Archive for Februari, 2011

UU Baru dan Masa Depan Parpol

Februari 25, 2011

Dalam buku-buku pengantar ilmu politik disebutkan bahwa fungsi partai politik setidaknya ada lima: agregasi politik, artikulasi politik, pendidikan politik, rekruitmen politik dan sosialisasi politik. Fungsi agregasi dan artikulasi ini yang kemudian memberikan legitimasi teoritik bagi partai politik untuk menjadikannya lembaga yang mengantarkan seseorang menjadi kepala negara atau kepala daerah, termasuk calon anggota legislatif. Namun dalam diskusi-diskusi menjelang pengesahan RUU mengenai Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik menjadi Undang-Undang, tampaknya publik lebih banyak menyoroti aspek-aspek syarat pendirian dan verifikasi partai politik calon peserta Pemilu yang dijadwalkan mulai berlangsung 17 Januari 2011 nanti. Padahal, UU Partai Politik seharusnya mampu mengelola fungsi-fungsi partai politik semisal artikulasi dan pendidikan politik, tidak hanya semata-mata soal pemilu atau pemilukada belaka. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Dosa dalam Bahasa

Februari 10, 2011

Sebagai anak kandung kebudayaan, bahasa bukan sesuatu yang bersifat non etis alias bebas nilai. Preferensi sistem nilai seseorang memungkin pemilihan kata tertentu, juga dengan maksud-maksud tertentu. Saya tak hendak mendiskusikan preferensi ini secara benar atau salah menurut kaidah Bahasa Indonesia yang benar, namun hendak memotret realitas kebahasaan secara sosiologis belaka. Baca entri selengkapnya »

Prestasi SBY sebagai Manusia

Februari 7, 2011

Bangsa kita hari-hari belakangan ini sedang sensi: sensitif. Kita menuntut pemerintah segera bersikap, berbuat untuk memecahkan persoalan bangsa. Namun setiap tindakannya pula kita komentari secara sinis. Selalu kurang memuaskan, selalu keliru. Saat harga cabai merangkak naik tak terbeli, kita dengan ringan memaki. Bangsa kita secara efektif telah menjadi bangsa yang gemar hal-hal ekstrem. Kalau mencintai sesuatu atau seseorang kira rela berkelahi, kalau perlu sampai mati. Namun kalau sudah membenci, kita simpan menjadi dendam berkarat dalam hati. Baca entri selengkapnya »