Identitas Daerah Otonom Baru

April 14, 2011

Kualitas pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) yang digugat M.M. Gibran Sesunan dalam artikelnya Salah Arah Otonomi Daerah (Lampost, 12/4) merupakan realitas yang menarik untuk didiskusikan. Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) atau pemekaran wilayah menurut istilah yang umum bagi publik dianggap sebagai salah satu cara mendorong akselerasi pembangunan daerah. Hal ini dapat dimaklumi, karena wilayah-wilayah perbatasan, atau kawasan yang jauh dari ibukota kabupaten atau kota acap kali dianaktirikan dalam pembangunan. Padahal pembangunan yang diharapkan memerlukan waktu yang panjang dari sekedar seremoni pembentukan DOB. Agenda-agenda utama pasca pembentukan DOB justru dianggap menguntungkan elite politik lokal (perebutan posisi kepala daerah dan anggota legislatif), pejabat birokrasi (penempatan pos jabatan birokrasi), hingga kontraktor (pembangunan sarana perkantoran dan infrastruktur dasar kota). Tak heran, Pemerintah melalui presiden mengajukan opsi moratorium pemekaran wilayah, sembari mengevaluasi perkembangan DOB yang ada mengingat sejak tahun 1999 hingga akhir tahun 2008 telah terbentuk 205 DOB.

Dalam pembentukan DOB, terdapat satu isu yang seringkali terlewat, yakni identitas DOB terhadap daerah otonom induknya. Identitas ini dapat berupa nomenklatur nama daerah, berikut identitas lain semisal lambang daerah maupun karakteristik yang hendak diasosiasikan kepada publik. Banyak DOB yang masih menyandarkan identitasnya pada daerah otonom induknya, terutama pada nomenklatur nama kotanya.

Kita urutkan dari Sumatera Utara misalnya. Kabupaten Labuhanbatu dimekarkan bertambah menjadi Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2008 lalu. Masih pada tahun 2008, Kabupaten Nias dimekarkan bertambah menjadi Kabupaten Nias Barat dan Nias Utara. Di Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu dimekarkan bertambah menjadi Kabupaten Ogan Kemoring Ulu Selatan dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur tahun 2003. Di Jawa Barat, Kota Bandung berebut identitas dengan Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat yang baru dimekarkan tahun 2007. Masih untung Kota Cimahi tak berebut identitas menjadi Kota Bandung Barat ketika dimekarkan tahun 2001.

Identitas Sumba di Nusa Tenggara Timur, juga diperebutkan oleh Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Kabupaten Sumba Tengah. Begitu juga Kabupaten Luwu di Sulawesi Selatan yang harus berbagi dengan Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara. Bahkan Kabupaten Maluku Tenggara Barat juga berebut identitas dengan Maluku Tenggara. Kalau kita membuat diagram delapan arah mata angin, maka sebelah barat arah mata angin tenggara sesungguhnya lebih tepat dan dekat dengan selatan, bukan Tenggara Barat. Bisa jadi Maluku Tenggara Barat yang beribukota di Saumlaki memikul beban sejarah, akibat Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) tahun 1950. Ketimbang memiliki identitas Kabupaten Maluku Selatan yang dapat dikait-kaitkan dengan RMS, lebih baik menjadi Kabupaten Maluku Tenggara Barat, mungkin begitu kira-kira pikir pendiri kabupaten ini.

Citra Kota

DOB yang memiliki nomeklatur sama dengan nomeklatur daerah induknya semula cenderung tidak mampu membangun kota mandiri. Keberadaannya selalu berada dalam bayang-bayang daerah induknya semula. Paling tidak, publik akan terbolak-balik mengenang identitas Pekalongan sebagai Kabupaten atau Kota, begitu juga Magelang, Blitar, Tasikmalaya, Tangerang atau Bekasi. Belum lagi bila dikaitkan dengan potensi unggulan daerah, meliputi identitas emosional, komersial, hingga karakter kunci (key attributes). Sebagai citra kota (brand city), identitas unggulan daerah dapat menjadi polemik antardaerah yang memiliki identitas abu-abu (gray area) ini. Meskipun sejumlah kalangan cenderung bersikap pragmatis, bahwa persoalan citra kota seharusnya tidak menjadi perdebatan ketimbangan usaha-usaha taktis menyejahterakan rakyat. Usaha membangun identitas baru ini pula tampaknya yang mendorong Kota Batu di Jawa Timur tidak memilih identitas Kota Malang Barat, meskipun ia berada di sebelah barat dan merupakan DOB Kabupaten Malang tahun 2001 lalu.

Mengubah nomenklatur nama daerah juga bukan tidak mungkin dilakukan, meskipun tentu akan menghadapi tantangan berat dari sejumlah pihak. Soal nomenklatur nama kota dengan mudah bergeser menjadi persoalan identitas, sejarah, dan harga diri daerah yang akan diperjuangkan secara sedumuk bathuk senyari bumi, adagium klasik Jawa yang secara bebas bermakna meskipun sedikit (dilanggar/dihina) namun kepala seseorang, meskipun secuil yang diambil namun tanah leluhur. Soal harga diri wilayah ini pula yang membuat sengketa wilayah atas Pulau Berhala antara Kabupaten Tanjung Jabung dan Provinsi Jambi dengan Kabupaten Lingga dan Provinsi Kepulauan Riau berlarut-larut hingga kini.

Meskipun sulit, perubahan nomenklatur daerah telah banyak dilakukan. Diantaranya Kabupaten Sarolangaun Bangko yang dimekarkan sehingga bertambah menjadi Kabupaten Sarolangun tahun 1999. Menariknya, nomeklatur Kabupaten Sarolangan Bangko justru kemudian diubah menjadi Kabupaten Merangin, padahal kabupaten ini semula daerah induk. Baik Kabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Sarolangun memilih berbagi identitas, menjadi Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin. Begitu juga Kabupaten Kepulauan Riau. Tak ingin nomenklaturnya identik dengan Provinsi Kepulauan Riau, kabupaten ini berganti nama menjadi Kabupaten Bintan. Identitas Kabupaten Bintan dapat lebih strategis menjadi citra kota baru yang lepas dari bayang-bayang Kepulauan Riau.

Moratorium pemekaran wilayah masih terus diperjuangkan pemerintah, meskipun dimaknai setengah hati oleh DPR. Kalaupun harus terbentuk DOB, sudah selayaknya soal identitas, utamanya nomenklatur nama kota DOB tersebut menjadi salah satu pertimbangan DPD, DPR dan Pemerintah.

*Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Dimuat Lampung Post, Kamis, 14 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: