghargaan, 2 Perwakilan Media Kampus mendapat kesempatan Magang di Majalah GATRA untuk 2 orang. Periode Lomba Karya Jurnalistik dibuka mulai bulan Juli s/d 3 Oktober 2011, dan pengumuman lomba bulan November 2011.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: