Laku Konsumen Melawan Kapitalisme

Mei 5, 2011

Dalam diskursus soal isu konsumerisme sebagai anak kandung kapitalisme, utamanya relasi antara mal, pasar tradisonal dan perilaku konsumennya, kita sering mendudukannya sebagai relasi yang bersifat dependen. Bahwa mal merupakan oposisi biner pasar tradisional dalam hampir semua aspeknya karena ia dianggap sebagai biang keladi merosotnya pamor pasar tradisional yang semakin ‘ilang kumandange’. Mal juga secara efektif dituduh membentuk konstruksi baru perilaku pengunjung, pemaknaan atas transaksi dan konsumsi, yang kerap dituduhkan sebagai konsumsi-semu.

Dalam melakukan studi terhadap perilaku konsumen, dalam hal ini pengunjung mal, banyak diskursus konsumerisme menyegerakan tesis disimpulkan bahwa pengunjung mal dependen atas pilihan dan sistem nilainya karena berada dalam genggaman citra kapitalisme. Kunjungan konsumen ke mal secara sophisticated tidak hanya dianggap sebagai perilaku konsumsi semata, namun kerap pula dianggap sebagai media mengaktualisasikan identitas kulturalnya seperti penampilan artifisial, pilihan jenis produk yang dikonsumsi, termasuk moda transaksi tunai atau menggunakan kartu kredit. Celakanya, perilaku ini semata-mata diburuksangkakan sebagai keberhasilan kapitalisme menginfiltrasi nalar konsumen dan ketidakberdayaan konsumen menolaknya.

Motivasi Konsumen

Saya kira kita perlu mendudukan secara jernih kedudukan mal dalam kebudayaan kontemporer kita hari ini. Sekali-sekali kita perlu melihat keberadaan mal dari sudut pandang pengunjung. Selama ini kita cenderung memposisikan mal menurut penilaian karena relasinya sebagai garda depan kapitalisme, maupun dipertentangkan dengan konsepsi makro ekonomi pembangunan dalam relasinya ketika menggerus pasar tradisional. Ada baiknya kita melakukan studi mendalam sebab apa konsumen mengunjungi mal. Atau intelektual-intelektual juga tak keliru bila melakukan obeservasi partisipan dengan menyaru sebagai pengunjung mal.

Saya sendiri sepakat bahwa dalam kerangka makro kebijakan perekonomian nasional keberadaan mal menggerus laju pertumbuhan pasar tradisional. Kondisi ini dengan segera membuat pedagang pasar tradisional terancam kehilangan pekerjaan, sementara ini yang pasti dirasakan adalah menurunnya pendapatan. Saya kira banyak dari kita, pengunjung mal yang juga sadar bahwa mal menjanjikan budaya konsumerisme dengan perangkap citranya. Pertanyaannya kemudian: mengapa konsumen masih terus datang lagi, dan lagi ke mal?

Anhar Widodo (2011) telah menjelaskan secara tepat mengapa individu ketagihan mengunjungi mal, yakni: kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi konsumen mal. Anhar juga menambahkan bila mal menjadikan gaya hidup dan budaya konsumsi di mal sebagai praktik kebudayaan baru masyarakat kita yang dianggapnya sebagai media/ruang produksi kontestasi identitas. Soal identitas yang dikonstruksi oleh mal dari perilaku konsumennya, dapat disebut menjelaskan realitas lapangan bila konsumen tidak mampu menjaga independensinya terhadap perangkap citra mal. Realitas konstruksi citra oleh mal juga relevan bila konsumen berkunjung ke mal secara sadar hendak menegaskan identitasnya. Padahal realitasnya, kalaupun konsumen menjadi korban perilaku konsumtif citra kapitalisme, tentu saja dilakukannya secara tidak sadar. Artinya pula, konsumen tidak sadar ketika berkunjung ke mal dan dianggap mempertontonkan citra artifisialnya sebagai gaya hidup dan budaya konsumsi baru yang dependen terhadap perangkap kapitalisme. Saya juga percaya, tak seperti inteletual yang berpikir filosofis dan rumit, pengunjung mal tak berpanjang-panjang soal teori atau komodifikasi identitas ketika bersama keluarga berakhir pekan di mal sebagaimana tesis-tesis yang menuduh konsumen mal dating ke mal untuk mempertontonkan eksistensi artifisialnya.

Agar tak terjerat oleh perangkap konsumerisme yang ditawarkan mal, konsumen harus bersikap oportunistik dalam memanfaatkan keberadaan mal. Perilaku oportunistik konsumen dilakukan dengan tidak menghindari mal, karena memang fasilitas yang ditawarkan mal senyatanya lebih menjanjikan ketimbang pasar tradisional. Ditinjau dari perspektif konsumen, memanfaatkan fasilitas yang lebih baik sebagaimana ditawarkan mal bukan tindakan yang keliru sepanjang kita tidak merecokinya dengan beban-filosofis mengapa konsumen tak meramaikan pasar tradisional yang kondisinya kian mengkhawatirkan. Usaha menjaga kelangsungan pasar tradisional adalah kewajiban pemerintah dengan regulasi dan kebijakan yang dimilikinya, bukan kewajiban-filosofis konsumen. Motivasi konsumen pada dasarnya bersifat oportunistik: memilih sesuatu yang lebih mudah, nyaman, dan aman dan ketiganya saat ini baru mampu disediakan mal.

Oportunisme perilaku konsumen ini dapat mewujud pada perilaku memanfaatkan kemudahan, kenyamanan, dan keamanan yang ditawarkan mal dengan tetap menjaga independensinya terhadap gempuran citra konsumerisme. Bila banyak dari kita mengandaikan konsumen tergagap dan tak mampu menangkal pengaruh kapitalisme dari perilaku konsumsinya, di mal juga kita dapat melakukan perlawanan dengan senantiasa menjaga akal sehat dan memanfaatkan kelebihan yang ditawarkan mal, sekaligus dengan demikian akan menusuk kapitalisme pelan-pelan di jantungnya. Bila selama ini konsumen menjadi korban karena harus merogoh kocek lebih dalam oleh perilaku konsumerismenya, dengan laku oportunistik konsumen untuk senantiasa menggunakan akal sehat dalam menentukan perilaku konsumsinya mal akan dipaksa membiayai kemudahan, kenyamanan, dan keamanan konsumen secara cuma-cuma.

*Febrie Hastiyanto; Blogger. Pecinta pasar tradisional dan pengunjung mal.

Dimuat Lampung Post, Kamis 5 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: