UU Baru dan Masa Depan Parpol

Februari 25, 2011

Dalam buku-buku pengantar ilmu politik disebutkan bahwa fungsi partai politik setidaknya ada lima: agregasi politik, artikulasi politik, pendidikan politik, rekruitmen politik dan sosialisasi politik. Fungsi agregasi dan artikulasi ini yang kemudian memberikan legitimasi teoritik bagi partai politik untuk menjadikannya lembaga yang mengantarkan seseorang menjadi kepala negara atau kepala daerah, termasuk calon anggota legislatif. Namun dalam diskusi-diskusi menjelang pengesahan RUU mengenai Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik menjadi Undang-Undang, tampaknya publik lebih banyak menyoroti aspek-aspek syarat pendirian dan verifikasi partai politik calon peserta Pemilu yang dijadwalkan mulai berlangsung 17 Januari 2011 nanti. Padahal, UU Partai Politik seharusnya mampu mengelola fungsi-fungsi partai politik semisal artikulasi dan pendidikan politik, tidak hanya semata-mata soal pemilu atau pemilukada belaka.

Apalagi, Mahkamah Konstitusi telah membatalkan Pasal 56 ayat (2) serta Pasal 59 ayat (1), (2), dan (3) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang memungkinkan seorang mencalonkan diri menjadi kepala daerah melalui jalur perseorangan (independen). Belum selesai sampai di sini, MK mengeluarkan keputusan lagi membatalkan Pasal 214 UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota yang mengatur bahwa calon legislatif yang memperoleh suara terbanyak akan ditetapkan menjadi anggota legislatif.

Masa Depan Parpol

Dalam perkembangannya, dua keputusan MK ini semakin mengecilkan peran parpol, setidaknya menjadikan parpol bukan lagi satu-satunya lembaga yang memiliki wewenang menentukan dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilu legislatif. Kemungkinan adanya calon independen membuat parpol harus berusaha lebih keras meyakinkan calon pemilih, terutama bila calon independen memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi dan sumber daya finansial yang cukup. Calon independen cenderung dapat memenangkan pilkada secara instan, tidak perlu membentuk struktur kepengurusan permanen, dan tidak perlu melakukan kaderisasi yang panjang sebagaimana halnya parpol. Mekanisme suara terbanyak semakin memperpendek peran parpol. Seorang dapat terpilih bahkan tanpa campur tangan parpol.

Selama ini publik terbentur pada teori politik yang selama ini kita kenal dan masih dipelajari di sekolah dan kampus. Yaitu pada pilihan bentuk negara kita yang republik dan menganut sistem demokrasi (perwakilan). Dalam sistem ini, partai politik menjadi perantara antara rakyat dan negara (pemerintah). Peran partai politik ini kemudian dilembagakan secara teoritik menjadi fungsi partai, yaitu untuk melakukan agregasi, artikulasi, pendidikan, rekruitmen dan sosialisasi politik. Fungsi agregasi dan artikulasi ini yang kemudian menjadi legitimasi teoritik bagi partai politik untuk menjadi satu-satunya lembaga yang berhak mengajukan calon kepala daerah.

Hadirnya calon independen dalam Pilkada dan bukan tidak mungkin dalam Pilpres mendatang telah menggugurkan teori (partai) politik dan sistem politik kita yang selama ini ada. Secara keilmuan, restrukturisasi teori ini harus dilakukan, karena teori pada dasarnya selalu berubah dalam dinamika sosial masyarakat yang kompleks. Masyarakat kampus, sebagai masyarakat yang dipercaya untuk melahirkan teori-teori sebagai ‘pengabdiannya’ kepada masyarakat harus mulai merumuskan teori baru bagi partai politik, meliputi peran, fungsi dan kedudukan partai politik dalam teori politik secara umum, maupun dalam sistem politik kita. Karena, keputusan MK soal calon independen ini bukan hanya berimplikasi pada partai politik, bakal calon kepala daerah, broker politik atau rakyat pemilih tetapi juga telah mengubah teori (partai) politik yang selama ini kita kenal.

Dampak paling nyata bagi tergerusnya kewenangan parpol ini adalah semakin tidak menariknya parpol bagi kadernya sendiri. Dampak yang paling mengkhawatirkan bagi eksistensi parpol adalah apabila tidak banyak lagi kadernya yang mau menjadi pengurus parpol. Pengalaman Pemilu 2004 dan 2009 dengan mekanisme penetapan suara proporsional terbuka maupun suara terbanyak terbukti menurunkan antusiasme kader menjadi pengurus. Dalam hitung-hitungan politik, seorang lebih memilih menjadi Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC, atau DPC) di tingkat kecamatan ketimbang menjadi Pengurus Dewan Pimpinan Cabang nonketua (DPC atau DPD) di tingkat kabupaten. Elektabilitas Ketua PAC terhitung lebih berakar ketimbang menjadi presidium DPC untuk posisi-posisi ketua bidang, wakil sekretaris atau wakil bendahara. Kecenderungan ini secara simultan juga berpengaruh pada level DPD (atau DPW), dan DPP. Kondisi ini terjadi karena selama ini seorang kader berminat menjadi pengurus parpol termasuk dipengaruhi keinginan untuk menjadi caleg jadi nomor urut atas yang mekanismenya ditentukan parpol.

Peran Parpol

Dari lima fungsi parpol yang ada, terlihat nyata bila parpol hanya memainkan peran tak jauh dari urusan pemilu, atau pemilukada. Peran parpol untuk melakukan pendidikan politik, rekrutmen politik dan sosialisasi politik dalam konteks perkaderan anak bangsa sangat terbatas. Bila kondisi ini tidak disikapi, keberadaan parpol semakin terpinggirkan dalam wacana keseharian masyarakat. Peran organisasi kemasyarakatan (ormas) terlihat lebih nyata ketimbang keberadaan parpol. Peran pengabdian masyarakat sejumlah ormas misalnya membuat mereka memiliki sekolah, rumah sakit, panti sosial dan anak yatim, lembaga perkreditan rakyat, dan pendampingan bagi anggotanya. Parpol harus berani meluaskan perannya sebagaimana ormas dengan mendirikan lembaga-lembaga pemberdayaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat ketimbang berkutat soal nomor urut, contreng, dan unjuk rasa menolak hasil pemilu maupun pemilukada.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Dimuat Waspada, Kamis 24 Februari 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: