Bangsa Dua Suku Kata

Januari 5, 2011

Bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang gemar bergosip, nyaris banyak omong. Namun seringkali malas melafalkan kata-kata yang panjang. Akibatnya, bangsa kita menjadi bangsa yang efektif memenggal kata sesuka hati, sekaligus produktif menciptakan rupa-rupa akronim. Menariknya, baik pemenggalan kata maupun akronim dilakukan untuk membentuk kata baru yang umumnya terdiri dari dua suku kata.Coba tengok nama-nama kota di Indonesia. Kota-kota yang namanya tersusun lebih dari dua suku kata, dengan segera kita penggal, semaunya. Tanjung Karang dan Teluk Betung misalnya, dengan segera menjadi Karang dan Teluk dalam pelafalan sehari-hari. Begitu juga dengan Tasik(malaya) atau Banjar(negara) di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berbeda dengan Solo, Medan, Bandung atau Kupang yang memang terdiri dari dua suku kata sehingga dilafalkan secara utuh. Bisa jadi banyak anak-anak kita hari ini menganggap Yogya (dilafalkan Jogja) sebagai satu kata utuh lupa pada ‘Karta’, sebagai bagian integral identitas Yogya.

Tak hanya kota, seringkali nama sesorang yang terdiri lebih dari dua kata dipenggal, untuk efisiensi bercakap-cakap. Ketika PRRI meletus di pedalaman Sumatera antara tahun 1958-1961 misalnya, masih banyak orang-orang tua Minang kesulitan menyebut nama Soekarno, sehingga dipendekkan menjadi Suno. Saya mendapat informasi ini dari Carl Chairul setelah membaca novelnya Ketika Merah Putih Terkoyak (Gramedia, 2001).

Bila tak dipenggal, apa boleh buat: terciptalah akronim. Dengan segera kita mengenal Bandar lampung sebagai Balam. Disusul Kotabumi sebagai Kobum. Nama jalan apatah lagi. Jalan Jenderal Soedirman yang hampir pasti ada di setiap kota, dengan segera menjadi Jensu, atau Jensud. Di Kotabumi, Jalan Gotong Royong menjadi Gotro. Di Jakarta, meski saya tak familier karena jarang bertandang ke sana, di televisi saya sering mendengar Jalan Otto Iskandardinata Pahlawan Nasional kita dari Jawa Barat menjadi Jalan Otista, Jalan Bendungan Hilir menjadi Benhil, tak jarang ditulis Benhill. Idiom-idiom yang membawa imaji kita pada nuansa ‘barat’, dan ‘bule’, penyakit lama yang lain dari bangsa kita.

Identitas kota-kota kita bertabur kata terpenggal atau akronim. Bandara Soekarno Hatta melalui introduksi running text televisi swasta nasional oleh sebab efisiensi ruang diakronimkan menjadi Bandara Soetta. Bandara sendiri merupakan akronim dari bandar udara, akronim yang oleh anak-anak kita hari ini telah dianggap sebagai kata yang utuh. Bandar udara sebelum diakronimkan sebagai bandara dahulu disebut pelabuhan udara, diakronimkan menjadi pelud. Pada tahun sebelum 1970-an, baik terminal udara, laut, maupun bus, disebut pelabuhan, mejadi pelabuhan udara, pelabuhan bus atau pelabuhan laut. Orang-orang tua di kampung saya di Way Kanan, hingga hari ini seringkali terpeleset lidah menyebut terminal kecamatan sebagai pelabuhan (bus).

Lalu sebenarnya, adakah kaidah dari akronim dan pemenggalan kata? Saya kira pemenggalan kata tak ada kaidahnya. Namun akronim jelas ada. Namun tak sedikit orang yang beranggapan pembentukan akronim bersifat arbitrer alias berdasarkan kesepakatan pemakai bahasa itu sendiri.  Golongan yang sepakat dengan epistemologi arbitrer berpendapat bahwa akronim telah lebih dahulu lahir ketimbang kaidah berbahasa yang secara resmi diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (PUEYD) dan Pedoman Umum  Pembentukan Istilah (PUPI) pertama kali tahun 1978.

Menurut Hardjoprawiro, Guru Besar Ilmu Bahasa Indoensia UNS Solo, mengutip PUEYD dan PUPI pembentukan akronim didasarkan pada kaidah: (a) akronim nama diri berupa gabungan huruf awal masing-masing kata yang disingkat, ditulis dengan huruf kapital, semisal TNI atau PMI, (b) akronim nama diri berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf yang disingkat, ditulis dengan huruf kapital pada awal kata seperti Pramuka, Dindikpora, serta (c) akronim yang bukan nama diri terdiri dari gabungan huruf, suku kata maupun gabungan keduanya ditulis dengan huruf kecil, misalnya bandara, armed.

Masih dalam PUEYD dan PUPI, dalam pembentukan akronim perlu diperhatikan: (a) jumlah suku kata akronim tidak melebihi suku kata yang lazim dalam Bahasa Indonesia, serta (b) akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Persoalan justru muncul karena kaidah PUEYD dan PUPI tak ketat mengatur pembentukan akronim. Tampaknya PUEYD dan PUPI lebih mengatur soal penulisan huruf kapital pada awal akronim bentukan baru. Selebihnya kaidah penggabungan dua kata atau lebih tidak dijelaskan terperinci apakah pemenggalannya memiliki pola, semacam konsistensi. Bila dipenggal dua huruf pertama pada kata pertama, maka kaidah ini berlaku pula pada kata-kata selanjutnya. Begitu juga bila pemenggalan dilakukan di tengah atau akhir kata, baik dipenggal berdasarkan huruf maupun suku kata. Melalui konsistensi ini, Bappeda yang selama ini kita kenal sebagai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah mestinya diakronimkan menjadi Bapepeda.

Terobosan hukum sebagai ‘pasal penyelamat’ bahkan diberikan oleh PUEYD dan PUPI dalam catatan penting PUEYD dan PUPI, yakni akronim dibentuk  dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim. Secara sederhana kaidah ini memberi ruang bagi terbentuknya akronim yang ‘enak didengar’. Jadi, sudah berapa akronim yang telah anda buat hari ini?

Febrie Hastiyanto;  Pegiat Kelompok Studi IdeA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Dimuat dalam Laras Bahasa Lampung Post,  Rabu, 5 Januari 2010



2 Tanggapan to “Bangsa Dua Suku Kata”

  1. mashar Says:

    Tulisan yang bagus. Untuk menambah wawasan kita tentang berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya merasakan sendiri ketika menjadi konsultan yang sering berhubungan dengan pemerintah. Banyak akronim yang muncul, dibuat suka-suka:
    KIBBLA, Tupoksi, Simatupang, Jaring asmara, jumantik, bides, linakes, bulin, buteki, bufas, dll…

    • hastiyanto Says:

      Trims pak. Saya hanya memotret realitas yang terjadi sehari-hari saja. saya sudah punya stok 6 tulisan lagi tentang bahasa. akan saya posting setelah dimuat media. tunggu saja, he-he-he.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: