Merayakan Bahasa Nasional, Mengakrabi Bahasa Ibu: “Curhat” Anak Muda Penutur Bahasa Nasional

April 6, 2011

Mengapa usaha-usaha mempopulerkan dan melestarikan bahasa ibu tak pernah benar-benar sukses, utamanya bagi anak muda yang sejak lahir bertutur menggunakan bahasa nasional? Padahal rupa-rupa kongres bahasa ibu telah digelar, kebijakan pemerintah daerah memasyarakatkan bahasa ibu juga tak kurang-kurang. Mengapa harus anak muda? Tak salah lagi, karena anak mudalah, terutama yang sejak kelahirannya berkomunikasi dengan bahasa nasional sejatinya sasaran program pelestarian bahasa ibu.

Saya tak hendak mendikotomikan antara golongan muda dan golongan tua dalam oposisi binner yang kaku. Tua dan muda, dalam konteks ini pun tak selalu bermakna lapis usia (kohort). Golongan tua dapat disebut sebagai kelompok orang yang bertutur dalam bahasa ibu sejak kelahirannya. Atau dapat juga diperluas maknanya sebagai kelompok orang yang pernah bertutur menggunakan bahasa ibunya, namun sekarang lebih banyak menggunakan bahasa nasional. Sedang golongan muda saya maknai sebagai kelompok orang yang sejak kelahirannya menggunakan bahasa nasional sebagai pengantar berkomunikasi sehari-hari. Meskipun tentu saja, terdapat kelompok anak muda yang telah dibiasakan menggunakan bahasa ibu sejak dini, yang kita tahu pasti, jumlahnya (sangat) sedikit sekali.

Saya perlu mendudukan kategori ini karena saya mendapati usaha-usaha melestarikan bahasa ibu diinisasi oleh golongan tua, yakni kelompok orang yang bertutur, atau pernah bertutur menggunakan bahasa ibunya. Tengok saja Ajip Rosidi, yang gigih mempopulerkan bahasa ibu, utamanya sastra melalui penerbitan dan penghargaan bertajuk Hadiah Sastra Rancage. Atau, usaha sejumlah pemerintah daerah di tanah air yang menginisiasi pelajaran bahasa daerah dan program wajib berbahasa daerah pada hari-hari tertentu. Boleh saya generalisasi, usaha-usaha ini dipelopori oleh golongan tua. Tentu, konklusi dari realitas ini tidak serta merta akan berbunyi: pelibatan generasi muda. Mengafirmasi pelestarian bahasa ibu kepada golongan muda tentu tak sesederhana melibatkannya, apalagi hanya dalam seremoni kongres, atau rapat-rapat pengambilan kebijakan.

Kekhawatiran saya, bahasa ibu tergelincir maknanya menjadi semacam glorifikasi. Masa lalu lebih baik ketimbang hari ini. Saya merasakannya sebagai anak muda yang ‘dipersalah-salahkan’ karena tak berkomunikasi dengan bahasa ibu. Sebagai ilustrasi, saya adalah keturunan Jawa yang lahir dan dibesarkan di Sumatera, seturut kakek yang menjadi transmigran tahun 1961. Ketika beranjak dewasa, saya mulai bersinggungan dengan wacana perlunya kita melestarikan bahasa daerah. Saya mengimaninya, dan berusaha menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari. Namun membuat kebiasaan baru, terutama dalam berbahasa sulitnya bukan main. Satu hari saya pernah menggugat ayah saya: mengapa tak membiasakan kami menggunakan bahasa ibu. Ayah saya tak mampu menjawabnya, kecuali mengatakan bahwa bahasa nasional telah menjadi lingua franca hari ini. Saya dapat memahaminya. Kami yang tak lahir di mana bahasa ibu kami digunakan secara massif, membutuhkan lingua franca, yang telah dipilihkan pemuda kita tahun 1928 lalu.

Saya tak ingin kasus saya yang tak dibiasakan berbahasa ibu, terjadi pula pada keturunan saya. Meskipun tak setampan Nicholas Saputra, saya memberanikan diri merumuskan sejumlah kriteria bagi calon istri saya. Salah satunya tentu saja: mahir berbahasa ibu. Beberapa saat setelah memiliki seorang puteri kini, nyatalah bagi saya bahwa tanggungjawab saya untuk membiasakan puteri kami berbahasa ibu terancam gagal. Kadang saya berpikir bahwa kemampuan berbahasa termasuk salah satu jenis kecerdasan linguistik. Apalagi tuntutan zaman menghendaki kita dapat berbahasa macam-macam: bahasa nasional dalam pergaulan formal, bahasa ibu di rumah dan lingkungan komunal, bahasa inggris sebagai bahasa asing internasional, dan bahasa-bahasa asing lain sebagai komplemen.

Sebagai kecerdasan linguistik menurut Hipotesis Umur Kritis (Crytical Age Hypotesis) proses membahasa bagi seorang anak efektif terjadi ketika usia belia. Artinya, periode emas proses literasi di mana kemampuan anak untuk bertutur menggunakan satu atau beberapa bahasa sebagai bahasa ibu dengan kemampuan seperti penutur asli lebih mungkin terjadi pada anak-anak. Krashen menyebut usia ideal tersebut antara usia 4-5 tahun. Sedang Lenneberg (1967) menyebut antara usia 12 tahun hingga beranjak dewasa (Anggarini, 2010).

Kekhawatiran saya yang lain apakah sudah pernah didiskusikan dengan serius dalam rupa-rupa kongres bahasa kita, bagaimana anak-anak muda terimpit dalam situasi yang sama sekali tak nyaman ini. Saya kira kebanyakan peserta kongres dan perumus kebijakan pemassalan bahasa ibu adalah kelompok pengguna bahasa ibu, atau pernah menggunakan bahasa ibu. Bagaimana dengan kelompok anak muda yang tak bersinggungan dengan bahasa ibunya semenjak lahir? Niat menggunakan bahasa ibu besar, namun begitu sulit mempraktikannya ketika bahasa ibu tak menjadi bahasa sehari-hari bagi publik. Bagaimana dengan pelajaran bahasa daerah, jurusan sastra dan bahasa daerah di perguruan tinggi atau kebijakan penggunaan bahasa daerah pada hari-hari tertentu? Tak membantu banyak. Mengundang anak muda dalam perumusan kebijakan pun belum tentu dapat merumuskan formula yang paling tepat. Anak muda yang mengalami kondisi ini, belum tentu dapat merumuskan keinginannya. Dapat merumuskan keinginan pun belum serta merta dapat merumuskannya dalam rencana aksi (action plan).

Harga Persatuan

Setiap tahun laju kematian bahasa daerah semakin meningkat. Dalam perspektif orisinalitas kebudayaan realitas ini layak ditangisi. Namun dalam diskursus kebangsaan, kematian bahasa ibu merupakan keniscayaan dan harga yang harus dibayar. Penetapan Bahasa Indonesia—yang berakar dari Bahasa Melayu—menjadi bahasa nasional telah melalui proses yang panjang. Meskipun Tahun 1928 para pemuda telah menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional baru pada Tahun 1930 secara keilmuan diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I yang berlangsung periodik hingga kini. Hasil-hasil kongres biasanya disertai dengan naskah istilah-istilah baru yang telah diindonesiakan. Hal ini menunjukan bahwa Bahasa Indonesia merupakan ‘bahasa hidup’ yang selalu mereproduksi diri, berbeda dengan Bahasa Latin sebagai ‘bahasa mati’; bahasa yang tidak lagi menyerap bahasa asing karena sudah tak digunakan lagi sejak abad 19. Begitu juga dengan Bahasa Sanskerta yang tak memiliki masyarakat pendukungnya lagi.

Bangsa Indonesia merupakan sedikit dari bangsa yang memiliki bahasa nasional, lebih istimewa lagi bahasa nasional yang digali dari kebudayaannya sendiri. Meski di Indonesia terdapat sekira 400 sukubangsa, Bangsa Indonesia boleh berbangga berhasil memiliki bahasa nasional. Berbeda misalnya dengan Bangsa Cina, yang jumlah  sukubangsanya tidak sebanyak Indonesia namun kesulitan menentukan bahasa nasional. Atau negara-negara Amerika Latin bekas jajahan Spanyol maupun Portugis, lebih memilih menggunakan bahasa negara penjajahnya ketimbang menggunakan bahasa nasional yang diambil dari bahasa daerahnya sendiri. Timor Timur dapat menjadi contoh dalam kasus ini. Mereka bukan menggunakan Bahasa Tetun sebagai Bahasa Daerah Timor, melainkan menggunakan Bahasa Portugis.

Bangsa Indonesia pun masih harus berupaya keras memasyarakatkan bahasa nasionalnya, bahkan hingga kini. Pada Tahun 1950-an Presiden Soekarno berupaya memasyarakatkan bahasa nasional di lingkungan pemerintahan sehari-hari, karena pada masa itu banyak pegawai pemerintahan—termasuk Bung Karno sendiri—masih menggunakan Bahasa Belanda maupun Bahasa Daerah. Pada Tahun 1972, Presiden Soeharto merumuskan Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Secara regional, EYD bahkan disepakati antara Indonesia dan Malaysia akan dijadikan bahasa resmi di wilayah Asia Tenggara. Seiring dengan perkembangannnya, masing-masing bangsa ini menggunakan bahasanya ‘sendiri-sendiri’. Bangsa Indonesia sendiri pun sangat tidak taat pada EYD, sehingga lahirlah bahasa gaul, bahasa prokem, kaidah bahasa salah-kaprah, bahasa serapan asing yang tidak sesuai kaidah, hingga bahasa digital (sms dan email) yang kemudian sangat berpengaruh dalam bahasa lisan dan bahasa tutur bangsa.

Bukan Kuno

Kalau kemudian bahasa ibu tidak banyak lagi digunakan sebagai bahasa sehari-hari tidak melulu karena generasi muda enggan menggunakannya. Bukan pula karena generasi muda menganggapnya sebagai bahasa kuno yang boleh ada di jaman Majapahit—sebagaimana dituduhkan ‘generasi tua’ dan ‘banyak pihak’. Generasi muda tidak menggunakan bahasa ibu karena tidak memiliki preferensi yang cukup di saat generasi tua juga tidak menggunakannya.

Afirmasi, termasuk afirmasi-bahasa lahir karena berbagai sebab. Secara umum afirmasi lahir karena adanya tujuan bersama, pun sebaliknya terdapat musuh bersama (common enemy). Kita perlu belajar dari masyarakat keturunan etnis Cina yang menjadi penduduk Indonesia namun masih setia berbahasa Cina, menggunakan aksara Cina—masih banyak koran berbahasa Cina yang terbit misalnya—maupun mengembangkan kebudayaan Cina lainnya—kesenian hingga kuliner. Ikhtiar ini dilakukan dalam kerangka eksistensi kelompok. Mereka yang jumlahnya terbatas, perlu menguatkan identitas, harga diri, hingga menjadi rentang romantisme dengan tanah leluhur. Kondisi eksistensialis semacam ini tidak tumbuh di kalangan warga pengguna bahasa ibu, termasuk generasi mudanya terutama karena mereka tidak merasa sebagai minoritas, apalagi komunitas yang terancam eksistensinya.

Kalau sudah begitu, langkah taktis apa yang perlu dilakukan anak muda dalam melestarikan bahasa ibunya ketika mengisi abad 21 ini? Menjadi anak muda yang berbahasa nasional, namun tak lupa bahasa ibunya, sekaligus menguasai bahasa asing, tentu ideal. Namun idealita tak selalu berbanding lurus dengan realita. Saya, anak muda tak berbahasa ibu semenjak kelahirannya adalah salah satu contohnya.

Febrie Hastiyanto; Ayah seorang puteri yang telah tiga generasi berbahasa nasional dan terancam gagal berbahasa ibu.

Dimuat Sastra Digital, Edisi 9 April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: