Dosa dalam Bahasa

Februari 10, 2011

Sebagai anak kandung kebudayaan, bahasa bukan sesuatu yang bersifat non etis alias bebas nilai. Preferensi sistem nilai seseorang memungkin pemilihan kata tertentu, juga dengan maksud-maksud tertentu. Saya tak hendak mendiskusikan preferensi ini secara benar atau salah menurut kaidah Bahasa Indonesia yang benar, namun hendak memotret realitas kebahasaan secara sosiologis belaka.

Dalam banyak pidato atau sambutan, kita sering mendengar frase: ‘kurang dan lebihnya mohon maaf’. Termasuk frase ‘sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih’. Frase pertama berpotensi sumir, dan perlu sejumlah penegasan: mengapa ia harus minta maaf? Atas kekurangan apa, juga terhadap kelebihan yang mana. Begitu juga pernyataan terimakasih. Sesudah apa, dan sebelum bagaimana.

Kalimat-kalimat ini lahir dalam konteks kesantunan berbahasa. Sudah kita ketahui bahwa bangsa kita terhitung sebagai bangsa yang moderat, cenderung menghindari konflik. Termasuk konflik yang mungkin timbul sebagai ekses pidato yang baru disampaikan. Kita terlalu takut ‘berdosa’ sehingga sebelum ‘pelanggaran’ terjadi, cepat-cepat kita ‘putihkan’ dengan upaya meminta maaf dan mengucapkan terimakasih. Padahal kata ‘maaf’, umumnya diucapkan setelah kesalahan dilakukan. Terimakasih juga biasanya disampaikan setelah pertolongan diberikan.

Kalimat ‘kurang dan lebihnya mohon maaf’ saya kira lebih tepat disampaikan menjadi ‘mohon maaf bila terdapat hal yang kurang berkenan’. ‘Hal yang kurang berkenan’ jelas merujuk pada tutur kata dan lagak lagu saat berpidato yang mungkin tak dapat diterima semua pendengar. Begitu juga ‘sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih’ dapat disampaikan lebih tegas menjadi ‘atas perhatian Saudara saya sampaikan terimakasih’. Bila pidato akan ditindaklanjuti dengan rencana tindak tertentu frasenya dapat dilengkapi menjadi ‘atas perhatian dan kerjasama Saudara saya sampaikan terimakasih’.

Begitu juga dengan pilihan pada kata ‘insya Allah’. Secara sederhana kata yang diserap dari Bahasa Arab dan dipengaruhi oleh sistem nilai agama Islam ini dapat diartikan sebagai ‘jika Allah menghendaki’. Kata ini digunakan melengkapi penegasan kalimat-kalimat yang memiliki makna janji. Seorang telah berjanji, namun di luar janjinya ia memasrahkan kepada Tuhan, atas hal-hal yang mungkin terjadi pada dirinya sehingga janji tak mampu ditunaikan. Namun hari ini, makna insya Allah secara efektif digunakan sebagai penegasan bahwa janji yang telah diikrarkan, sangat mungkin akan dilanggar, dan kita yang dijanjikan agar ‘harap maklum’. Tidak sedikit juga yang menjadikan idiom insya Allah sebagai frase penolakan ketika diminta untuk berjanji. Penolakan menggunakan frase insya Allah menyelamatkan kita dari ketidaksantunan menghindari janji. Kita pun sudah seharusnya mafhum, bila ada orang berjanji dan mengucapkan insya Allah dalam konteks ini, dapat dimaknai sebagai ‘gak janji deh…’.

Untuk alasan-alasan ‘menghindari dosa’, tidak sedikit kita menggunakan idiom insya Allah untuk sesuatu yang sebenarnya telah pasti terjadi, dan kita yakin mampu mengingatnya. Seorang sahabat saya, yang saya tahu telah sarapan beberapa waktu sebelumnya, suatu ketika ditanya kakaknya yang baru tiba dari luar kota: sudah sarapan? Sahabat saya itu tak ragu menjawab: insya Allah sudah. Saya tak menganggap sahabat saya ini melanggar kaidah bahasa. Saya mengapresiasinya bila ia memilih kata tersebut dalam konteks religiositas. Namun saya menyayangkan bila ia menggunakan kata tersebut karena takut berdosa sebab berbahasa.

*Febrie Hastiyanto; Pegiat kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Dimuat Lampung Post, Rabu, 9 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: