Prestasi SBY sebagai Manusia

Februari 7, 2011

Bangsa kita hari-hari belakangan ini sedang sensi: sensitif. Kita menuntut pemerintah segera bersikap, berbuat untuk memecahkan persoalan bangsa. Namun setiap tindakannya pula kita komentari secara sinis. Selalu kurang memuaskan, selalu keliru. Saat harga cabai merangkak naik tak terbeli, kita dengan ringan memaki. Bangsa kita secara efektif telah menjadi bangsa yang gemar hal-hal ekstrem. Kalau mencintai sesuatu atau seseorang kira rela berkelahi, kalau perlu sampai mati. Namun kalau sudah membenci, kita simpan menjadi dendam berkarat dalam hati.

SBY dan pemerintah hari ini sudah pasti masih banyak kekurangannya dan karena itu oleh sebagian tokoh dianggap berbohong belum mampu mewujudkan janji kampanyenya. Namun menyebut SBY tak berprestasi sama sekali tentu keliru. Saya sama sekali bukan pendukung SBY. Seandainya Megawati atau JK menjadi presiden kita hari ini dan berada pada kondisi yang serupa saya tetap akan menulis esai ini. Begitu juga bila kita tahun 2014 besok kita memiliki presiden baru, entah Cacamarica Hehe, Kapiten yang Mempunyai Pedang Panjang, atau Soleram Anak yang Manis, termasuk Irfan Bachdim sekalipun, saya tetap akan menulis esai ini. Kita harus mulai menahan diri agar tidak terjebak dalam pusaran sikap-sikap ekstrem. Mantan Presiden Soekarno dan Soeharto misalnya, pernah selalu salah di mata kita saat-saat terakhir kekuasaannya, namun segera menjadi selalu baik beberapa tahun kemudian, seolah sebagai manusia mereka tanpa cela.

Prestasi Anak Manusia

Kalau memang kita sulit mencari prestasi SBY sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan kita, bolehlah kita belajar dari prestasi SBY sebagai anak manusia. Untuk sampai pada kedudukannya saat ini SBY, sebagaimana halnya Soekarno, Soeharto, Habibie, atau Gus Dur tentulah memiliki prestasi yang lebih baik dari rata-rata kita. Termasuk Megawati yang telah memiliki modal sosial sebagai keturunan Soekarno. Sebagai Taruna Akabri misalnya, kita tahu tak semuanya menjadi jenderal, termasuk Brigadir Jenderal. Untuk menjadi Letnan Jenderal, sebelum kemudian menjadi Jenderal Kehormatan, tentulah SBY sebagai anak Pacitan memiliki prestasi, setidaknya dibanding teman-teman satu angkatannya.

Semangat berprestasi inilah yang seharusnya kita bangun dalam semangat kebangsaan yang mulai mengendur ini. Kritis terhadap pemerintahan tetap harus kita lakukan, namun sebagai anak bangsa kita juga perlu membangun prestasi-prestasi individu. Berprestasi dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan anak-anak kita di sekolah-sekolah kerap disebut sebagai ”usaha mengisi pembangunan”. Kalau harus meniru bagaimana SBY, atau Habibie berproses dengan tekun untuk menjadi yang terbaik di bidangnya, kenapa tidak.

Membaca biografi tokoh-tokoh nasional rasanya perlu dilakukan sejak dini. Seperti di Tegal, melalui proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan anak-anak sekolah di sana dikirimi buku-buku yang bertutur mengenai SBY. Anak Indonesia juga perlu mengenal presidennya. Mengenal pemimpinnya. Bagaimana ia sampai pada kedudukannya saat ini. Saran saya, buku-buku tersebut jangan dikembalikan. Jangan pula ditukar dengan judul lain. Reaksioner salah satu kriteria berpikir dan bertindak ekstrem. Tetapi anak-anak di Tegal perlu mendapat kiriman buku yang lebih banyak lagi. Bila buku ”Lebih Dekat dengan SBY” jumlahnya 10 judul, maka perlu dikirim 10 judul pula buku mengenai hari-hari dingin Habibie saat menuntut ilmu di Jerman dan sudah memiliki anak istri. Perlu ditambahkan 10 judul buku mengenai Sjahrir, yang kesepian di Digul, yang harus mengatasi kekhawatirannya bila tertangkap Kempetai saat melakukan gerakan bawah tanah ketika pendudukan Jepang di tanah air.

Juga buku-buku mengenai kemanusiaan seorang Soekarno. Bagaimana ia mencintai lukisan. Bagaimana ia memperlakukan seniman. Termasuk bagaimana kehidupannya di istana. Tak hanya buku-buku mengenai pemimpin. Buku-buku seperti Seorang Lelaki di Waimital yang ditulis oleh Hanna Rambe tahun 1983 kalau perlu dicetak ulang. Agar kita tahu bahwa ada seorang calon insyur, Muhammad Kasim Arifin namanya, yang sepi ing pamrih rame ing gawe itu. Penasaran dengan ceritanya? Mari sama-sama kita usulkan kepada Sinar Harapan agar menerbitkan ulang bukunya. Tak lupa kita pesankan kepada panitia Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan, entah itu di Kementerian Pendidikan Nasional atau di Dinas Pendidikan di daerah agar buku ini dimasukkan dalam daftar buku yang akan dibagikan kepada anak sekolah di seluruh Indonesia.

*Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi Idea.

Dimuat Lampung Post, Sabtu, 5 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: