Archive for April, 2011

Untung Ada -Nya

April 20, 2011

Dalam bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang saya tumpangi dalam perjalanan mudik ke Lampung, saya berkenalan dengan seseorang yang duduk di sebelah saya. Kami berkenalan, kemudian bercerita banyak hal, mengisi waktu perjalanan yang mulai menjemukan. Mungkin karena merasa telah akrab, kenalan baru saya itu bertanya: rumahnya di mana mas? Saya tertegun sejenak, meskipun mengerti maksudnya. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Identitas Daerah Otonom Baru

April 14, 2011

Kualitas pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) yang digugat M.M. Gibran Sesunan dalam artikelnya Salah Arah Otonomi Daerah (Lampost, 12/4) merupakan realitas yang menarik untuk didiskusikan. Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) atau pemekaran wilayah menurut istilah yang umum bagi publik dianggap sebagai salah satu cara mendorong akselerasi pembangunan daerah. Hal ini dapat dimaklumi, karena wilayah-wilayah perbatasan, atau kawasan yang jauh dari ibukota kabupaten atau kota acap kali dianaktirikan dalam pembangunan. Padahal pembangunan yang diharapkan memerlukan waktu yang panjang dari sekedar seremoni pembentukan DOB. Agenda-agenda utama pasca pembentukan DOB justru dianggap menguntungkan elite politik lokal (perebutan posisi kepala daerah dan anggota legislatif), pejabat birokrasi (penempatan pos jabatan birokrasi), hingga kontraktor (pembangunan sarana perkantoran dan infrastruktur dasar kota). Tak heran, Pemerintah melalui presiden mengajukan opsi moratorium pemekaran wilayah, sembari mengevaluasi perkembangan DOB yang ada mengingat sejak tahun 1999 hingga akhir tahun 2008 telah terbentuk 205 DOB. Baca entri selengkapnya »

Kos, Kontrak, Sewa

April 7, 2011

Kita mengenal istilah yang berbeda untuk satu konteks pemanfaatan ruang dan bangun milik orang lain yang berbayar. Semasa kuliah dulu, sebagai mahasiswa rantau saya mondok di rumah seseorang. Jadilah saya disebut anak kos. Pada masa itu, awal tahun 2.000, kos ditulis kost, sebagai kependekan dari in de kost. In de kost menurut wikipedia merupakan frase dari Bahasa Belanda yang artinya ’makan di dalam’, istilah yang kemudian digunakan bagi seorang yang tinggal di rumah orang lain dengan membayar menurut jangka waktu tertentu, umumnya bulanan sebagaimana tulis Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI). KBBI mengindonesiakan in de kost menjadi indekos. Baca entri selengkapnya »

Merayakan Bahasa Nasional, Mengakrabi Bahasa Ibu: “Curhat” Anak Muda Penutur Bahasa Nasional

April 6, 2011

Mengapa usaha-usaha mempopulerkan dan melestarikan bahasa ibu tak pernah benar-benar sukses, utamanya bagi anak muda yang sejak lahir bertutur menggunakan bahasa nasional? Padahal rupa-rupa kongres bahasa ibu telah digelar, kebijakan pemerintah daerah memasyarakatkan bahasa ibu juga tak kurang-kurang. Mengapa harus anak muda? Tak salah lagi, karena anak mudalah, terutama yang sejak kelahirannya berkomunikasi dengan bahasa nasional sejatinya sasaran program pelestarian bahasa ibu. Baca entri selengkapnya »