Pola Gerak Gerakan Mahasiswa

Januari 17, 2011

Nadia Raissofi H menulis artikel Memetakan Kembali Gerakan Mahasiswa (Lampost, 13-1) yang menarik untuk ditanggapi. Meskipun memilih frase ‘memetakan kembali’ dalam artikelnya, alternatif gerakan yang diusulkan Nadia justru meneguhkan pola gerak yang selama ini ada, atau setidaknya menguatkan persepsi publik terhadap Gerakan Mahasiswa yang ‘seharusnya’.

Dalam dinamika geraknya, setidaknya terdapat empat karakteristik utama Gerakan Mahasiswa dari masing-masing periode: memanfaatkan momentum; vis a vis negara; bersifat ekstraparlementer; serta merupakan elan status, artinya gerakan hanya terjadi ketika seseorang berstatus mahasiswa, bukan menjadi gaya hidup ketika seseorang tak lagi menjadi mahasiswa. Karakteristik paling khas dari catatan sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia adalah posisi gerakan yang setia berada di wilayah ekstraparlementer. Gerakan Mahasiswa mengandaikan dirinya sebagai pandito dalam konsep relasi cendekiawan-penguasa yang diadopsi dari tradisi pemerintahan feodal Jawa terutama pada abad-abad pertengahan. Sebagai pandito Gerakan Mahasiswa hanya ‘turun gunung’ di saat negara dalam kondisi chaos di mana proses rekonsiliasi membutuhkan campur tangan golongan pandito.

Tuntutan-tuntutan utama yang melahirkan tradisi gerakan pun hampir sama, menarik garis demarkasi yang tegas dengan pihak-pihak yang melakukan penindasan atas rakyat. Kebetulan ‘pihak-pihak yang paling sering melakukan penindasan terhadap rakyatnya sendiri’ diidentifikasi sebagai negara. Karena itu Gerakan Mahasiswa seringkali disederhanakan sebagai ‘gerakan yang asal berseberangan dengan penguasa’. Bahwa ‘berseberangan dengan penguasa’ seperti menjadi ideologi populisme gerakan.

Gerakan yang bersandar pada momentum pada akhirnya akan kelelahan, sesaat setelah momentum lewat dan berganti. Hal ini juga yang terjadi misalnya pada Gerakan Mahasiswa 1998. Karena momentum itu pulalah, Gerakan Mahasiswa 1998 mengempes seperti balon yang kehilangan udaranya tidak lama setelah jatuhnya Presiden Soeharto. Gerakan Mahasiswa 1998 tidak mampu lagi mengelola kemarahan rakyat yang telah terakumulasi dan lampias. Pada periode ini Gerakan Mahasiswa 1998 pun telah kehabisan banyak energi berbulan-bulan mengelola kemarahan rakyat. Partai Rakyat Demokratik (PRD) misalnya, salah satu pemain paling penting dalam Gerakan Mahasiswa 1998 tidak mampu membangun loyalitas dan kekuatan ide-ide revolusionernya untuk diterapkan pasca Pemilu 1999. PRD bahkan tidak mampu memenuhi kuota electorald threshold dalam Pemilu 1999. Tragisnya, PRD tidak lolos verifikasi dalam Pemilu 2004 meskipun telah berganti nama menjadi Partai Oposisi Rakyat (Popor).

Pemain-pemain lain dalam Gerakan Mahasiswa 1998 belum ada yang sempat mematerialisasi ide-ide perlawanan dalam regulasi yang mengikat atas nama negara. Kondisi ini sebenarnya keluhan standar dalam tradisi panjang Gerakan Mahasiswa Indonesia yang memposisikan diri berada di luar kekuasaan. Akibatnya, segenap regulasi menjadi wilayah wewenang pemegang kekuasaan, di mana mahasiswa tidak turut di dalamnya. Pemain utama Gerakan Mahasiswa 1998 segera tenggelam kiprahnya beberapa waktu setelah ‘kemenangan pembuka’ Gerakan Reformasi berhasil diraih.

Tidak ada yang salah, karena Gerakan Mahasiswa memang sebuah kontinuitas gerak. Aktivis boleh berganti, strategi dan taktik dapat saja berubah, varian penindasan dapat saja lebih cantik, tetapi spirit perjuangan tidak akan pernah pudar. Karena seperti yang diungkapkan Yozar Anwar, mantan Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat: Gerakan Mahasiswa akan selalu hadir dalam dunia yang masih dikotomik. Artinya bila ada kelompok yang menindas, Gerakan Mahasiswa akan melakukan perjuangan akselerasi bagi kaum yang tertindas. Begitu juga bila terdapat kelompok yang kaya, sudah menjadi tanggung jawab moral bagi Gerakan Mahasiswa untuk membela kaum yang miskin.

Karena itu formulasi pola gerakan menjadi keharusan bagi Gerakan Mahasiswa untuk tetap mewarnai dinamika kehidupan berbangsa. Sudah saatnya gerakan mulai berpikir untuk ‘berjuang dalam bentuk lain’. Tidak melulu dalam gerakan ‘asal berseberangan dengan penguasa’ maupun ‘gerakan yang selalu berimplikasi politik’. Merumuskan orientasi baru perjuangan sebagai ‘Gerakan Mahasiswa Masa Damai’ misalnya menjadi penting terutama saat gerakan tidak dapat membesarkan dirinya dalam kondisi dan momentum yang tidak datang-datang. ‘Gerakan Mahasiswa Masa Damai’ ini dapat berwujud gerakan intelektual dalam arti yang seluas-luasnya.

Pengamat, teori, atau penelitian, sejatinya turut memprovokasi Gerakan Mahasiswa untuk setia bermain di wilayah ‘yang memiliki implikasi politik’ sebagai akibat dari gerakannya. Tidak ada misalnya, genealogi Gerakan Mahasiswa diulas dari kiprah kejuangan di bidang reformasi teknologi; perlawanan hebat dalam menghasilkan varietas unggul di bidang pertanian; revolusi mahasiswa kedokteran melakukan riset bagi tersedianya obat-obatan murah bagi masyarakat; juga usaha terus menerus, sakit dan berdarah-darah mengembangkan ilmu pengetahuan alam, dan kesenian. Rupa-rupanya sebagian besar—kalau tidak semua—dari Kita masih menganggap politik sebagai ‘segala-galanya’ dan seksi pula.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Dimuat Lampung Post, Senin 17 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: