Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola

Januari 3, 2011

Saya terhitung orang yang tak menyukai sepak bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang melingkupinya, air mata yang tertetes, dan euforia superter yang dapat kita baca dari unggahan status di facebook.

Sepak bola merupakan gelanggang kemanusiaan yang dipentaskan secara populer. Sepak bola hari ini bukan lagi sekedar olah raga ‘mencari keringat’, namun lebih dari itu: nasionalisme, kejayaan, dan bisnis, diaduk-aduk penuh haru. Johan Huizinga sejak jauh hari (1938) menengarai perilaku manusia yang suka akan permainan sebagai kajian sosiologi. Bila perang dianggap sebagai bagian dari ‘sistem bermain’ manusia, apatah sepak bola. Azyumardi Azra, salah satu intelektual muslim kita pernah menulis di Kompas pada momentum Piala Dunia 2006 lalu tentang indikasi sepak bola telah menjadi ‘agama’ baru. Sayang, ingatan saya lamat-lamat soal artikelnya. Yang saya ingat sepak bola memiliki umat, yakni fans yang ‘rela berjihad’ untuk kejayaan sepak bola; memiliki ulama, yakni wasit sebagai penjaga otoritas religiositas sepak bola; memiliki pesantren, yang sudah jelas dapat ditebak: Sekolah Sepak Bola; memiliki ormas, baik yang ‘garis keras’, maupun yang ‘moderat’ dalam representasi klub yang memainkan teknik menghalalkan segala cara hingga permainan cantik a la total football, maupun permainan samba. Pendeknya, dalam sepak bola semua ada.

Petang menjelang, gelap mulai turun. Kami menyimak pertandingan demi pertandingan. Umumnya saya menyimak dengan tekun, tak peduli tim apa yang bermain. Saya mengidolakan Takeshi Okada, pelatih Jepang yang tenang, dan dingin. Bukan karena kemampuannya mengocok komposisi pemain bintang untuk bertanding, tapi gayanya yang kalem itu. Saya tak pernah berteriak ketika gol tercipta, meskipun saya bukan tak senang atau apriori dengan mereka yang merayakan gol dengan euforia. Saya seratus persen menghargai bagaimana orang merayakan kemenangannya, ekstase yang didapat, dan selebrasi sebagaimana Roger Milla mendemonstrasikannya di lapangan.

Sebagai sosiolog-amatir saya justru suka memperhatikan tingkah para suporter kita, baik yang menonton live di stadion, menonton bareng di kafe atau kos-kosan, menonton di rumah, atau mengomentari via status facebook. Saya suka membayangkan bagaimana kira-kira perasaan suporter-suporter itu. Bagaimana sistem nilai yang ia anut soal sportivitas, aturan permainan, juga penghargaan atas lawan. Saya membayangkan bagaiamana hidupnya di jalani seharian ini, apakah diimpit utang, dimarahi atasan, takut-takut dosa karena menilap uang yang bukan haknya, atau sedang marahan dengan pacar yang membuatnya menemukan kanal untuk melampiaskannya atas nama sepak bola. Individualitas karakter suporter menjadi anonim justru ketika dibawa ke ruang publik. Anonimitas suporter menjelma menjadi energi untuk membuat orang dapat berbuat apa saja, bahkan mengeyampingkan sejenak sistem nilai individualnya untuk kemudian berlindung pada riuh rendah selebrasi suporter lain yang crowded.

Saya senang memperhatikan suporter yang siap mati demi tim kesayangannya. Suporter yang membangsat-bangsatkan wasit, termasuk suporter yang mempekok-pekokkan pemain. Juga suporter yang atraktif dalam gaya dan busana. Saya juga suka mengamati bagaimana suporter menilai jalannya pertandingan. Membedah peluang gol, dan bagaimana gol tercipta. Pendeknya sepak bola menjadi panggung bagi sosiolog, untuk kembali membuka teori-teori dramaturgi Erving Goffman soal frontstage dan backstage. Serta konsep diri ‘I’ dan ‘me’ yang dilansir George Herbert Mead. Juga bila dikaji sebagai id dalam konsep diri Sigmund Freud di samping ego dan superego.

Saya mengapresiasi gol-gol indah yang terjadi, berbeda dengan istri saya yang bergembira bila tim kesayangannya berhasil menyarangkan gol ke jaring lawan, tak peduli bagaimana gol itu dibuat. Sepanjang saya membaca buku-buku mengenai sepak bola, gol disebut indah bila dikocek sejak jauh dan mampu menjebol pertahanan lawan. Permainan Diego Maradona pada babak perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko antara Argentina dan Inggris sering disebut gol terindah sepanjang masa. Maradona berhasil menggocek bola, dan mempermainkan 5-6 pemain Inggris sebelum melesakkan bola ke gawang yang dijaga Peter Shilton. Gol juga disebut indah dari tendangan pojok bersambut sundulan cantik. Atau tendangan jarak jauh di luar garis pinalti yang melesak sukses, syukur-syukur seperti tendangan pisang David Beckham yang diributkan banyak fisikawan kita dan diprotes kiper-kiper karena sulit ditebak maunya.

Selama saya mengikuti ulasan sepak bola, tragika yang menyertai selalu lebih menarik ketimbang permainan bola bundar itu sendiri. Kisah-kisah gol tangan Tuhan Maradona, hilangnya piala Jules Rimet di Piala Dunia Inggris 1966, ambisi Hitler dan Mussolini dalam Piala Dunia 1934, tewasnya pemain Kolombia Andres Escobar setelah melakukan gol bunuh diri dalam Piala Dunia 1994 sejatinya merupakan sejarah yang melengkapi tragi sepak bola. Karena itu pula, saya tak ribut ketika Frank Lampard pada pertandingan 16 besar Jerman versus Inggris mencetak gol yang tak diakui wasit. Pemanfaatan teknologi, seperti kata bos FIFA Sepp Blatter bahwa teknologi akan mereduksi kemanusiaan sepak bola saya sepakati diam-diam dalam hati. Bagi saya, lebih baik kita meributkan sepanjang masa kontroversi sepak bola ketimbang menonton pertandingan rigid, yang berserah pada teknologi. Marah, sesal, air mata, cacian, tandukan Zidane, adalah ekses sepak bola yang perlu dirayakan. Tanpa itu semua, saya berjanji tak akan menonton Piala Dunia lagi. Meski berbeda cara menikmati Piala Dunia, saya selalu mencintai istri saya. Sungguh.

*Febrie Hastiyanto; Penikmat perilaku penonton sepak bola. Bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal.

Dimuat Pikiran Rakyat, Senin 20 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: