Archive for Mei, 2011

Di Mana Letak Kerajaan Sekala Brak?

Mei 30, 2011

Hampir dipercaya oleh sebagian (besar) masyarakat Lampung bahwa asal-usul orang Lampung bermula dari Sekala Brak, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan. Kepercayaan ini banyak bersumber dari cerita tutur (mitologi). Mitologi dalam metodologi penelitian etnografi merupakan sumber literatur yang tergolong lemah, karena itu ia perlu didukung oleh bukti-bukti arkeologis berupa prasasti, surat-surat kerajaan, hingga analisis konteks internal dan eksternal. Lemahnya derajat validitas metodologi Sekala Brak bukan berarti hendak menegaskan bahwa Sekala Brak tidak ada. Sekala Brak mungkin ada, namun bukti pendukungnya belum lengkap. Pertanyaannya kemudian, bila Sekala Brak benar ada, apa sumbernya dan di mana kira-kira letaknya. Penelitian etnografi pada dasarnya adalah metode rekonstruksi. Sehingga, validitas dalam riset etnografi banyak didasarkan pada kekuatan analisis. Artinya, semakin analisis tersebut tidak dapat dibantah melalui alternatif metode lain, maka rekonstruksi etnografis tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan, sebelum muncul informasi dan analisis baru. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Merayakan Booming Pers Mahasiswa

Mei 18, 2011

Keberadaan pers mahasiswa (persma) beberapa tahun terakhir di berbagai kampus cukup menggembirakan kita. Tidak hanya dalam bentuk ‘standar’ pada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang selama ini telah kita kenal, persma bahkan hadir secara massif di hampir semua kelembagaan (mahasiswa). Dapat dipastikan pada setiap lembaga kemahasiwaan baik intrauniversitas maupun ekstrauniversitas terdapat bidang yang khusus mengelola minat jurnalistik anggotanya. Pada beberapa lembaga kemahasiswaan keberadaan persma bahkan mendapat tempat khusus berbentuk lembaga (semi) otonom. Baca entri selengkapnya »

Sosiologi Eufimisme

Mei 18, 2011

Atas nama kesantunan, kita telah terbiasa menggunakan bahasa yang memiliki pesan dalam makna harfiah, dan pesan dalam makna ‘yang diinginkan’, yang kita sebut sebagai eufimisme. Seperti penggunaan idiom ‘lumayan’ atau ‘dan lain-lain’. Bila ada seorang yang bertanya apakah seseorang cantik atau tampan, kebanyakan dari kita akan menjawab ‘lumayan’. Makna ‘lumayan’ merupakan makna ‘antara’: antara ‘cantik’ atau ‘tampan’ dengan ‘jelek’. Bangsa kita tidak memiliki keberanian untuk menyebut seorang ‘jelek’, sekaligus tidak memiliki kebesaran hati untuk mengakui seorang tersebut benar ‘cantik’ atau ‘tampan’. Baca entri selengkapnya »

Pembangkangan itu Bernama Golput

Mei 13, 2011

Perayaan demokrasi lima tahunan a la Indonesia baru saja digelar. Masyarakat marginal, kelompok akar-rumput dan massa mengambang diberi kesempatan untuk menjadi pemilik sah negeri ini untuk beberapa waktu. Silakan naik motor tanpa helm karena bapak polisi (pura-pura) tidak melihat. Knalpot dilepas pun boleh. Dan kita nikmati bersama kemuakan atas pembusukan dalam derunya. Baca entri selengkapnya »

Status Kemahasiswaan Aktivis

Mei 8, 2011

Dengan mempertimbangkan emblem mahasiswa, baku hantam antaraktivis mahasiswa Universitas Lampung (Unila) (5/5)—apapun alasannya—dapat disebut mengecewakan. Kalau ingin dramatis dapat pula kita katakan memalukan. Namun tak elok juga bila kita tak mau tahu sebab apa bentrok itu terjadi. Dari berita di media dapat ditarik kesimpulan sebabnya soal status kemahasiswaan Presiden BEM Unila yang dituding sudah bukan ‘mahasiswa’ lagi oleh Komite Penyelamat Ikatan Keluarga Besar BEM Unila karena telah menjalani ujian komprehensif. Kita tak hendak meributkan kapan seorang tak lagi berstatus mahasiswa: setelah ujian komprehensif, setelah dinyatakan lulus ujian pendadaran, atau setelah tali toga disampirkan ke kanan dalam wisuda. Namun menarik untuk mendiskusikan soal status kemahasiswaan aktivis mahasiswa. Baca entri selengkapnya »

Malam Pertama

Mei 8, 2011

ANAK muda itu membetulkan posisi duduknya. Ia menatap saya dengan kesopanan yang terjaga. Vitalitas memancar dari matanya. Namun saya tahu betul ia sedang berdamai dengan gejolak di hatinya. Pastilah kini ia sedang grogi. Saya tahu. Karena dulu bukankah saya pernah muda juga dan mengalami situasi seperti ini? Baca entri selengkapnya »

Rancage 2011 dan Masa Depan Sastra Tegalan

Mei 6, 2011

Lanang Setiawan diganjar Hadiah Sastra Rancage 2011 atas usahanya memajukan kesusastraan Tegal yang secara generik disebut Sastra Tegalan. Penghargaan ini tidak diberikan atas penerbitan buku kesusastraan seperti puisi, cerpen atau novel sebagaimana Hadiah Sastra Rancage diberikan untuk Sastra (berbahasa) Sunda, Jawa, Bali dan Lampung, melainkan atas kerja-kerja kesenian Lanang Setiawan dalam mempopulerkan Tegalan sebagai genre baru sastra untuk kurun waktu lebih dari 15 tahun terakhir. Meskipun menulis untuk sejumlah antologi puisi Tegalan dan naskah novel Tegalan, Hadiah Sastra Rancage 2011 untuk Sastra Jawa Dialek Tegalan menjadi semacam lifetime achievement award bagi Lanang. Baca entri selengkapnya »

Laku Konsumen Melawan Kapitalisme

Mei 5, 2011

Dalam diskursus soal isu konsumerisme sebagai anak kandung kapitalisme, utamanya relasi antara mal, pasar tradisonal dan perilaku konsumennya, kita sering mendudukannya sebagai relasi yang bersifat dependen. Bahwa mal merupakan oposisi biner pasar tradisional dalam hampir semua aspeknya karena ia dianggap sebagai biang keladi merosotnya pamor pasar tradisional yang semakin ‘ilang kumandange’. Mal juga secara efektif dituduh membentuk konstruksi baru perilaku pengunjung, pemaknaan atas transaksi dan konsumsi, yang kerap dituduhkan sebagai konsumsi-semu. Baca entri selengkapnya »