Archive for Desember, 2010

Jogja Memang Tidak (Di)istimewa(kan)

Desember 21, 2010

Dari sejumlah artikel sambung-menyambung yang dimuat Lampung Post mengenai polemik keistimewaan di Yogyakarta, sebut saja artikel Keistimewaan untuk Yogyakarta yang ditulis Oyos Saroso H.N (4/12), atau Sri Margana yang menulis Monarki yang Melahirkan Demokrasi (6/12) dan Mengangkat Keistimewaan Rakyat oleh Syafarudin (6/12) saya menilai artikel yang ditulis Syafarudinlah yang paling menarik untuk didiskusikan. Setidaknya Syafarudin mengambil sudut pandang (angle) berbeda: tidak melulu bicara sejarah, filosofi, dan realitas sosiologis Yogyakarta yang katanya istimewa itu namun memulai inisiatif untuk merumuskan formulasi keistimewaan Yogyakarta di masa depan. Diskusi-diskusi kita sudah saatnya melangkah menjawab pertanyaan bagaimana Yogyakarta melaksanakan keistimewaannya, bukan mengapa Yogyakarta menjadi istimewa. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Menjaga Tradisi Batik Tegalan

Desember 21, 2010

Tak seperti saudaranya Batik Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Lasem dan belakangan Madura, Batik Tegalan hingga hari ini masih belum dikenal luas publik. Padahal Batik Tegalan memiliki karakteristik yang khas, mulai dari filosofi, motif, corak dan warnanya, sehingga ia diidentifikasi sebagai ‘Batik Tegalan’ yang berbeda dengan batik-batik lainnya. Sejumlah pihak mulai mengkhawatirkan perkembangan Batik Tegalan yang semakin tenggelam padahal ia belum sempat berkembang pesat—setidaknya hingga keluar daerah. Peran pemerintah daerah masih terbilang minimal, karena itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar Batik Tegalan dapat menyejajarkan dirinya dalam dunia perbatikan nasional. Baca entri selengkapnya »

Menakar Radikalitas Gerakan Mahasiswa

Desember 16, 2010

Demonstrasi mahasiswa hari-hari belakangan ini sedang disorot publik. Berungkali demonstrasi mahasiswa berujung bentrok. Sejumlah pihak menyebutnya sebagai indikator bahwa Gerakan Mahasiswa semakin radikal. Terdapat pula analisis mengapa demonstrasi mahasiswa seringkali berakhir dengan baku hantam. Misalnya analisis psiko-lapangan, yakni baku hantam terjadi karena semata-mata konsekuensi dari ‘kondisi lapangan yang tidak terduga’. Meski dapat diterima, tesis psiko-lapangan saja belum cukup menjelaskan mengapa Gerakan Mahasiswa mengambil sikap ‘siap’ bentrok dengan aparat. Baca entri selengkapnya »

Spiritualitas Magis Agama

Desember 6, 2010

Pada hampir setiap agama dan penghayat ketuhanan terdapat kerangka berpikir magis dalam relasi penyembahan umat kepada Tuhannya. Malinowski (1948) dalam bukunya Magi, Science and Religion menyebut fenomena ini sebagai respons atas ketidakpastian hidup umat dalam situasi ketegangan. Dalam tradisi bertuhan umat manusia—mulai dari animisme, dinamisme, fetisisme, politeisme, hingga monoteisme—magi ini terlembagakan dalam ritual-ritual doa. Doa adalah bentuk kerendahan hati umat manusia sekaligus pengakuan atas kekuatan dan kekuasaan Tuhan yang berkuasa dalam kehidupan alam semesta. Baca entri selengkapnya »