Rancage 2011 dan Masa Depan Sastra Tegalan

Mei 6, 2011

Lanang Setiawan diganjar Hadiah Sastra Rancage 2011 atas usahanya memajukan kesusastraan Tegal yang secara generik disebut Sastra Tegalan. Penghargaan ini tidak diberikan atas penerbitan buku kesusastraan seperti puisi, cerpen atau novel sebagaimana Hadiah Sastra Rancage diberikan untuk Sastra (berbahasa) Sunda, Jawa, Bali dan Lampung, melainkan atas kerja-kerja kesenian Lanang Setiawan dalam mempopulerkan Tegalan sebagai genre baru sastra untuk kurun waktu lebih dari 15 tahun terakhir. Meskipun menulis untuk sejumlah antologi puisi Tegalan dan naskah novel Tegalan, Hadiah Sastra Rancage 2011 untuk Sastra Jawa Dialek Tegalan menjadi semacam lifetime achievement award bagi Lanang.

Hadiah Sastra Rancage 2011 untuk Lanang Setiawan jelas tidak hanya milik Lanang seorang. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengakuan atas usaha banyak seniman Tegal yang antara lain dipelopori Lanang dalam usaha mendudukan ketegalan mereka dalam sastra. Sastra Tegalan diproklamasikan sejak tahun 1994, ketika Lanang mengalihbahasakan puisi W.S Rendra Nyanyian Angsa menjadi Tembangan Banyak. Usaha Lanang ini diikuti banyak sastrawan Tegal lain seperti Rofie Dimyati yang menerjemahkan Rick dari Corona menjadi Rick Sing Corona, disusul Nurhidayat Poso yang menerjemahkan Laki-Laki dan Perempuan (F. Rahardi) menjadi Wong Wadon Karo Wong Lanang, juga puisi Emha Ainun Nadjib Lima Menit Saja, Lima Menit Saja menjadi Lima Menit Bae, Lima Menit Bae oleh M. Enthieh Mudakir. Masih ada Sajak Orang Tua tentang Bandung Lautan Api (Rendra) yang diterjemahkan menjadi Sajak Wong Tuwa Tikruk-Tikruk Soal Bandung Segara Geni oleh Nurngudiono.

Karya-karya ini kemudian dibukukan dalam Roa, Kumpulan Sajak Penyair Indonesia Terjemahan Tegalan (Lanang Setiawan (ed), Mimbar pengajian Seni Budaya Tegal, 1994) dan untuk pertama kalinya dibacakan di depan publik sastra pada acara Pentas Sajak Penyair Indonesia Terjemahan Tegalan di Taman Budaya Surakarta (kini Taman Budaya Jawa Tengah) Solo tanggal 28 Juli 1994. Publik sastra terperanjat. Sebagian menganggap usaha ini memiliki daya pikat, dianggap kreatif mengalihbahasakan puisi ke dalam bahasa yang selama ini kerap diasosiasikan sebagai bahasa lawakan di panggung komedi kita, sebagai sesuatu yang tak terpikirkan sastrawan lain sebelumnya. Tak sedikit pula yang menganggap langkah ini mendompleng karya-karya penyair yang sudah mapan.

Menanggapi respons publik sastra, sastrawan Tegal tak patah arang. Mereka kemudian menjawab dengan menerbitkan sejumlah buku dan antologi Puisi Tegalan, kali ini karya mereka sendiri. Berturut-turut kemudian terbit, antara lain Kumpulan Puisi Tegalan, Penyair Angkatan Tegal-Tegal (SL Gaharu, Lanang Setiawan (ed), Tegal-Tegal, 2005), Brug Abang, Kumpulan Puisi Tegalan (Dwi Ery Santoso, Dewan Kesenian tegal, 2006) hingga yang terbaru Ngranggeh Katuranggan, Kumpulan Puisi Tegalan (Lanang Setiawan (ed), Dewan Kesenian Tegal, 2009).

Harus diakui Lanang memang banyak berada di belakang usaha penerbitan karya Sastra Tegalan. Selain menjadi editor rupa-rupa antologi Puisi Tegalan, Lanang menerbitkan kumpulan Puisi Tegalannya sendiri bertajuk Nggayuh, menulis naskah Novel Tegalan Meradang (sebelumnya berjudul Tegal Bledukan), Kamus Tegalan, kumpulan tulisan 99 Wangsalan Tegalan, naskah sandiwara radio untuk ratusan episode di Radio Serenada Slawi, kumpulan kolom Anehdotegalan yang terbit setiap pagi di Harian Pagi Nirmala Post sebelum harian ini gulung tikar di mana Lanang menjadi Redaktur Budaya. Lanang juga menulis naskah drama campuran Bahasa Tegalan dan Indonesia yang ia beri judul Ni Ratu, Ken Angrok Gugat, Suti Gandrung, dan Lenggaong, Asmara Nyi Ronggeng. Bahkan yang disebut terakhir menjadi salah satu bahan Indonesianis asal Australia Richard Curtis dalam penulisan disertasinya. Deret karya Lanang juga masih dapat ditambah karena Lanang juga menulis lagu Tegalan, beberapa diantaranya menjadi hits seperti Rika Tega Enyong Tega, Lagi Kedanan dan terutama Tragedi Jatilawang.

Lanang dan kawan-kawan juga pernah menerbitkan Tabloid Tegal-Tegal yang ditulis dengan Bahasa Tegalan pada tahun 1990-an. Tak cukup sampai disitu, Lanang juga termasuk salah seorang sastrawan yang menggagas Kongres Bahasa Tegal yang kemudian melahirkan Hari Sastra Tegalan yang diperingati setiap tanggal 26 November. Sebelum mendapat Rancage, tahun 2008 Lanang mendapat Anugerah Seni 2008 dari Dewan Kesenian Tegal maupun Man of The Year 1994 untuk kategori sastra dari salah satu media lokal di Tegal. Lanang memang telah paripurna disebut seniman: penulis puisi, novel, naskah drama, pemain teater, wartawan, hingga penulis lagu. Saya berdoa Lanang tak menambah satu profesi lagi: politisi. Selain saya kira tak berbakat, Lanang masih dibutuhkan untuk lebih mempopulerkan Sastra Tegalan.

Rancage dan Sastra Tegalan

Meskipun Lanang telah memperoleh penghargaan berbentuk lifetime achievement award namun sesungguhnya sebagai produk sastra, Sastra Tegalan belum benar-benar diakui. Hingga hari ini belum ada produk sastra, dalam hal ini karya berbentuk buku puisi, cerpen, atau novel yang diganjar Rancage. Rancage 2011 bagi Lanang dapat dimaknai sebagai penghargaan atas usaha atau kerja kesenian, bukan karya sastra itu sendiri.

Realitas ini sesungguhnya menarik. Mengapa sebagai karya Sastra Tegalan justru belum diakui? Dilihat dari penerbitan yang dilakukan atas sejumlah antologi puisi, sebenarnya sastrawan Tegal telah memproduksi karya. Apakah ini semua terbentur masalah teknis belaka? Soal teknis belaka ini juga misalnya yang menyebabkan Sastra Lampung absen dari Hadiah Sastra Rancage 2009 dan 2011.

Sepanjang yang saya ketahui, Hadiah Sastra Rancage untuk kategori karya puisi, cerpen atau novel ditimbang dari penerbitan buku karya tersebut, minimal dua buku selama satu tahun. Sastra Lampung pada tahun 2008 sebenarnya sudah menerbitkan dua judul buku, Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya yang hendak diikutkan dalam seleksi Rancage 2009. Namun karena keterlambatan pengiriman karya ini tidak dapat dinilai. Namun atas ‘kebijaksanaan’ Yayasan Kebudayaan Rancage dua karya ini dapat diikutsertakan dalam seleksi tahun 2009 untuk Hadiah Sastra Rancage 2010. Hadiah Sastra Rancage 2010 untuk kategori Sastra Lampung kemudian direbut Asarpin Aslami atas kumpulan cerpennya.

Soal-soal teknis ini juga pernah dialami Lanang. Lanang salah kira, bahwa karya yang dinilai adalah buku (copy atau eksemplar) dikiranya termasuk naskah yang belum diterbitkan (fotokopi atau naskah). Lanang mengirimkan naskah novelnya Tegal Bledukan untuk diikutkan dalam seleksi Rancage 2008 kali ini untuk kategori Sastra Jawa bukan Sastra Tegalan dan ditolak panitia. Lanang sempat mengungkapkan kekecewaannya dalam rubrik Surat Pembaca di Suara Merdeka. Soal-soal teknis ini seharusnya menjadi perhatian Yayasan Kebudayaan Rancage sebagai penyelenggara Hadiah Sastra Rancage.

Pengalaman yang menimpa Lanang dalam konteks naskah novel dan bukan buku yang telah diterbitkan juga perlu dicarikan jalan keluar. Misalnya penilaian juga dapat dilakukan atas naskah buku dengan mempertimbangkan pemassalan usaha penulisan sastra dalam bahasa ibu. Menerbitkan buku dalam bahasa ibu dapat dibilang susah-susah gampang. Sulit bila orientasinya profit, dan menjadi sangat gampang bila ada pihak yang membiayainya. Dengan dana yang banyak, siapapun dapat menerbitkan buku saat ini, kalau yang ditimbang hanyalah penerbitan bukunya, bukan kualitas karya di dalamnya memenuhi aspek-aspek estetika atau tidak.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pegiat sastra (berbahasa) Lampung misalnya, penerbitan dua buku Sastra Lampung tahun 2008 dapat dinilai sebagai usaha ‘meramaikan’ Hadiah Sastra Rancage. Bahwa tujuannya adalah Rancage tidak dapat ditutupi. Namun persoalannya, buku yang diterbitkan hanya dua, oleh penerbit yang sama pula. Penerbitan hanya dua buku juga cenderung riskan, terlihat ingin memenuhi jumlah minimal karya yang akan diikutkan lomba. Kalau boleh berburuk sangka, satu dari kedua penulis ini sudah dapat dipastikan sebagai pemenangnya, kecuali Dewan Juri menyatakan tidak ada pemenang meskipun ada karya yang dikirimkan. Hal ini memang pernah terjadi, setidaknya pada kategori Sastra Anak Sunda 2010 yang tidak ada pemenangnya walaupun telah ada empat buku yang diproduksi. Meskipun secara ‘teori’ menerbitkan buku mudah, namun kenyataanya menerbitkan buku juga bukan perkara sederhana. Penerbit BE Press yang concern menerbitkan karya Sastra (Berbahasa) Lampung mengaku ‘putus napas’ dan memilih tidak menerbitkan buku Sastra Lampung pada tahun 2010 karena buku-buku sastra tak laku di pasaran. Akibatnya, Sastra Lampung absen (lagi) pada Rancage 2011.

Lalu, bagaimana kita seharusnya merayakan Sastra Tegalan? Sebagai sebuah gerakan melahirkan alternatif medium tutur, Sastra Tegalan bolehlah disebut berhasil merebut perhatian publik. Menulis dengan bahasa ibu bagi sastrawan Tegal dapat menjadikan mereka menemukan jatidirinya. Namun kegairahan ini perlu disikapi secara hati-hati. Jangan sampai semangat Tegalan mengendurkan semangat produktif menulis dalam teks-teks yang bersifat ‘nasional’, baik dalam hal penggunaan bahasa Indonesia maupun pencapaian estetika baru dalam panggung sastra nasional. Apalagi banyak kalangan menilai produksi sastra dari Tegal mengalami kemunduran. Selain diramaikan sastrawan veteran, nyaris tak lahir generasi baru sastrawan Tegal hari-hari ini. Gerakan Sastra Tegalan tentu bukan untuk menjauhkan sastrawan Tegal dari panggung sastra nasional dengan asyik dengan bahasa ibu dan lokalitas kesusastraannya.

Agar Sastra Tegalan dapat disejajarkan dengan Sastra Sunda, Bali, Jawa dan Lampung, pegiat sastra Tegalan harus mengikuti persyaratan teknis yang dibuat Yayasan Kebudayaan Rancage, terutama persyaratan penerbitan minimal dua buku dalam satu tahun. Meskipun buku-buku Sastra Tegalan banyak yang diterbitkan, namun waktu penerbitannya tidak dalam kurun waktu tahun yang sama. Inisiasi pegiat sastra di Lampung yang menerbitkan dua buku dalam satu tahun bukan tidak mungkin dapat ditiru oleh pegiat sastra Tegalan. Termasuk usaha pegiat sastra di Bali. Mereka menerbitkan buku-buku dalam oplah sedikit, hanya ratusan eksemplar saja. Pegiat sastra di Bali tentu sadar penerbitan buku sastra, apalagi sastra berbahasa daerah laka batine (tak ada untungnya). Namun mereka memiliki semangat untuk menjaga bahasa ibunya melalui tradisi literasi. Sebagai sebuah gerakan budaya, Sastra Tegalan sesungguhnya lebih memikat ketimbang Sastra Sunda, Jawa, Bali dan Lampung yang ditulis dalam bahasa daerah setempat yang mainstream. Sastra Tegalan ditulis dalam subdialek Tegalan dalam Bahasa Jawa. Kita memang dapat memperdebatkan apakah Bahasa Tegalan sudah dapat disebut bahasa atau hanya dialek. Namun mengikuti pandangan umum bahwa Bahasa Tegalan adalah dialek justru menjadikan Sastra Tegalan sebagai satu-satunya teks sastra yang ditulis dalam subdialek, bukan bahasa utama.

* Febrie Hastiyanto; Penulis. Tinggal di Slawi Tegal.

Dimuat Horison Online, 5 Mei 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: