Menakar Radikalitas Gerakan Mahasiswa

Desember 16, 2010

Demonstrasi mahasiswa hari-hari belakangan ini sedang disorot publik. Berungkali demonstrasi mahasiswa berujung bentrok. Sejumlah pihak menyebutnya sebagai indikator bahwa Gerakan Mahasiswa semakin radikal. Terdapat pula analisis mengapa demonstrasi mahasiswa seringkali berakhir dengan baku hantam. Misalnya analisis psiko-lapangan, yakni baku hantam terjadi karena semata-mata konsekuensi dari ‘kondisi lapangan yang tidak terduga’. Meski dapat diterima, tesis psiko-lapangan saja belum cukup menjelaskan mengapa Gerakan Mahasiswa mengambil sikap ‘siap’ bentrok dengan aparat.

Tidak Selalu Huru-Hara

Analisis radikalitas Gerakan Mahasiswa dengan mendasarkan pada ‘pencapaian gerakan’ dalam aksinya yang berujung bentrok tentu masih berupa analisis yang dini. Jika kita meninjau tradisi Gerakan Mahasiswa di Indonesia, radikalitas ternyata tidak selalu ditunjukkan dengan kekerasan (benturan fisik). Radikalitas secara sederhana dapat dipahami sebagai ‘derajat perlawanan’ terhadap rezim yang tidak pro rakyat, karena Gerakan Mahasiswa mentasbihkan dirinya sebagai pembela rakyat.

Radikalitas Gerakan Mahasiswa pada periode sebelum kemerdekaan—dalam buku pelajaran sejarah dikategorikan termasuk dalam ‘gerakan pemuda’ meski aktivisnya berstatus mahasiswa—misalnya, radikalitas dapat dilihat dari pilihan atas dua sikap: cooperasi, dan non cooperasi. Gerakan yang bersikap non co dianggap radikal meskipun pola geraknya tidak menggunakan kekerasan (perjuangan fisik). PKI yang memberontak tahun 1926/1927 dianggap radikal, tetapi SI, PNI atau Ki Hajar Dewantara yang menulis artikel ‘Seandainya Saya Seorang Belanda’ atau sang kakak Suryopratomo yang dikenal sebagai ‘Raja Pemogokan’—tanpa kekerasan—juga dianggap radikal meski berjuang dengan tinta dan diam (baca: mogok).

Pada periode 1966 misalnya, Gerakan Mahasiswa dianggap radikal karena berani berbeda sikap dengan penguasa. Radikalitas Gerakan Mahasiswa ditandai dengan serangkaian demonstrasi hampir setiap hari, diantaranya memang berakhir bentrok dan menewaskan sejumlah mahasiswa dan pelajar yang kemudian kita anugerahi gelar Pahlawan Ampera. Pada periode ini, sayap pemuda sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan banyak melakukan stratak ‘perlawanan’ dengan kekerasan hingga pembunuhan aktivis partai komunis. Namun emblem gerakan radikal justru disematkan pada Gerakan Mahasiswa. Menjadi jelas, bahwa radikalitas Gerakan Mahasiswa diukur dari dua hal: derajat perlawanan dan derajat intelektualitas.

Karakteristik Gerakan

Selain tesis psiko-lapangan perlu ditambahkan analisis karakteristik gerakan untuk menjelaskan sebab ‘demonstrasi berujung bentrok’ pada Gerakan Mahasiswa. Gerakan Mahasiswa setidaknya memiliki tiga karakteristik utama: memanfaatkan momentum (reaksioner), vis a vis negara dan bersifat ekstraparlementer. Pilihan stratak demonstrasi setidaknya disebabkan empat hal: Pertama, kepada pihak dilawan (baca: penguasa) demonstrasi masih diyakini sebagai taktik-penekan yang efektif terutama bila dilakukan secara massif dan dengan besaran massa yang besar. Kedua, secara internal demonstrasi menjadi wahana konsolidasi antaraktivis sekaligus wahana eksistensi lembaga organisasi mahasiswa. Sudah jamak dalam Gerakan Mahasiswa bila organisasi mahasiswa tidak cepat merespons situasi, tuduhan bahwa Gerakan Mahasiswa ‘ada apa-apanya’ (baca: sudah ‘dibeli’ untuk diam) justru menguat. Demonstrasi menjadi jawaban taktis terhadap ‘tuduhan’ ini. Ketiga, kepada masyarakat, demonstrasi—apalagi berakhir bentrok—dapat membangkitkan solidaritas publik dan menjadi sikap perlawanan masyarakat (untuk mendukung mahasiswa). Karena itu bentrok yang terjadi bukan tidak mungkin telah direncanakan terlebih dahulu.

Alternatif Perlawanan

Karakteristik Gerakan Mahasiswa yang memanfaatkan momentum membuat Gerakan Mahasiwa menjadi reaksioner (sekaligus apriori). Pola ini dapat dicermati dari perspektif isu demonstrasi: menolak atau menuntut (pemenuhan atau pembatalan kebijakan). Padahal Gerakan Mahasiswa mestinya dapat melangkah menjadi ‘gerakan pelopor’ dengan isu demonstrasi: menawarkan. Pada banyak isu demonstrasi, Gerakan Mahasiswa baru bergerak ketika isu atau kebijakan beberapa saat lagi akan ditetapkan. Sangat jarang isu disikapi ketika sedang dirumuskan oleh pemerintah atau Dewan.

‘Gerakan pelopor’ yang dilakukan selama ini masih banyak bermain pada wilayah normatif dan seremonial (memanfaatkan momentum). Misalnya demonstrasi dengan isu mencintai lingkungan, umumnya memanfaatkan momentum Hari Bumi. Sesaat setelah seremoni usai, Gerakan Mahasiswa dengan cepat berganti isu. ‘Gerakan pelopor’ Gerakan Mahasiswa sebenarnya strategis untuk digarap. Misalnya berdemonstrasi menawarkan alternatif—yang sedapat mungkin runut, dan sistematis tidak sekedar bahasa jargon dalam poster demonstrasi—pada isu-isu aktual yang sedang terjadi.

Febrie Hastiyanto; mantan Ketum LAPMI HMI Cabang Solo (2004-2005).

Dimuat Waspada, 1 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: