Mas Toni Blank Show dan Keindonesiaan Kita

Maret 16, 2011

Apa yang anda bayangkan bila bertemu seorang yang tidak sehat jiwanya, atau dalam bahasa yang kurang santun kita sebut orang gila; dan terlantar pula? Sebagian besar dari kita, termasuk saya tentu saja, akan berpikir sedapat mungkin tidak ingin berhubungan dengan mereka, serta sedikit menyesalkan di mana pemerintah yang abai dan absen. Namun bagi anak-anak muda kreatif dari Jogja, yang menamakan dirinya X Code Films, orang yang tidak sehat jiwanya ini justru diberi panggung, diwawancarai dan direkam menjadi video klip. Seorang penghuni Panti Rehabilitasi Sosial milik Dinas Sosial Yogyakarta yang mengidap schizoprenia bernama Toni adalah bintang panggungnya. Toni, oleh X Code Films dibuatkan video klip yang mereka sebut Mas Toni Blank Show dalam durasi sekira 5 menit dan diunggah periodik setiap Kamis malam pukul 20.00 di facebook dan youtube.

Lalu, bagaimana seharusnya kita memaknai Mas Toni Blank Show? Mula-mula, Mas Toni Blank Show tentu saja dimaknai sebagai hiburan; entertainment karena statemen-statemen Mas Toni atas banyak hal terdengar lucu. Lucu karena jawaban-jawaban Mas Toni terkesan ngawur, logika kalimat terbolak-balik, serta diksi campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ketika ditanya realitas Pemilu kita, Mas Toni secara meyakinkan menjawab: “suatu government yang bajik ramah tamah senyum dan tidak bisa diadudomba atau diceraiberai mereka tetap memilih dan de fakta, atau kebenaran, atau nilai yang nyata menurut nilai kualitas lahir atau kerja, atau  poin yang murni natural give, yang tidak bisa di-touching dengan intimidation negative work.” Jawaban yang lebih panjang dapat kita dengar ketika Mas Toni menerangkan apa itu koruptor, yakni: “suatu nilai, nilai awal dasar yang mempunyai pasang surut yang tidak menentu antara pemasukan dan pengeluaran yang selalu, selalu disembunyikan dalam suatu nilai, nilai yang tak pasti, atau nilai facts, atau nilai fikif, nilai yang selalu nyata dibikin tidak nyata sehingga mempunyai suatu kesimpangsiuran”.

Seorang Sufi

Lebih dari sekedar hiburan dan usaha kreatif anak muda, tampaknya kita harus mendudukkan Mas Toni Blank Show sebagai sebuah pertanda dalam keindonesiaan kita. Setidaknya Mas Toni Blank Show dapat dimaknai sebagai delegitimasi bagi penguasa. Publik sudah mulai bosan dengan bahasa elite politiknya, sehingga mereka mencari alternatif agitasi dari Mas Toni. Pola ini juga pernah dilakukan beberapa kali oleh mahasiswa Jogja. Mereka tidak berdemonstrasi di Perempatan Kantor Pos Besar atau Perempatan Tugu Pal Putih sebagaimana biasanya, tetapi berdemonstrasi di Kebun Binatang Gembiraloka. Mereka mengeluhkan persoalan-persoalan bangsa kepada bangsa hewan, diantaranya terdapat burung Merpati, yang dianggap jujur dan tak pernah ingkar janji.

Mas Toni Blank Show sesungguhnya bukan sesuatu yang baru sebagai media mengekspresikan kritik kepada elite politik dan penguasa. Emha Ainun Nadjib dalam banyak artikelnya pada tahun 1990-an menggunakan tokoh Kiai Sudrun sebagai subyeknya. Kiai Sudrun dengan segera dipersepsikan publik sebagai seorang sufi, yang “agak-agak kurang waras.” Mengkritik penguasa yang bebal memang lebih taktis bila menggunakan subyek atau memanfaatkan pola “tokoh sufi yang sedikit kurang waras”. Pola ini juga digunakan dalam banyak anekdot Nasrudin Hoja, dan Abu Nawas yang kita kenal dalam cerita seribu satu malam. Penguasa akan tersindir secara halus, dalam kelucuan-kelucuan yang dihadirkan. Atau setidaknya kita dapat menertawakan kelucuan perilaku kita bersama-sama.

Statemen-statemen Mas Toni juga tidak melulu tak bermutu. Kalau kita percaya, saudara kita yang tidak sehat jiwanya sebagai jiwa yang jujur dan tanpa pretensi, maka sesungguhnya statemen Mas Toni adalah ekspresi kejujuran publik itu sendiri. Dalam logika kalimat dan pilihan kata yang terbolak-balik, sesungguhnya kita dapat menangkap kejernihan jiwa Mas Toni. Pada banyak statemennya misalnya, ia sering mengulang-ulang idiom “nilai” dan “kinerja”. Kedua idiom ini sesungguhnya problem bangsa ini. Nilai-nilai keindonesiaan, moralitas, kejujuran, atau kesetiakawanan sosial kita hari ini misalnya, sedang diuji. Begitupun kinerja pemerintahan kita, yang diharapkan publik lebih cekatan menyelesaikan persoalan bangsa, masih diharapkan publik lebih keras dan berdedikasi lagi dari kerja-kerja 24 jam pemerintahan yang selama ini tidak pernah tidur.

Pada isu korupsi yang pelan-pelan menggerogoti bangsa ini menuju kehancuran, Mas Toni berpesan: “kepada bapak-bapak government kali ini saya himbau jangan coba-coba mengulangi suatu koruptor yang ada di dalam keluargamu, di dalam kantormu, dan jangan mencoba-coba menyebarkan suatu nilai koruptor, kasihan anak-anakmu.” Juga, kepada generasi muda Mas Toni tidak lupa memberi petuah: “belajarlah, lebih baik belajar mencari suatu nilai, nilai yang pasti yang mempunyai kehidupan adil dan makmur, yang sama-sama dari awal dasar tidak mempunyai suatu skipping uang sehingga mempunyai continue terbaik untuk mengisi, menghidupi keluarganya secara membantu mencarikan karya inspiration solution menurut by design kesehatan ekonomi dunia.” Dan ketika ditanya kesimpulan statemennya pada video klip Indonesiaku, Mas Toni mengatakan: to lovely somebody cool lover work, work we in the world, naturally give thick commander government saving that allright school. Memang benar-benar saparatozz dan pro love, sebagaimana dua idiom yang sering diucapkan Mas Toni dan artinya hanya diketahuinya sendiri. Blank!

*Febrie Hastiyanto; Blogger. Bergiat pada Kelompok Studi Idea.

Dimuat Harian Joglo Semar, Senin 15 Maret 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: